MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Dr. Masri Damang, S.E.I., M.A., yang saat ini menjabat sebagai Rektor Institut Kesehatan dan Teknologi Bisnis Menara Bunda Kolaka, resmi meraih gelar doktor setelah menjalani ujian promosi doktor di Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Rabu (28/1/2026).
Masri Damang menyelesaikan studi pada Program Studi Dirasah Islamiyah dengan konsentrasi Ekonomi Syariah. Dalam ujian terbuka tersebut, ia mempertahankan disertasi berjudul Pengaruh Islamic Work Value, Shariah Compliance, dan Institutional Leadership terhadap Islamic Philanthropy Governance dengan Tradisi Sangga-Sanggae Ulutumo Pekiki Inesamba sebagai Variabel Moderasi pada Lembaga Filantropi Islam Kolaka Sulawesi Tenggara.
Tim penguji dipimpin langsung oleh Wakil Direktur PPs UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. Hasyim Haddade, M.Ag dan melibatkan unsur penguji internal serta eksternal, termasuk promotor dan kopromotor.
Dalam hasil penelitiannya, Masri Damang menyimpulkan bahwa Islamic Work Value berpengaruh positif dan signifikan terhadap tata kelola filantropi Islam. Nilai kerja Islam yang menekankan amanah, integritas, dan prinsip stewardship dinilai mampu meningkatkan profesionalisme serta memperkuat akuntabilitas pengelolaan lembaga filantropi.
Selain itu, kepatuhan syariah juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Islamic Philanthropy Governance. Semakin tinggi tingkat kepatuhan pengelola lembaga filantropi terhadap prinsip-prinsip syariah, semakin baik pula kualitas tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas yang diterapkan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kepemimpinan institusional memiliki pengaruh positif terhadap tata kelola filantropi Islam. Kepemimpinan yang amanah, berintegritas, dan visioner dinilai mampu mendorong sinergi kerja dan memperkuat kinerja lembaga dalam menjalankan fungsi sosialnya.
Sementara itu, Tradisi Sangga Sanggae Ulutumo Pekiki Inesamba sebagai bentuk kearifan lokal terbukti memperkuat pengaruh Islamic Work Value dan Shariah Compliance terhadap tata kelola filantropi Islam. Namun, tradisi tersebut justru melemahkan pengaruh kepemimpinan institusional, sehingga menunjukkan bahwa nilai budaya tidak selalu sejalan dalam memperkuat karakter kepemimpinan formal lembaga. (Emi)








