Amal yang Diangkat dan Hati yang Bergetar

  • Bagikan

Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM) 

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Di penghujung Ramadhan, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar detik yang berpindah, melainkan saksi yang diam-diam membawa seluruh amal menuju langit. Pada titik ini, manusia tidak lagi sibuk menghitung berapa banyak ibadah yang telah dilakukan, tetapi mulai gelisah tentang ke mana semua itu akan bermuara. Sebab yang paling penting bukanlah apa yang kita kerjakan, melainkan apa yang diterima.

Ada getaran halus dalam hati orang-orang yang sadar. Getaran itu bukan ketakutan biasa, melainkan kesadaran akan ketidaksempurnaan diri di hadapan Yang Maha Sempurna. Betapa shalat yang terasa khusyuk, bisa saja hampa di sisi-Nya. Betapa sedekah yang kita banggakan, bisa saja gugur karena riya yang tak kita sadari. Di sinilah hati mulai belajar rendah, menyadari bahwa amal bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dipertaruhkan.

Ramadhan mengajarkan bahwa amal adalah perjalanan vertikal, bukan sekadar aktivitas horizontal. Ia tidak berhenti di bumi, tetapi terus menanjak ke langit, melewati lapisan-lapisan yang tak kasat mata. Dalam perjalanan itu, amal diuji: apakah ia lahir dari keikhlasan, atau sekadar rutinitas yang dibungkus kebiasaan. Dan hanya yang murni yang akan sampai.

Ketika amal diangkat, sesungguhnya yang ikut terangkat adalah keadaan hati kita. Sebab amal hanyalah cermin dari apa yang tersembunyi di dalam dada. Jika hati penuh dengan cinta kepada Allah, maka amal akan ringan dan bercahaya. Namun jika hati dipenuhi kepentingan dunia, maka amal akan berat dan gelap, meskipun secara lahir terlihat indah.

Di sinilah rahasia kegelisahan itu muncul. Orang-orang saleh di masa lalu justru lebih takut setelah beramal daripada sebelum beramal. Mereka memahami bahwa ujian terbesar bukan pada saat melakukan kebaikan, tetapi setelahnya: apakah amal itu diterima atau ditolak. Ketakutan ini bukan melemahkan, melainkan menghidupkan kesadaran spiritual yang dalam.

Hati yang bergetar di akhir Ramadhan adalah tanda kehidupan. Ia seperti tanah yang basah oleh hujan, siap ditumbuhi benih-benih keikhlasan. Getaran itu adalah doa yang tidak terucap, permohonan diam-diam agar setiap sujud, setiap air mata, dan setiap bisikan dzikir tidak sia-sia. Sebab yang diharapkan bukan sekadar pahala, tetapi perkenan.

Di malam-malam terakhir, langit seakan lebih dekat. Bukan karena jaraknya berubah, tetapi karena tabir antara manusia dan Tuhannya mulai menipis. Dalam keheningan itu, hati yang jujur akan merasakan kehadiran yang sulit dijelaskan. Sebuah kedekatan yang tidak membutuhkan kata, cukup dengan rasa yang mengalir perlahan.

Namun, tidak semua orang merasakan getaran ini. Ada hati yang tetap tenang, bukan karena damai, tetapi karena lalai. Ia merasa cukup dengan amalnya, seolah-olah telah menunaikan seluruh kewajiban tanpa cela. Padahal justru ketenangan seperti itu bisa menjadi tanda bahaya, ketika manusia berhenti mengoreksi dirinya.

Ramadhan sejatinya bukan hanya tentang memperbanyak amal, tetapi memperhalus rasa. Ia mendidik manusia untuk peka terhadap dirinya sendiri: terhadap niat, terhadap tujuan, dan terhadap arah hidupnya. Maka ketika Ramadhan hampir pergi, yang tertinggal bukan hanya catatan amal, tetapi jejak perubahan dalam hati.

Amal yang diangkat akan menjadi saksi, bukan hanya di akhirat, tetapi juga dalam perjalanan hidup setelah Ramadhan. Ia akan menjelma menjadi kekuatan atau justru menjadi beban. Jika diterima, ia akan menuntun langkah menuju kebaikan berikutnya. Jika tidak, ia akan menjadi penyesalan yang diam-diam menggerogoti jiwa.

Karena itu, di ujung Ramadhan ini, manusia sejatinya berdiri di antara dua perasaan: harap dan cemas. Harap bahwa Allah menerima segala amal yang penuh kekurangan, dan cemas bahwa semua itu belum cukup untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Di antara dua rasa inilah iman menemukan keseimbangannya.

Akhirnya, yang tersisa bukanlah jumlah amal, tetapi getaran hati yang mengiringinya. Sebab boleh jadi amal yang sedikit namun tulus lebih berat di sisi Allah daripada amal yang banyak namun kosong. Maka biarlah Ramadhan pergi, tetapi jangan biarkan hati kembali beku. Jagalah getaran itu, karena di sanalah tanda bahwa jiwa masih hidup dan masih mencari Tuhan. (*)

  • Bagikan