Ramadhan, Toleransi dan Motivasi

  • Bagikan

Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro
Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Setiap tahun, kita memasuki “madrasah” Ramadhan sebagai proses pemurnian jiwa. Namun, seringkali kita terjebak pada ritual fisik semata, menahan lapar dan haus tanpa menyentuh esensi terdalamnya: sebuah perjuangan untuk menyeimbangkan hidup (balancing of life) antara kebutuhan materi dan kekayaan spiritual.

Ramadhan: Medan Perang Melawan Diri Sendiri

Dalam strategi perang klasik, Sun Tzu mengenal pepatah “Know Your Enemy”. Di bulan suci ini, musuh terbesar bukanlah pihak luar, melainkan hawa nafsu yang bersemayam dalam diri. Setidaknya ada tiga potensi destruktif yang harus kita jinakkan: Nafsu Bahimaton (sifat kehewanan yang menghalalkan segala cara), Nafsu Sabuiyyaton (sifat kebuasan dan amarah), serta Nafsu Syaitoniyyah (kerakusan yang tak pernah merasa cukup).

Jika proses ini berhasil, kita tidak hanya sekadar menahan lapar, tetapi melahirkan kembali fitrah Al-Hanifiyah As-Samhah—sebuah karakter yang lurus, welas asih, dan visioner. Ramadhan adalah purgatorio (pemurnian) yang mengantarkan kita dari pribadi yang ego sentris menuju pribadi sosio sentris yang peka terhadap sesama.

Toleransi: Menemukan Keindahan dalam Perbedaan

Keberhasilan spiritual seseorang tercermin dari caranya memandang perbedaan. Sebagai makhluk sosial, interaksi antarmanusia tak jarang memicu gesekan. Namun, Islam mengajarkan moderasi dan keterbukaan terhadap keragaman keyakinan.

Seperti halnya bunga Tulip di Belanda yang menyatu untuk memperindah alam, demikian pula perbedaan di antara manusia seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun peradaban. Salah satu manifestasi tertinggi dari toleransi adalah “Kekuatan Memaafkan”. Mereka yang sulit memaafkan seringkali terjebak dalam depresi dan sulit menemukan ketenangan jiwa. Sebaliknya, pemaafan melahirkan kesehatan mental dan sistem imun yang lebih kuat.

Motivasi Hidup: Antara ‘Memiliki’ dan ‘Menjadi’
Di era modern yang didominasi materialisme, banyak manusia terjebak dalam modus having (memiliki)—di mana eksistensi diukur dari kelimpahan materi, kendaraan mewah, atau jabatan mentereng. Padahal, kemasan seringkali mengemuka tanpa substansi; mobil mewah seringkali lebih dinikmati oleh sopirnya ketimbang pemiliknya.

Erich Fromm menawarkan alternatif: modus being (menjadi). Pribadi yang berada dalam modus being adalah mereka yang lebih mengutamakan aktivitas batin, akal budi, empati, dan sikap saling berbagi. Sukses sejati dan kebahagiaan tidak melulu melekat pada gelar akademis, melainkan pada kualifikasi personal yang jujur, disiplin, dan mampu bergaul dengan siapa saja (get along with people).

Menjadi Pemenang Kehidupan
Sebagai penutup, Pemenang kehidupan adalah mereka yang tetap merasakan ketenteraman di tengah konflik dan tetap rendah hati di tengah keangkuhan. Hidup sukses bersumber dari kejujuran, ketangguhan, dan tanggung jawab.

Mari jadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk berbuat baik tanpa pretensi. Jika kita menanam tindakan yang baik, kita akan menuai kebiasaan; dari kebiasaan lahir karakter; dan dari karakterlah takdir kita terbentuk. Tetaplah bersyukur dalam setiap “cuaca” kehidupan, karena pada akhirnya, kita datang tanpa membawa apa-apa dan akan pulang hanya dengan membawa bekal pahala kebaikan. (*)

  • Bagikan