“Dicari” Lailatul Qadr

  • Bagikan


Oleh: Muhaemin Latif (Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin Makassar)

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – 10 malam terakhir bulan Ramadhan adalah momentum yang paling ditunggu bagi umat Islam, khususnya bagi orang-orang yang berpuasa ramadhan. Momen ini sebagaimana diverbalisasi dalam pesan-pesan profetik Nabi Muhammad saw sebagai masa turunnya lailatul qadr. Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad saw mengatakan “carilah malam-malam lailatul qadr pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan”. Selain hadis, distingsi dan rahasia lailatul qadr juga diabadikan dalam QS al-Qadr ayat 1-5. Titah suci Tuhan tersebut menyebutkan bahwa malam lailatul qadr diyakini sebagai malam yang hikmahnya lebih baik dari seribu bulan (sekitar 83 tahun). Malam dimana para malaikat akan turun membawa hikmah kemuliaan kepada orang-orang mukmin yang spesial.

Kesadaran atas distingsi lailatul qadr tersebut membuat sebagian umat Islam berlomba-lomba i’tikaf di masjid. I’tikaf sendiri,menurut Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’, berarti berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, terutama pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Animo umat Islam yang luar biasa terhadap lailatul qadr dapat dilihat dengan ramainya jamaah di masjid-masjid besar untuk beri’tikaf. Bahkan biasanya banyak yang datang dari berbagai daerah bersama dengan keluarganya, membawa bekal sendiri, secara khusus untuk melakukan I’tikaf.

Para “pencari” lailatul qadr tersebut semakin ramai dan begitu antusias untuk beri’tikaf terutama pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan, entah ganjilnya versi pemerintah atau Muhammadiyah. Semuanya berbaur di satu masjid, berdiam, berzikir, serta mengerjakan amalan-amalan ibadah lainnya. Tentu tidak lain muaranya untuk mencari dan berharap mendapatkan berkah malam lailatul qadr. Fenomena ini boleh jadi salah satu indikasi bahwa umat Islam semakin sadar atas berbagai narasi positif di balik keagungan lailatul qadr.

Terlepas dari antusiasme umat Islam untuk “mencari” lailatul qadr pada malam-malam ganjil, lailatul qadr tetap menjadi rahasia Tuhan. Tidak ada yang mengetahui secara persis kapan lailatul qadr itu turun dan di masjid mana. Pesan-pesan Nabi Muhammad saw hanya menyampaikan clue (isyarat) saja yaitu pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan. Bagi penulis, angka-angka ganjil tersebut tidak hanya terbatas pada ranah statistik, tetapi lailatul qadr jauh melampaui angka-angka tersebut. Ia tidak bisa diukur dengan angka, ia adalah tafsir simbolis untuk menuju kepada hakikat lailatul qadr. Para “pencari” lailatul qadr sejatinya tidak terjebak kepada angka-angka, tetapi mampu menangkap rahasia-rahasia dibalik angka. Lailatul qadr adalah simbol pengalaman spiritual dan kedekatan kepada Tuhan yang tidak lagi tersandera oleh angka-angka.

Sesungguhnya, lailatul qadr tidak jauh dari diri kita, ia hadir dan mencari orang-orang yang beribadah pada bulan suci Ramadhan secara Ikhlas. Beribadah tanpa butuh emoji positif dan stiker jempol. Ibadahnya murni lahir dari kecintaannya kepada Tuhan tanpa embel-embel. Lailatul qadr akan mencari orang-orang yang berpuasa tidak hanya secara lahir, tetapi batinnya pun ikut berpuasa. Puasa yang tidak hanya menahan secara fisik tetapi mampu melahirkan rasa cinta dalam dirinya, jauh dari sifat dengki, dendam dan benci terhadap sesama manusia.

Lailatul qadr akan mencari orang-orang yang bersedekah baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Orang-orang yang bersedekah tidak hanya pada saat bulan Ramadhan, tetapi sedekahnya adalah tradisi yang hidup secara terus menerus dalam dirinya. Namun pada saat bulan Ramadhan, gairah bersedekahnya mengalami peningkatan yang signifikan. Sedekah orang-orang yang dicari lailatul qadr adalah rahasia, rahasia antara dirinya dengan Tuhan, ia tidak butuh rekognisi publik baik dalam bentuk piagam atau sertifikat penghargaan.

Lailatul qadr akan mencari orang-orang yang tidak hanya berzikir dan berdoa pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Ia akan bersama dengan orang-orang yang tidak pernah lepas dari zikir dan doa sepanjang hidupnya dimanapun dia berada. Lailatul qadr akan mencari orang-orang saleh secara individu tetapi saleh secara sosial. Kesalehannya terpancar dari kesederhanaannya dalam melakoni kehidupannya, tidak pernah menyombongkan diri terhadap apa yang dimilikinya. Baginya, gelar, jabatan dan kekayaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di depan Sang Maha Pencipta.

Lailatul qadr akan mencari orang-orang yang tidak pernah mengecewakan dan menyakiti hati orang tuanya. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan orang tuanya. Bukankah ridha Tuhan sangat bergantung kepada ridha kepada kedua orang tua. Pada akhirnya, mari kita hidupkan malam-malam terakhir bulan suci Ramadhan dengan sebenar-benarnya berdoa, berdoa karena kepasrahan dan ketundukan sebagai hamba. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang “dicari” oleh lailatul qadr. (*)

  • Bagikan