Perbedaan, Toleransi, dan Literasi Masjid

  • Bagikan


Oleh: H. Kaswad Sartono
Kepala Kanwil Agama Prov. Gorontalo

GORONTALO, RAKYATSULBAR.COM – Menjelang awal Ramadhan, ruang digital kita begitu riuh.
WhatsApp penuh dengan perdebatan hisab dan rukyat.
TikTok ramai dengan potongan ceramah dan argumentasi.
Ada yang menyodorkan dalil astronomi, ada yang mengutip pendapat ulama klasik, ada pula yang memilih tidak mau ambil pusing.

Perbedaan ijtihad tentang awal puasa seperti menjadi panggung tahunan yang tak pernah sepi.

Namun sesuatu yang menarik selalu terjadi.

Ketika Ramadhan benar-benar tiba, ketika takbir mulai berkumandang, ketika masjid mulai dipenuhi jamaah Isya dan Tarawih—perdebatan itu seakan menguap. Tentu, tidak hilang secara intelektual, tetapi mencair secara spiritual.

Saya menyaksikan sendiri fenomena itu. Bersama Gubernur Gorontalo Bapak Gusnar Ismail, kami melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah di beberapa tempat. Di Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo suasana khusyuk menyelimuti jamaah yang datang dari beragam latar belakang. Di Masjid Darul Arqam Muhammadiyah, kami kembali merasakan kekhidmatan yang sama, Kemudian di Masjid Al-Ittihad jalan HB Jassin yang mempraktekkan shalat Tarwih ala Aswaja Nahdlatul Ulama juga begitu khusyuk di sana.

Bahkan dalam momentum kenegaraan seperti ground breaking pengembangan runway di Bandar Udara Djalaluddin, hingga di Holantalo Ballroom usai Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Gubernur-Wakil Gubernur, sampai saat menyambut kedatangan Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwaghandi di malam ke-2, ke-7 dan ke-10 shalat Tarawih tetap ditegakkan berjamaah dengan penuh kekhusyukan dan toleransi (tasamuh).

Dan di setiap tempat itu, praktiknya variatif:
Ada yang 20 rakaat dengan tiap 2 rakaat salam.
Ada yang 8 rakaat dengan tiap 4 rakaat salam.
Ada pula yang 8 rakaat dengan tiap 2 rekaat salam.

Yang paling menyentuh hati saya adalah ketika kami shalat di masjid kecil Darul Arqam binaan Muhammadiyah Kab. Gorontalo, di mana tata cara Tarawihnya 8 rakaat tiap 4 rakaat salam. Namun imam dan hampir seluruh jamaah—sekitar 90persen—disampaikan Nahdliyyin (warga NU). Tidak ada bisik-bisik protes. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada kegelisahan identitas. Namun semuanya khusyuk bermakmum sama imam dengan lapang dada dan ikhlas.

Di situ saya merasakan sesuatu yang jauh lebih penting dan substansj daripada sekadar perbedaan teknis fiqh. Saya menyaksikan kualitas toleransi umat yang begitu tinggi. Mudah-mudahan best practice ini bisa menjadi pelecut Indek Kerukunan Umat Beragama di Provinsi “serambi madinah” Gorontalo ini.

Ikhtilaf tetap berada di ruang akademik:
Bersatu dalam Islam, toleransi dalam ikhtilaf.
Ukhuwah tetap berdiri kokoh di ruang sosial.

Perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk menjaga jarak, tetapi justru menjadi bukti bahwa persatuan tidak menuntut harus seragam.

Fenomena ini bagi saya bukan kebetulan. Ini adalah hasil panjang pendidikan para ulama, keteladanan tokoh agama, kebijakan pemerintah yang meneduhkan, serta kematangan sosial umat Islam Indonesia. Bahkan saudara-saudara kita dari agama lain pun turut menyaksikan suasana Ramadhan yang damai dengan penuh penghormatan.

Ironisnya, ketajaman argumentasi yang begitu bergelora di media digital, sering kali tidak terbukti dalam kehidupan nyata. Di lapangan, umat jauh lebih cair daripada di layar gawai. Di masjid, orang lebih memilih berdiri dalam satu shaf daripada berdiri dalam satu opini.

Dari realitas keberagamaan ini, saya kemudian menatap masa depan tentang pentingnya literasi masjid.

Saat dialog Safari Subuh, sebuah usulan yang disampaikan oleh Jamaah Subuh Masjid al-Muhtadin Kecamatan Limboto Kab. Gorontalo kepada saya terasa sangat relevan: masjid perlu mengoptimalkan fungsi literasinya. Jika ruang digital menjadi arena perdebatan cepat, maka masjid harus menjadi ruang pengajian dan pendalaman yang jernih. Jika media sosial sering menyederhanakan perbedaan menjadi hitam-putih, maka masjid harus mengajarkan keluasan budaya membaca, berpikir, dan diskusi.

Generasi milenial kita tidak cukup hanya diberi tahu bahwa “ini boleh” dan “itu tidak boleh”. Mereka perlu memahami mengapa ulama berbeda. Mereka perlu tahu metodologi istinbath hukum. Mereka perlu diajak berpikir, bukan sekadar diarahkan. Karena mereka adalah imam di masa deoan.

Literasi masjid bukan sekadar menambah jadwal ceramah. Ia adalah membangun budaya dialog yang santun, memperkenalkan sejarah perbedaan mazhab, mengajarkan etika tabayyun, serta menanamkan bahwa kekuatan umat bukan pada seragamnya praktik, tetapi pada kukuhnya persaudaraan.

Ramadhan tahun ini kembali mengajarkan kepada kita bahwa toleransi intra-umat bukan teori. Ia hidup. Ia nyata. Ia cinta kemanusiaan. Ia terjadi di shaf-shaf Tarawih kita.

Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga memberi teladan dalam menerima perbedaan. Mengikuti imam yang berbeda praktiknya bukan kehilangan prinsip, tetapi justru memuliakan persaudaraan.

Dan mungkin inilah wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya. Wajah Islam yang rahmatan lil alamin.
Berbeda dalam ijtihad, tetapi satu dalam sujud;
Beragam dalam praktik, tetapi damai dalam hati.
Bersatu dalam aqidah, toleransi dalam furuiyah. والله اعلم

  • Bagikan