Lailatul Qadar, Perspektif Kekinian

  • Bagikan

Oleh: H. Kaswad Sartono
Kepala Kanwil Agama Gorontalo

GORONTALO, RAKYATSULBAR.COM – Hari-hari terakhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Islam. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan doa dan dzikir semakin khusyuk, dan hati manusia terasa lebih lembut. Pada fase inilah umat Islam menanti satu malam yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam kemuliaan yang dijelaskan dalam Surah Al-Qadr.

Allah berfirman bahwa pada malam itu para malaikat dan ruh turun dengan izin Tuhan membawa “min kulli amrin” yakni dari setiap urusan. Ayat ini memberi pesan yang sangat dalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam untuk memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga malam yang berkaitan dengan berbagai urusan kehidupan manusia. Di sanalah spiritualitas bertemu dengan arah kehidupan.

Jika dihitung secara matematis, seribu bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan—sepanjang usia manusia pada umumnya. Artinya, satu malam dapat bernilai seperti seluruh perjalanan hidup manusia. Inilah bentuk kemurahan Tuhan kepada umat Nabi Muhammad yang usia hidupnya relatif lebih pendek dibanding umat-umat terdahulu. Artinya, jika umat Muhammad mendapat karunia “Lailatul Qadr” sepuluh kali dalam 15 tahun misalnya, berarti orang itu di hadapan Tuhan dan Malaikat bisa berusia 830 tahun. Masya Allah.

Dalam kisah para nabi, kita mengenal usia panjang seperti Nuh yang berdakwah 950 tahun. Dalam riwayat lain disebutkan usia panjang manusia generasi awal seperti Adam. Ketika umat Nabi Muhammad tidak memiliki rentang usia sepanjang itu, Allah menghadirkan malam yang kualitasnya setara dengan umur panjang tersebut. Seolah-olah Tuhan berkata bahwa kemuliaan hidup tidak semata ditentukan oleh lamanya usia, tetapi oleh kualitas kesadaran manusia dalam satu momen spiritual yang benar.

Di sinilah makna Lailatul Qadar perlu dibaca secara lebih luas dalam konteks kehidupan umat Islam masa kini. Spirit malam kemuliaan itu tidak hanya berhenti pada shalat malam, dzikir, dan doa. Ia seharusnya menjadi momentum reorientasi hidup, malam ketika manusia mengevaluasi arah perjalanan dirinya.

Bagi seorang birokrat, Lailatul Qadar dapat menjadi malam muhasabah untuk menata kembali integritas dan komitmen pelayanan publik. Pada malam yang sunyi itu ia dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah jabatan yang diemban telah benar-benar digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan masyarakat, atau justru sekadar menjadi ruang kenyamanan pribadi.

Bagi seorang pengusaha, malam itu dapat menjadi saat untuk menimbang kembali etika usaha. Apakah keuntungan yang diperoleh menghadirkan keberkahan, atau hanya sekadar angka yang besar namun mengabaikan nilai keadilan dan kemanusiaan.

Bagi seorang politisi, Lailatul Qadar dapat menjadi malam pembaruan niat, bahwa politik sejatinya adalah jalan pengabdian kepada rakyat, bukan semata arena perebutan kekuasaan.

Dengan cara pandang seperti ini, Lailatul Qadar menjadi malam kesadaran moral kolektif. Ia tidak hanya melahirkan pribadi-pribadi yang rajin beribadah, tetapi juga pemimpin yang jujur, pengusaha yang amanah, dan birokrat yang melayani.

Lebih dari itu, Lailatul Qadar sejatinya juga merupakan malam lahirnya energi perubahan peradaban. Malam itu berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an, kitab suci yang membimbing manusia dalam membangun peradaban ilmu, keadilan sosial, dan kemuliaan akhlak. Ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad, yang lahir bukan hanya tradisi ibadah, tetapi juga peradaban yang menempatkan ilmu, keadilan, dan kemanusiaan sebagai fondasi kehidupan.

Karena itu, setiap kali umat Islam menanti Lailatul Qadar, sejatinya mereka sedang menanti momen ketika langit menyentuh bumi, ketika kesadaran spiritual manusia diperbarui agar kehidupan dunia berjalan lebih bermakna.

Pada akhirnya, pesan besar Lailatul Qadar adalah bahwa satu malam kesadaran yang jernih dapat mengubah arah hidup manusia. Ia dapat melahirkan keputusan-keputusan yang menentukan masa depan keluarga, masyarakat, bahkan bangsa.

Maka, mencari Lailatul Qadar bukan hanya dengan memperpanjang shalat malam, tetapi juga dengan membuka hati untuk memperbaiki arah hidup. Ketika seorang manusia menemukan kesadaran itu, mungkin saja ia tidak mengetahui secara pasti kapan Lailatul Qadar terjadi. Namun perubahan dalam dirinya, misalnya niat yang lebih tulus, keputusan yang lebih adil, dan komitmen yang lebih kuat untuk kebaikan. Itulah tanda bahwa malam kemuliaan itu telah menyentuh kehidupannya kita.

Dan ketika kesadaran seperti itu lahir dari banyak orang, maka Lailatul Qadar tidak lagi hanya menjadi pengalaman spiritual individual, tetapi menjadi energi yang menggerakkan perubahan peradaban bangsa menuju “Indonesia Emas 2045”. والله اعلم.

Gorontalo, 25 Ramadhan 1447 . (*)

  • Bagikan