Tumbilotohe

  • Bagikan

Oleh: Dr. Kaswad Sartono
Kakanwil Kemenag Prov. Gorontalo

GORONTALO, RAKYATSULBAR.COM – Malam ke-27 Ramadhan 1447 H bagi saya adalah malam yang sangat istimewa. Malam itu saya berkesempatan menghadiri sekaligus menyaksikan puncak Festival Tumbilotohe Hulonthalo Mulolo tingkat Provinsi Gorontalo tahun 2026/1447 yang dipusatkan di kawasan Blok Plan Perkantoran Provinsi Gorontalo.

Di tengah gemerlap ribuan cahaya lampu yang menyala serentak, saya kagum dan tertarik karena tradisi ini secara substansial bukan sekadar perayaan budaya, tetapi sebuah peristiwa “tajalli”, proses spiritual, sosial, dan peradaban.

Ketertarikan itulah, saya perlu mengabadikan momen ini, baik dalam pikiran dan memori, juga dalam tulisan dan rekam digital.

Secara bahasa, Tumbilotohe berarti “menyalakan lampu”, sebuah ungkapan sederhana yang menyimpan filosofi mendalam: menerangi kehidupan. Cahaya itu bukan hanya cahaya fisik yang menerangi malam, tetapi juga simbol cahaya iman, ilmu, kebersamaan, dan harapan.

Dalam sambutannya, Gubernur Gorontalo, Dr. Ir. H. Gusnar Ismail mengurai sejarah dan makna Tumbilotohe dari perspektif budaya dan keagamaan. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi harmonis antara budaya lokal Gorontalo dan syariat Islam. Ia lahir dari interaksi panjang antara nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Hulonthalo dengan ajaran Islam yang masuk dan berkembang di wilayah ini sejak berabad-abad lalu.

Cahaya Tradisi dalam Sejarah Islam Gorontalo

Secara historis, Tumbilotohe telah menjadi bagian dari kehidupan religius masyarakat Gorontalo sejak awal penyebaran Islam di daerah ini, tahun 1525. Pada masa itu, lampu-lampu dinyalakan sebagai tanda bahwa suatu keluarga telah menunaikan zakat fitrah menjelang Idul Fitri. Dalam versi lain, lampu-lampu tersebut juga berfungsi sebagai penerang jalan menuju masjid agar masyarakat dapat melaksanakan shalat tarawih dan ibadah malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil yang diyakini sebagai waktu turunnya kemuliaan Lailatul Qadar.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai ibadah bukan hanya sebagai hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga sebagai praktik sosial yang membangun gotong royong, solidaritas dan kesadaran kolektif.

Transformasi Tradisi: Dari Damar ke Cahaya Modern

Seiring perjalanan waktu, Tumbilotohe mengalami transformasi namun tanpa kehilangan ruh tradisionalnya. Dahulu, lampu yang digunakan adalah tohetutu yakni lampu damar sederhana yang dibuat dari getah pohon, beralih menggunakan botol bekas dengan bahan bakar minyak tanah. Kini, lampu-lampu itu dimodifikasi dengan teknologi listrik sehingga tampil lebih meriah, aman, dan artistik.

Namun demikian, esensi tradisi tetap dipertahankan. Pada puncak festival tahun ini, sekitar 7.500 lampu tradisional tetap dinyalakan di area festival dan di rumah-rumah penduduk. Pemandangan ini menghadirkan lanskap cahaya yang sangat khas, menjadikan Gorontalo seakan berubah menjadi lautan cahaya spiritual.

Tradisi ini bukan sekadar perayaan visual, tetapi simbol keberlanjutan budaya yang tetap hidup dalam arus modernitas.

Perspektif Moderasi Beragama

Dalam perspektif Kementerian Agama, tradisi Tumbilotohe memiliki titik temu yang sangat kuat dengan nilai moderasi beragama, sebagaimana sekaten di Jogjakarta, Tabuik di Pariaman, dan Maudu Lompoa di Cikoang Takalar Sulsel.

Moderasi beragama mengajarkan bahwa keberagamaan tidak harus memutus akar budaya, tetapi justru dapat tumbuh bersama kearifan lokal.

Tumbilotohe menunjukkan bagaimana agama dan budaya dapat bersinergi dan penyesuaian secara konstruktif. Nilai-nilai Islam seperti zakat, ibadah malam, dan solidaritas sosial diterjemahkan ke dalam simbol budaya yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Dalam kerangka moderasi beragama, tradisi ini mengandung beberapa nilai penting:

  1. Akomodasi terhadap budaya lokal
    Islam hadir bukan untuk meniadakan budaya, tetapi menyempurnakannya.
  2. Penguatan harmoni sosial
    Festival ini melibatkan seluruh masyarakat tanpa sekat sosial.
  3. Simbol kedamaian dan kebersamaan
    Cahaya lampu menjadi metafora bagi kehidupan yang terang, damai, dan penuh harapan.
  4. Religiusitas yang inklusif
    Tradisi ini tidak memunculkan eksklusivisme, tetapi justru memperkuat identitas kolektif masyarakat.

Perspektif Sosiokultural

Dari sudut pandang sosiologi budaya, Tumbilotohe adalah ritual kolektif yang memperkuat identitas masyarakat Gorontalo. Ia berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk mempererat solidaritas, menjaga kontinuitas nilai tradisi, dan meneguhkan identitas kultural di tengah arus globalisasi.

Ritual cahaya ini juga memiliki kekuatan simbolik bahwa masyarakat Gorontalo adalah masyarakat yang menghargai spiritualitas, kebersamaan, dan keindahan tradisi.

Perspektif Ekonomi dan Pariwisata

Dari sisi ekonomi, festival ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi dan budaya. Pemandangan ribuan lampu yang menyala serentak memiliki daya tarik visual yang kuat dan unik, bahkan berpotensi menjadi ikon nasional maupun internasional. Tergantung bagaimana tradisi malam hari ini dikelola secara profesional dan kolaboratif?

Jika dikembangkan secara terencana, Tumbilotohe dapat memberikan dampak ekonomi dan kesejahteraan yang signifikan melalui:

• peningkatan kunjungan wisatawan,
• pengembangan ekonomi kreatif,
• pemberdayaan UMKM lokal,
• serta penguatan citra Gorontalo sebagai daerah yang kaya tradisi spiritual.

Dengan pendekatan yang tepat, tradisi ini dapat menjadi bagian dari religious-cultural tourism yang memperkuat ekonomi sekaligus menjaga nilai-nilai kearifan budaya.

Cahaya Peradaban Gorontalo

Sebagai insan Kementerian Agama yang untuk pertama kalinya menyaksikan secara langsung festival ini, saya kagum dan merasakan bahwa Tumbilotohe bukan sekadar tradisi lokal. Ia adalah simbol peradaban. Pertemuan antara iman, budaya, dan kemajuan zaman.

Di tengah cahaya lampu yang menyala di seluruh penjuru provinsi, saya melihat pesan yang sangat kuat: bahwa masyarakat Gorontalo ingin terus menjaga terang kehidupan, menerangi jalan spiritualitas, sekaligus membangun masa depan yang lebih baik sesuai spirit Q.S al-Tahrim ayat 8.

Tradisi ini layak untuk terus dirawat, dikembangkan, dan dipromosikan sebagai ikon budaya dan spiritual Gorontalo menuju masa depan yang lebih bercahaya.

Sebuah tradisi yang tidak hanya menyalakan lampu, tetapi juga menyalakan hati, pikiran, kesadaran, dan peradaban.
Selamat & Sukses Festival Tumbilotohe Hulonthalo Mulolo 2026 M./1447 H. (*)

  • Bagikan