Oleh : DR KH Masrur Makmur La Tanro, Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali.
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Ramadan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga madrasah ruhani—sekolah pembinaan jiwa—yang melahirkan pribadi-pribadi berintegritas. Dalam konteks kepemimpinan, Ramadan menjadi ruang latihan spiritual yang sangat strategis untuk membentuk karakter pemimpin yang jujur, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Integritas tidak lahir dari retorika, melainkan dari disiplin batin. Puasa mengajarkan pengendalian diri ketika tidak ada yang melihat. Seorang pemimpin yang berpuasa menahan lapar dan dahaga bukan karena pengawasan manusia, tetapi karena kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah). Dari sinilah fondasi integritas dibangun: kesadaran transendental bahwa setiap tindakan dipertanggungjawabkan.
Esensi puasa adalah kejujuran. Seseorang bisa saja berpura-pura di hadapan publik, tetapi tidak di hadapan Tuhan. Dalam kepemimpinan, kejujuran adalah mata uang utama kepercayaan. Tanpa kejujuran, legitimasi akan rapuh; tanpa amanah, jabatan kehilangan makna.
Ramadan melatih pemimpin untuk konsisten antara kata dan perbuatan. Ia mendidik hati agar tidak tergoda oleh penyalahgunaan wewenang, manipulasi data, atau keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Ketika lapar dan haus mampu ditahan, seharusnya ambisi yang melampaui batas pun dapat dikendalikan.
Ritme Ramadan mengajarkan disiplin waktu—bangun sahur, menjaga shalat tepat waktu, tilawah teratur, hingga qiyamul lail. Disiplin spiritual ini mencerminkan pentingnya manajemen diri dalam kepemimpinan.
Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mengelola diri sebelum mengelola orang lain. Ramadan mengajarkan tanggung jawab personal sebelum tanggung jawab sosial. Ia membentuk kesadaran bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan privilese.
Salah satu hikmah terbesar puasa adalah empati. Rasa lapar menghadirkan pengalaman eksistensial tentang penderitaan kaum dhuafa. Dari sini lahir kepekaan sosial—modal utama kepemimpinan yang berkeadilan.
Zakat, infak, dan sedekah di bulan Ramadan bukan sekadar ritual filantropi, tetapi pendidikan sosial bagi pemimpin agar kebijakan yang diambil selalu berpihak pada kemaslahatan umum. Kepemimpinan yang berintegritas tidak hanya bersih secara moral, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan masyarakat.
Ramadan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kekuasaan, melainkan pada pengendalian diri. Pemimpin yang ditempa oleh nilai-nilai Ramadan akan mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.
Dalam suasana kontemplatif Ramadan, pemimpin diajak untuk bermuhasabah: apakah keputusan yang diambil sudah adil? Apakah kebijakan yang dibuat membawa maslahat? Apakah jabatan yang diemban telah digunakan untuk melayani, bukan dilayani?
Muhasabah inilah yang menjaga kepemimpinan tetap berada di rel etika.
Di tengah arus globalisasi dan kompleksitas tata kelola modern, tantangan kepemimpinan semakin berat. Godaan korupsi, konflik kepentingan, hingga tekanan politik dapat menggoyahkan komitmen moral.
Ramadan hadir sebagai spiritual reset—momen penyucian niat dan pembaruan komitmen. Ia mengingatkan bahwa jabatan bersifat sementara, sedangkan pertanggungjawaban bersifat abadi.
Ramadan adalah madrasah ruhani yang tidak hanya membentuk individu saleh, tetapi juga melahirkan pemimpin berintegritas. Dari puasa lahir kejujuran, dari ibadah lahir kedisiplinan, dari empati lahir kebijakan yang adil.
Jika nilai-nilai Ramadan benar-benar diinternalisasi, maka kepemimpinan tidak lagi dipahami sebagai simbol kekuasaan, tetapi sebagai amanah suci untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan.
Semoga Ramadan tidak berlalu tanpa meninggalkan jejak dalam karakter para pemimpin—agar lahir generasi pemimpin yang bersih, amanah, dan berorientasi pada ridha Allah serta kesejahteraan umat.
Wallahu Waliyyul Muttaqien. (*)








