PAREPARE, RAKYATSULBAR.COM – Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah ruang jeda untuk menilai arah, menguatkan niat, dan memperbaiki langkah. Dalam suasana itulah PLT Rektor Farida Patitingi menyampaikan pesan reflektifnya saat Kunjungan Kerja dan Safari Ramadhan 1447 H di Kampus V Parepare Universitas Negeri Makassar (UNM).
Pesan Prof.Farida sederhana, namun mengandung daya dorong yang kuat: setiap hari harus ada peningkatan positif. Tidak boleh ada penurunan semangat. Tidak boleh ada energi negatif yang meredupkan ikhtiar bersama.
Di tengah tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, pernyataan tersebut bukan sekadar motivasi seremonial. Ia adalah penegasan arah. Bahwa institusi sebesar UNM hanya akan tumbuh jika seluruh elemen bergerak dalam irama optimisme dan kerja nyata.
Namun, bergerak maju bukan berarti melupakan pelajaran masa lalu. UNM, tegasnya, harus terus melangkah dengan belajar dari pengalaman. Evaluasi bukan ruang untuk menyalahkan, melainkan fondasi untuk memperkuat pijakan.
Menjaga Batas, Merawat Etika
Dalam refleksi Ramadhan itu pula, muncul pesan moral yang penting: menyuarakan kebenaran adalah keniscayaan dalam dunia akademik, tetapi tidak boleh melampaui batas.
Kampus adalah ruang kebebasan berpikir, tetapi juga ruang etika. Kritik adalah bagian dari tradisi intelektual, namun harus berada dalam koridor nilai, adab, dan tanggung jawab moral. “Allah tidak menyukai hamba-Nya yang melampaui batas,” menjadi pengingat bahwa kebebasan selalu berjalan berdampingan dengan pengendalian diri.
Pesan ini relevan di tengah dinamika sosial yang sering kali dipenuhi polarisasi. UNM diharapkan menjadi contoh bahwa perbedaan pandangan dapat dirawat dalam persaudaraan, bukan dipertajam dalam permusuhan.
Pencetak Guru, Penjaga Masa Depan
Sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan, UNM memikul peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia bangsa. Guru bukan sekadar profesi, tetapi fondasi peradaban. Dari ruang-ruang kelas UNM, lahir pendidik yang kelak membentuk karakter generasi Indonesia.
Karena itu, mahasiswa UNM harus dipersiapkan menyongsong era baru—era transformasi digital, kompetisi global, dan perubahan sosial yang cepat. Penguatan kompetensi akademik, keterampilan adaptif, hingga profesionalisme dalam penampilan dan sikap menjadi bagian dari kesiapan menghadapi zaman.
Kampus dan Kepedulian Lingkungan
Refleksi itu juga menyentuh aspek yang kerap terabaikan: kepedulian terhadap lingkungan. Civitas akademika tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus menjadi teladan dalam merawat ruang hidupnya. Kampus yang bersih, tertata, dan lestari adalah cermin dari budaya akademik yang beradab.
Energi Kolektif
Di penghujung sambutannya, PLT Rektor menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan yang terbangun di UNM. Ia menyebut para dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa sebagai saudara dan sahabat yang luar biasa.
Dalam suasana Ramadhan, rasa syukur itu menjadi energi kolektif. Sebab pada akhirnya, kemajuan institusi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi oleh semangat orang-orang di dalamnya.
UNM hari ini bukan hanya tentang capaian akademik, tetapi tentang bagaimana merawat semangat dan menjaga batas. Tentang bergerak maju tanpa kehilangan etika. Tentang optimisme yang tidak berlebihan, dan kritik yang tidak melampaui nilai.
Ramadhan 1447 H menjadi pengingat: kampus yang besar adalah kampus yang terus bergerak, tetapi tetap tahu di mana batasnya.
Dan dari Parepare, pesan itu kembali diteguhkan. (*)








