Spiritual Being in a Physical Body, Kaya Versus Bahagia

  • Bagikan

Oleh: Dr. KH. Masrur La Tanro (Ketua Umum MUI Provinsi Bali/Presidium PP IAPIM)

Kekayaan tidak selalu jalan lurus yang menjamin kebahagiaan.

Hubungan antara kaya dan bahagia sungguh kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Pastinya, kebahagiaan tidak hanya bergantung pada kekayaan. Hubungan sosial, kesehatan, dan pengalaman juga punya peran penting.

Saya sempat membaca sebuah buku di Jogya berjudul The Richest Man Who Ever Lived. Buku ini bertalian dengan sebuah riset yang dirilis Nature Human Behaviour pada 2019 bahwa puncak kepuasan hidup bakal tercapai jika penghasilan bertengger di kisaran 60.000 dollar AS hingga 75.000 dollar AS per tahunnya, equivalen dalam rupiah sekitar 800-900 juta/ tahun. Angka ini berlaku secara global di dunia. Hal ini berarti orang Indonesia bisa bahagia tatkala gajinya 70-80 juta sebulan.

Namun, itu cuma angka untuk memenuhi kebutuhan fisiologis manusia. Bukan indikator ukuran seseorang merasa bahagia.

Berikut beberapa poin penting: Coba kita camkan Bill Gates dalam sesi AMA (Ask Me Anything) pernah berkata bahwa ia bahagia ketika memenuhi komitmen terhadap diri sendiri. Begitu bos Microsoft yang memiliki kekayaan 2.500 Triliun setara dengan pendapatan Rp 5,5 juta per detik.

Baik Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Warren Buffet, Bill Gates sepaham bahwa kaya itu bukan karena menabung harta, tetapi ketika bisa social care. Kaya bukan bisa hidup mewah, tapi kekayaan tercipta jika hidup humble. Kaya itu tercipta bukan apa saja yang bisa dibeli, tapi ketika mampu keluar dari zona comfort, lalu berperilaku aktif.

Banyak orang superkaya di dunia menjalankan hidup sederhana. Menggunakan mobil tua, naik transportasi umum, tinggal di rumah tua, dan busana yang dikenakan bukan dari rumah butik ternama.

Jadi, kekayaan sifatnya relatif dan dapat berubah sedangkan kebahagiaan dapat bertahan lebih lama. Kekayaan juga dapat meningkatkan kualitas hidup, demikian juga kebaahagiaan.

Kaya dan bahagia tidak selalu berhubungan langsung. Seseorang dapat kaya tetapi tidak bahagia, atau sebaliknya. Keseimbangan antara keduanya dapat membantu mencapai kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Menurut Webster dan Oxford Dictionary, arti kaya adalah memiliki banyak harta, having a lot money or valuable possessions Betulkah kekayaan itu hanya berarti uang, dan What Money Can Buy?

Apa sih yang dapat dibeli uang. Money can buy books, but it cannot by brains. Uang bisa beli buku, tidak bisa beli kecerdasan. Money can buy food, but not appetite. Uang bisa beli makanan. Tapi, uang tidak bisa membeli selera makan. Money can buy finery, but not beauty. Uang bisa beli perhiasan, tapi tidak bisa beli kecantikan.

Money can buy medicine, but not health. Uang bisa beli obat, tidak bisa beli kesehatan. Money can buy amusement, but not happiness

Uang bisa beli kesenangan, tapi uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Money can buy flattery, but not respect. Uang bisa beli sanjungan, tapi tidak bisa memberi penghormatan.

Uang bisa membeli tempat tidur, tetapi uang tidak bisa membeli tidur.

Benar kata Bob Marley: Uang adalah angka, dan angka tidak pernah berakhir. Jika bahagiamu butuh uang, pencarianmu akan kebahagiaan tidak akan pernah berakhir.

Jangan lupa, uang dan ketenaran kadang menjerat hidup lebih sengsara bahkan membawa kematian.

Hakikat manusia itu menjadi mulia dan terhormat karena hati sumringah nan bahagia bukan semata harta yang profan nan nisbi. Dan seluruh ibadah dalam Islam bertujuan meninggikan supremasi spritual dan pisik manusia.

Salam sehat lahir-batin. (*)

  • Bagikan