MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Dalam rangkaian kegiatan tadarus dan kultum yang dilaksanakan oleh Karantina Sulawesi Selatan selama ramadhan, terdapat kegiatan pembinaan mental pegawai yang mengangkat tema “Bekerja sebagai Ibadah dalam Meraih Keberkahan dan Profesionalisme.”
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus etos kerja aparatur. Selain para pegawai lingkup Karantina Sulawesi Selatan, acara yang dihelat di Aula Mabudatora pada Jumat (27/2/2026) juga dihadiri oleh purnabakti serta Dharma Wanita Persatuan (DWP) lingkup Karantina Sulawesi Selatan.
Hadir sebagai narasumber kegiatan, Deputi Bidang Karantina Ikan sekaligus Plt. Deputi Bidang Karantina Tumbuhan, Drama Panca Putra yang menekankan bahwa setiap aktivitas kehidupan pada hakikatnya adalah ibadah kepada Allah SWT.
Bekerja bukan sekadar menjalankan kewajiban tetapi bagian dari pengabdian yang bernilai pahala apabila diawali dengan niat yang lurus. Niat menjadi pondasi utama yang melahirkan kesabaran dalam menghadapi tantangan serta rasa syukur atas setiap hasil yang dicapai.
Disampaikan pula bahwa iman bertumpu pada dua hal, yakni sabar dan syukur. Kesabaran diperlukan dalam menjalani proses, sementara syukur menjadi kunci bertambahnya nikmat dan keberkahan. Ketika pekerjaan dijalankan dengan ikhlas, sabar, dan penuh rasa syukur, maka setiap tugas akan terasa lebih ringan dan bermakna.
Selain itu, Drama Panca Putra juga menyoroti pentingnya profesionalisme dalam membangun kepercayaan publik. Profesionalisme bukan hanya tentang kelengkapan SOP, tetapi juga tentang integritas, konsistensi, serta sikap saling percaya di antara rekan kerja.
Kepercayaan masyarakat terhadap institusi lahir dari sikap amanah dan kualitas kerja setiap individu. Dirinya juga menyampaikan bahwa penguatan nilai spiritual harus berjalan seiring dengan peningkatan kinerja.
“Kita ingin membangun institusi yang kuat bukan hanya dari sisi sistem dan regulasi, tetapi juga dari sisi karakter dan integritas sumber daya manusianya. Ketika bekerja diniatkan sebagai ibadah, maka profesionalisme akan tumbuh dengan sendirinya, karena kita merasa diawasi bukan hanya oleh atasan, tetapi juga oleh Allah SWT,” ujarnya.
la menambahkan bahwa budaya saling mengingatkan dalam kebaikan menjadi fondasi penting dalam menjaga marwah dan kredibilitas lembaga.
Sementara itu, Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah menegaskan bahwa kegiatan pembinaan mental pegawai saat bulan Ramadhan ini menjadi penguat kebersamaan sekaligus pengingat akan tanggung jawab moral sebagai pelindung sumber daya hayati.
“Kita menghabiskan sebagian besar waktu di kantor. Maka penting bagi kita untuk memastikan setiap langkah, setiap pelayanan, dan setiap keputusan yang kita ambil bernilai ibadah. Dengan niat yang benar, sabar dalam proses, serta syukur atas hasil, insya Allah kinerja kita akan membawa keberkahan bagi lembaga dan masyarakat,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sharing session mengenai cara memilih telur dan daging yang sehat dan layak konsumsi yang dipandu oleh drh. Disty Ayu Sekarsana. Edukasi ini menjadi bagian dari penguatan pemahaman internal terkait keamanan pangan, sejalan dengan tugas dan fungsi perkarantinaan dalam menjamin kesehatan hewan dan keamanan produk asal hewan.
Sebagai wujud kepedulian sosial di bulan Ramadan, kegiatan juga diisi dengan penyerahan bingkisan kepada para purnabakti. Momentum ini memperkuat nilai silaturahmi, kebersamaan, serta penghargaan kepada para senior yang telah mengabdikan diri. (Emi)








