Oleh: Kyai Haji Masrur Makmur La Tanro: Ketua Mui Prov Bali/ Presidium IAPIM/Ketua ISMI Bali.
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Indonesia adalah bangsa yang dianugerahi kekayaan luar biasa berupa keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan tradisi. Dari Sabang sampai Merauke, perbedaan bukanlah sekadar realitas sosial, tetapi juga identitas kolektif yang membentuk wajah kebangsaan kita. Namun, di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana merawat harmoni agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik. Di sinilah toleransi memainkan peran yang sangat fundamental.
Toleransi bukan berarti menghilangkan keyakinan atau menyamakan semua perbedaan, tetapi merupakan sikap saling menghargai, menghormati, dan memberikan ruang kepada orang lain untuk menjalankan nilai dan kepercayaannya. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, toleransi menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—Islam yang membawa kedamaian dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang saat ini terus dikembangkan di berbagai ruang publik, termasuk di lingkungan pendidikan, masjid, dan institusi sosial kemasyarakatan.
Hal ini tentu sangat relevan dengan fokus kajian tentang Komunikasi Dakwah dalam Moderasi Beragama di Sulawesi Selatan. Toleransi dalam perspektif dakwah bukan hanya menjadi pesan normatif, tetapi harus diwujudkan dalam praktik komunikasi yang inklusif, dialogis, dan berorientasi pada persatuan umat. Dakwah yang menyejukkan akan mampu meredam potensi konflik serta memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang plural.
Lebih dari itu, toleransi juga menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan. Ketika setiap individu merasa dihargai dan diakui eksistensinya, maka rasa memiliki terhadap bangsa akan tumbuh dengan sendirinya. Dari sinilah lahir solidaritas sosial, gotong royong, dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Mari kita terus menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari—baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, kampus, maupun masyarakat luas. Menghargai perbedaan bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan yang akan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan toleransi, kita tidak hanya merawat keharmonisan, tetapi juga meneguhkan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai bagi semua.
Wallahu Waliyyul Muttaqien. (*)








