Pembekalan itu disebut jadi bukti kesungguhan tim di lapangan, dengan tujuan agar seluruh tim SAR yang melakukan operasi di lapangan mampuh bertahan 2 hingga 4 hari di dalam hutan sekitar Gunung Bulusaraung.
“Sehingga ini mengefisienkan (waktu). Karena kita untuk naik ke Pos 9 saja itu sudah sehari,” sambung dia.
Dia menjelaskan bahwa strategi pencarian dibagi ke dalam beberapa tim dengan metode penyisiran tertentu, meski medan menjadi tantangan utama. Teknik operasi tersebut yakni ‘teknik obat nyamuk’, yaitu melingkari objek-objek yang dinilai korban ataupun black box berada. Walaupun pada kenyataannya di lapangan tidak semudah yang dibayangkan dikarenakan medannya yang cukup curam, ditambah di wilayah tersebut juga terus turun hujan deras dan kabut yang menutupi jarak pandang.
Dia mengungkapkan bahwa black box tersebut ditemukan oleh Tim 700, yang merupakan gabungan dari Basarnas dan TRC. Meskipun dalam operasi ini semua pihak ikut terlibat, baik yang turun langsung ke lapangan maupun yang melakukan pemantauan dari dari bawah.
“(Tapi tentu) ini bukan semata kerja mereka, ini adalah dorongan dari seluruh tim,” ucap dia.
Menurut Bangun, pada hari penemuan black box dan CVR kekuatan personel ikut ditingkatkan secara signifikan. Kekuatan personel yang dikerahkan dua kali lipat dari hari sebelumnya, yakni 16 tim. Delapan tim tidak bermalam di sekitar Gunung Bulusaraung, sementara delapan tim lainnya dikerahkan dari Posko AJU menuju ke titik.








