Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)
Fase akhir perjalanan ramadhan, ketika kita melakukan kontemplasi, merenung dan berefleksi diri. Ajaran sufistik Sunan Kalijaga menyebutnya Sangkan Paraning Dumadi, yang bermakna manusia itu berasal dari Tuhan ( Sangkan ) dan hidup di dunia ini hanya untuk mengumpulkan kebaikan ( Dumadi) karena pada akhirnya kita akan kembali kepadaNya ( Paran ).
Dalam versi Bugis: Laoka ri Jawa Sappai Sagalae nako Silipumo, Dari mana kita berasal, skrg ada dimana dan kelak akan kemana ? Hati manusia memiliki dimensi ketuhanan yang selalu membisikkan kebenaran. Dengan kebenaran itu menuntunnya menuju budi pekerti mulia. Cahaya ketuhanan akan senantiasa bersinar dalam hati ketika diasupi kebajikan-kebajikan.
Ibarat pohon jika disiram bunganya akan mekar dan buahnya lebat. Namun, jika hati gersang nan kering bunganya rontok tidak bisa berbuah. Ketika suatu saat kita diperhadapkan dengan situasi yang menuntut jawaban yang urgent, cepat, dan tepat rujukannya kepada detector bathin yang membisikkan lamma malakiyyah berupa ilham dari Allah Swt.
“Dan jiwa dalam ciptaannya, diilhami kefasikan dan ketaqwaan. Beruntunglah orang yang mensucikan dan sungguh merugilah yang mengotorinya, Q.S. Syams 7-10.
Hakekat hati nurani berupa perpaduan intelektualita, sensibilita dan moralita sehingga akan menjadi guiding dalam hidup. Hati nurani sebagai strongking kehidupan akan menjadi penangkal pada bisikan dzulmani yang buruk, meneguhkan dalam kebimbangan, melumerkan hati yang beku dan menjadi cahaya pada relung kehidupan. Seperti dalam hadits Qudsi:
ما وسعنى ارض ولا سماء ولكن وسعنى قلب عبدي الموءمن
Sekiranya Aku menampakkan wujud Aku yang sesungguhnya langit dan bumi tidak berdaya menampung keberadaanku. Namun, Aku dpt bersinggah sana dlm hati seorg mukmin yang memelihara kebeningan hatinya.
Ramadhan sebagai candra dimuka, kita menyerap sifat-sifat keilahian lalu mengeksternalisasikannya paska ramadhan.
Semoga puasa ramadhan ini menuntun kita kembali menemukan jati diri yang suci nan fitrah dan menjadikan hati nurani sebagai panduan pelita hidup, takhallaku biakhlaqillah ( berakhlaklah dengan Asmaul Husna Allah Swt ) (*)







