TAKALAR, RAKYATSULBAR.COM – Setiap tanggal 10 Februari, angin sejuk dari Selat Makassar yang menyapu pesisir Galesong hingga ke daratan Polongbangkeng membawa aroma harapan yang berbeda.
Tahun 2026 ini, aroma itu terasa lebih tajam, lebih segar, dan penuh optimisme. Kabupaten Takalar kini genap berusia 66 tahun.
Namun, lebih dari sekadar angka dalam kalender administratif, peringatan kali ini adalah sebuah tonggak sejarah. Ini adalah tahun pertama bagi pasangan Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, MM, dan Dr. H. Hengky Yasin, S.Sos., MM, mengemudikan bahtera pemerintahan Kabupaten Takalar sebagai Bupati dan Wakil Bupati pilihan rakyat periode 2025–2029.
Di bawah bendera visi “Terwujudnya Kabupaten Takalar yang Unggul, Sejahtera, dan Bermartabat,” keduanya tidak hanya membawa setumpuk rencana kerja, melainkan sebuah revolusi mentalitas birokrasi yang diringkas dalam sebuah identitas kerja baru: “Takalar Cepat”.
Suasana Minggu malam (8/2/2026) akhir pekan di halaman Baruga Panrannuangku menjadi saksi betapa kuatnya ikatan emosional antara pemimpin baru ini dengan rakyatnya. Lautan manusia dari 12 kecamatan tumpah ruah. Ribuan warga, mulai dari nelayan pesisir hingga petani di pelosok desa, berdiri berdampingan, bernyanyi bersama para bintang tamu nasional seperti Virzha dan Yuka Idol.
Namun, bagi Bupati Daeng Manye, kemeriahan panggung hiburan rakyat ini hanyalah kulit luar dari sebuah manifestasi syukur yang lebih dalam.
“Momentum hari jadi ini bukan sekadar perayaan seremonial yang lewat begitu saja. Ini adalah ajang mempererat silaturahmi, memperkuat persatuan kita. Rakyat Takalar harus merasa memiliki daerah ini, dan kami di pemerintahan harus memastikan bahwa mereka bahagia,” ujar Daeng Manye dengan nada akrab di atas panggung.
Kehadiran Wakil Bupati Hengky Yasin, Sekda Muh. Hasbi, hingga jajaran Forkopimda dalam acara tersebut menegaskan satu hal: soliditas kepemimpinan. Soliditas inilah yang menjadi mesin penggerak bagi berbagai perubahan radikal yang terjadi di Takalar hanya dalam waktu satu tahun terakhir.
Filosofi “Takalar Cepat”: Membedah DNA Baru Birokrasi
Banyak yang bertanya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Takalar Cepat”? Bagi Daeng Manye, ini bukan sekadar slogan politik atau hiasan pada baliho-baliho di pinggir jalan. Diluncurkan secara resmi dalam forum Leaders Talk pada 26 Januari 2026, logo dan filosofi ini adalah DNA baru bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Takalar.
Filosofi ini berdiri di atas tiga pilar kokoh yakni, Cepat Berpikir: aparatur tidak boleh lagi lamban dalam mengidentifikasi masalah rakyat. Sebelum keluhan sampai ke meja Bupati, birokrasi harus sudah memiliki data dan rencana solusi.
Cepat Bertindak: Tidak ada ruang bagi berkas yang mengendap berhari-hari. Eksekusi harus dilakukan secara presisi, efektif, dan profesional.
Cepat Hasilnya: Setiap rupiah dari APBD harus dikonversi menjadi kemajuan yang bisa dirasakan langsung—apakah itu dalam bentuk jalan yang mulus, layanan kesehatan yang sigap, atau bantuan UMKM yang tepat sasaran.
“Identitas kita ada pada misi kita. Cepat berarti bagaimana kita bekerja tanpa menunda-nunda pelayanan. Inilah janji kami kepada masyarakat Butta Panrannuangku,” tegas Daeng Manye.
Pesan ini dikirim secara kuat kepada seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk segera menanggalkan cara kerja lama yang kaku dan lamban.
Salah satu bukti paling nyata dari efektivitas semangat “Takalar Cepat” adalah keberhasilan di sektor ekonomi dan keuangan. Takalar kini menjadi perbincangan di tingkat Sulawesi Selatan setelah menyabet gelar Juara 1 Akselerasi Pajak dan Retribusi Daerah 2025. Prestasi ini bukan datang dari langit. Ini adalah hasil dari keberanian pemerintah daerah melakukan digitalisasi 100 persen pada sistem transaksi keuangan daerah.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) melonjak signifikan. Retribusi pasar, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), hingga pajak kendaraan bermotor melampaui target yang ditetapkan. Di sektor pariwisata, digitalisasi retribusi di Pantai Tanggul Topejawa tidak hanya menutup celah kebocoran anggaran, tetapi juga memberikan kenyamanan lebih bagi pengunjung.
Inovasi digital ini bahkan merambah ke sektor yang tak terduga: Pelestarian Budaya. Benda-benda pusaka warisan leluhur Takalar kini dilengkapi dengan QR Code. Wisatawan atau generasi milenial cukup memindai kode tersebut dengan ponsel mereka untuk mengetahui sejarah panjang di balik benda pusaka tersebut. Ini adalah perpaduan harmonis antara penghormatan terhadap masa lalu dan kesiapan menghadapi masa depan.
Bagi pasangan Daeng Manye-Hengky Yasin, pendidikan adalah “jalan pedang” untuk memutus rantai kemiskinan. Tahun 2025 menjadi saksi beroperasinya Sekolah Rakyat Rintisan. Program ini didesain khusus untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini kesulitan biaya sekolah.
Pembangunan sekolah rakyat permanen yang ditargetkan berfungsi penuh pada tahun 2026 menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya memberikan solusi jangka pendek. Ditambah lagi dengan kerja sama strategis dengan Universitas Negeri Makassar (UNM), Pemkab Takalar ingin memastikan bahwa sumber daya manusianya siap bersaing. Kolaborasi ini mencakup penelitian produk unggulan daerah hingga pelatihan kewirausahaan digital bagi pemuda desa.
Berita tentang perbaikan jalan di Desa Punaga mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi warga setempat, ini adalah peristiwa bersejarah. Setelah hampir 23 tahun hidup dengan kondisi jalan yang rusak parah, di bawah instruksi cepat Daeng Manye, aspal lapen sepanjang 550 meter akhirnya terbentang.
“Ini baru permulaan. Kami berkomitmen untuk terus memperbaiki mobilitas warga karena infrastruktur yang baik adalah urat nadi ekonomi,” jelas Daeng Manye.
Pembangunan infrastruktur ini tidak lagi dilakukan secara serampangan, melainkan diprioritaskan pada jalur-jalur yang memiliki dampak ekonomi langsung terhadap distribusi hasil tani dan laut.
Sebagai puncak hadiah HUT ke-66, Pemkab Takalar meluncurkan Layanan Darurat 112. Ini adalah lompatan besar dalam pelayanan publik. Kini, warga Takalar tidak perlu bingung mencari nomor telepon polisi, pemadam kebakaran, atau ambulans secara terpisah. Cukup tekan 112, dan negara hadir di depan pintu rumah mereka.
“Layanan ini adalah hadiah berupa rasa aman dan ketenangan bagi seluruh warga,” tutur Daeng Manye dalam peluncurannya yang penuh haru. Layanan ini terintegrasi dengan divisi IT yang kuat, memastikan setiap laporan warga direspons dengan standar waktu yang ketat.
Kerja keras ini tidak sia-sia. Dalam ajang Outlook Ekonomi yang digelar di Makassar baru-baru ini, Daeng Manye dianugerahi penghargaan sebagai Kepala Daerah Inspiratif Bidang Ekonomi Daerah. Penghargaan ini menjadi pengakuan bahwa gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hasil (result-oriented) di Takalar telah menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Tak hanya itu, kepedulian sosial yang tinggi juga membawa Takalar meraih Baznas Awards 2025. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah modernisasi digital, nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap kaum duafa tetap menjadi prioritas utama.
Memasuki tahun 2026, arah pembangunan Takalar semakin jelas. Fokus pada sektor agromaritim yang didorong oleh teknologi digital bukan lagi sekadar impian. Transformasi layanan publik yang lebih humanis, transparan, dan bebas dari pungutan liar menjadi target harga mati.
HUT ke-66 ini adalah titik start baru. Di bawah kepemimpinan Daeng Manye dan Hengky Yasin, Takalar tidak lagi hanya ingin dikenal sebagai kabupaten di pinggir Makassar. Takalar ingin berdiri tegak sebagai daerah yang mandiri, kompetitif, dan bermartabat.
“Perjalanan masih panjang, tantangan masih besar, namun dengan semangat ‘Takalar Cepat’, tidak ada yang mustahil untuk kita capai bersama,” imbuh Daeng Manye.
Di hari jadinya yang ke-66, Butta Panrannuangku benar-benar menjadi “Tanah Harapan”. Sebuah daerah yang kini sedang berlari, mengejar ketertinggalan, dan membangun kejayaan barunya dengan teknologi di satu tangan, dan kearifan lokal di tangan lainnya. (*)








