Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Ramadhan datang setiap tahun dengan pesan yang sama: tahan diri. Tapi di era media sosial, yang paling sulit ternyata bukan menahan lapar, melainkan menahan jempol. Perut bisa diajak kompromi, tetapi notifikasi sulit diajak musyawarah.
Dulu orang berpuasa diuji dengan aroma gorengan di sore hari. Sekarang kita diuji dengan aroma pencitraan di linimasa. Baru jam delapan pagi, sudah ada yang mengunggah foto tahajud lengkap dengan caption: “Hanya berbagi inspirasi.” Tentu saja, inspirasi yang disertai tiga puluh hashtag.
Puasa itu ibadah sunyi. Ia tidak berisik, tidak butuh tepuk tangan, apalagi likes. Tapi media sosial mengajarkan satu doktrin baru: jika tidak diposting, seakan-akan tidak terjadi. Maka lahirlah generasi yang lebih khusyuk mencari sudut kamera daripada mencari kekhusyukan hati.
Menahan lapar itu jelas aturannya: dari subuh sampai magrib. Menahan komentar pedas? Nah, ini yang belum banyak jadwal imsakiyahnya. Begitu melihat postingan yang berbeda pandangan, jempol langsung bergetar ingin berjihad di kolom komentar. Seolah-olah pahala puasa bisa ditukar dengan kemenangan debat.
Ramadhan sebenarnya melatih kita untuk jeda. Sebelum makan, kita tunggu azan. Sebelum marah, mestinya kita tunggu akal sehat. Tapi di dunia maya, semua serba instan. Belum selesai membaca, sudah menyimpulkan. Belum paham duduk perkara, sudah mengeluarkan vonis.
Ada pula fenomena “puasa estetika”. Takjil ditata lebih rapi daripada niatnya. Kurma difoto dari tiga sudut, es buah diberi filter senja. Lalu ditulis: “Sederhana saja.” Sederhana yang memerlukan waktu satu jam pengambilan gambar.
Padahal inti puasa bukan soal dokumentasi, melainkan transformasi. Bukan soal siapa yang tahu kita berbuat baik, tetapi apakah diri kita benar-benar berubah. Ironisnya, kita sering lebih sibuk memperbaiki feed daripada memperbaiki feed hati yang penuh prasangka.
Media sosial sebenarnya netral. Ia hanya alat. Tapi di tangan yang tak terlatih menahan diri, ia berubah menjadi panggung riya digital. Kita ingin terlihat sabar, terlihat dermawan, terlihat alim. Kata “terlihat” menjadi lebih penting daripada “menjadi”.
Ramadhan mengajarkan self control. Bukan hanya menahan yang halal, tetapi juga menahan yang tidak perlu. Tidak semua pikiran harus ditulis. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Tidak semua ibadah harus diumumkan.
Lucunya, saat energi fisik melemah karena puasa, energi untuk berselancar justru meningkat. Scroll tanpa henti menjadi olahraga favorit menjelang berbuka. Kita menunggu azan magrib, sambil memberi “like” pada orang lain yang juga sedang menunggu azan magrib.
Andai saja kita memperlakukan jempol seperti memperlakukan mulut saat puasa. Mulut dijaga agar tidak sembarangan memasukkan makanan. Jempol pun mestinya dijaga agar tidak sembarangan mengeluarkan kata. Karena satu komentar bisa lebih tajam daripada rasa lapar seharian.
Akhirnya, Ramadhan di era media sosial bukan tentang berhenti dari dunia digital, melainkan tentang belajar adab di dalamnya. Seni menahan diri bukan hanya soal menunggu waktu berbuka, tetapi juga soal menunda reaksi, menyaring kata, dan meredam ego. Sebab boleh jadi, yang membatalkan pahala puasa hari ini bukanlah seteguk air, melainkan setetes kesombongan yang kita unggah sendiri. Wallahu a’alam. (*)







