I’tikaf: Berhenti Sejenak untuk Menata Perjalanan Menuju Allah – 21

  • Bagikan


Oleh: Ahmad Razak
Dosen Fakultas Psikologi UNM

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Kehidupan manusia pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan yang terus bergerak. Hari demi hari kita melangkah dalam rutinitas pekerjaan, aktivitas sosial, dan berbagai kesibukan dunia yang seolah tidak pernah berhenti. Namun menariknya, dalam perjalanan hidup justru ada saat-saat ketika manusia perlu berhenti sejenak. Di jalan raya misalnya, terdapat rambu lalu lintas yang memerintahkan kendaraan berhenti. Perintah itu bukan untuk menghambat perjalanan, tetapi untuk menata arus agar tetap tertib dan tidak saling bertabrakan. Dengan berhenti sejenak, perjalanan justru menjadi lebih aman dan terarah.

Prinsip sederhana ini ternyata juga diajarkan dalam Islam. Agama ini tidak hanya mengajarkan manusia untuk bergerak, bekerja, dan beramal, tetapi juga mengajarkan “diam yang bermakna”. Diam bukanlah kemunduran, melainkan ruang sunyi tempat jiwa menata kembali arah hidupnya. Dalam ibadah, kita menemukan simbol-simbol indah tentang makna berhenti ini, seperti i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dan wukuf di Arafah dalam ibadah haji.

I’tikaf secara bahasa berarti berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Dalam praktiknya, seorang Muslim sengaja menyingkir dari hiruk-pikuk dunia dan berdiam di masjid. Ia menjauh sejenak dari riuhnya kehidupan untuk memperbanyak dzikir, doa, dan bacaan Al-Qur’an. Dalam kesunyian itu, ia membuka ruang bagi hatinya untuk kembali dekat kepada Allah. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istri kalian) ketika kamu sedang beri’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Di dalam i’tikaf, dunia seakan diperlambat. Langkah yang selama ini tergesa menjadi tenang. Pikiran yang sebelumnya penuh hiruk menjadi jernih. Dalam diam itulah seorang hamba berbicara kepada Tuhannya, memohon ampun, mengadukan kegelisahan, dan menata kembali arah perjalanan hidupnya.
Makna berhenti juga terlihat dalam puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Kata wukuf berarti berhenti atau berdiri. Di Padang Arafah, jutaan manusia dari berbagai bangsa dan latar belakang berkumpul dalam satu kesadaran yang sama. Mereka berdiri, berdoa, dan menangis di hadapan Allah. Tidak ada kemegahan dunia di sana, yang ada hanyalah kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba yang sangat membutuhkan ampunan Tuhannya. Rasulullah SAW bersabda, “Al-hajju ‘Arafah” haji itu adalah Arafah.

Seolah-olah Allah sedang mengajarkan kepada manusia bahwa dalam perjalanan hidupnya menuju Tuhan, ada saat di mana ia harus berhenti sejenak. Berhenti untuk merenung, berhenti untuk menyadari siapa dirinya, dan berhenti untuk mengingat ke mana langkah hidup ini akan berakhir.

Bahkan ketika membaca Al-Qur’an pun kita diajarkan untuk berhenti pada tempat yang tepat. Dalam mushaf terdapat tanda wakaf, yaitu tanda berhenti ketika membaca ayat. Dengan berhenti, bacaan menjadi lebih indah dan maknanya lebih dalam. Tanpa berhenti, kalimat bisa kehilangan kejelasan dan pesan ayat menjadi kabur.

Menariknya, apa yang diajarkan Islam tentang berhenti sejenak ini juga selaras dengan pemahaman tentang jiwa manusia. Para ahli psikologi menyebutnya sebagai ”psychological pause”, yaitu jeda batin ketika seseorang mengambil jarak dari rutinitas dan tekanan hidup untuk menenangkan pikiran dan melakukan refleksi diri. Tanpa jeda semacam ini, pikiran manusia mudah mengalami kelelahan mental yang memicu kegelisahan dan kehilangan kejernihan dalam melihat hidup. Karena itu manusia sesungguhnya membutuhkan saat-saat sunyi untuk memperlambat langkahnya, menenangkan pikirannya, dan melihat kembali arah perjalanan hidupnya.

Dalam perjalanan kehidupan ini, jika manusia terus berjalan tanpa jeda, ia mudah hanyut dalam arus dunia. Kesibukan demi kesibukan bisa membuat hati menjadi lelah tanpa disadari. Karena itu manusia memerlukan saat-saat sunyi untuk menarik napas batin, menenangkan pikiran, dan melihat kembali arah langkahnya.

Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang hakikat perjalanan hidupnya melalui sebuah kalimat yang sering kita ucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali (QS. Al-Baqarah: 156).

Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam. Hidup manusia sesungguhnya adalah perjalanan dari Allah dan menuju kembali kepada Allah. Kita berasal dari-Nya, dan suatu saat akan kembali kepada-Nya. Dalam perjalanan panjang itu, manusia tidak boleh berjalan tanpa arah. Ia membutuhkan jeda-jeda kesadaran agar langkahnya tidak tersesat oleh gemerlap dunia.

Di sinilah makna mendalam dari berbagai perhentian spiritual dalam Islam. Shalat lima waktu menghentikan kesibukan harian agar manusia tidak tenggelam dalam dunia. Puasa menahan nafsu agar hati kembali jernih. I’tikaf menghadirkan ruang kesunyian bagi jiwa untuk menata ulang hubungan dengan Allah. Sementara wukuf di Arafah menjadi simbol perhentian agung manusia di hadapan Tuhannya.

Semua itu mengajarkan satu hikmah yang sangat dalam: berhenti bukan berarti berhenti dari kehidupan, melainkan berhenti untuk menata kehidupan. Tanpa jeda, manusia mudah kehilangan arah. Namun dengan berhenti sejenak, ia dapat memeriksa kembali kompas hatinya agar tetap mengarah kepada Allah.

Dalam keheningan itulah seseorang mulai mengenali dirinya dengan lebih jujur menyadari kelemahan, keterbatasan, dan kefanaannya sebagai manusia. Dari kesadaran itu lahir pengenalan yang lebih dalam kepada Allah, sebagaimana ungkapan hikmah para ulama: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbah” barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Karena itu, berhenti sejenak bukanlah tanda kelemahan dalam perjalanan hidup. Ia justru menjadi momentum untuk menata jiwa, mengenali diri, dan memastikan bahwa langkah kehidupan tetap berada di jalan yang benar menuju Allah. Dari jeda itulah manusia kembali melangkah dengan hati yang lebih jernih, iman yang lebih kuat, dan kesadaran bahwa seluruh perjalanan hidup pada akhirnya akan bermuara kepada-Nya.

Wallahu a’lam. (*)

  • Bagikan