UNM dan Media: Menjaga Nalar Publik, Mengabarkan Prestasi

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Senja Ramadhan menjadi ruang refleksi bagi Universitas Negeri Makassar (UNM) ketika pimpinan kampus dan para pengelola media di Makassar serta Sulawesi Selatan duduk bersama dalam sebuah forum diskusi yang diakhiri dengan buka puasa bersama. 

Pertemuan itu bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan upaya memperkuat jembatan komunikasi antara perguruan tinggi dan media sebagai dua institusi penting dalam kehidupan publik.

Plt Rektor UNM Prof. Dr. Farida Patitingi, S.H., M.Hum menyebut para pimpinan media sebagai tamu istimewa. Dalam pandangannya, media memiliki posisi strategis sebagai pilar keempat dalam modernisasi masyarakat.

“Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi bagian dari kelembagaan masyarakat bahkan pemerintahan. Media dapat membawa sebuah bangsa menuju posisi terhormat, tetapi juga bisa menjatuhkannya jika tidak dijalankan dengan tanggung jawab,” ujar Farida.

Karena itu, menurutnya, hubungan antara perguruan tinggi dan media tidak boleh bersifat sporadis, melainkan harus menjadi kemitraan kelembagaan yang sehat dan berkelanjutan.

Di tengah pesatnya perubahan sosial dan teknologi, perguruan tinggi menghasilkan berbagai inovasi, riset, dan program pengabdian kepada masyarakat. Namun tanpa peran media, berbagai capaian tersebut sering kali tidak sampai kepada publik.

“Prestasi kampus bisa menjadi tidak bermakna secara sosial jika tidak diketahui masyarakat. Di sinilah media berperan sebagai corong universitas kepada publik dan para pemangku kepentingan,” katanya.

Farida juga menegaskan bahwa UNM memiliki sumber daya manusia yang unggul dan tata kelola yang terus diperkuat. 

Sejumlah langkah strategis sedang dilakukan, mulai dari peningkatan anggaran penelitian, pemberian penghargaan bagi dosen yang menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi, hingga penyediaan sarana prasarana yang lebih baik untuk menunjang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sebagai pimpinan universitas, Farida mengaku mencurahkan perhatian dan energinya untuk mendorong percepatan kemajuan UNM. Ia menyadari bahwa dalam proses perubahan selalu muncul berbagai pandangan, termasuk anggapan bahwa dirinya merupakan “orang luar”.

Namun, ia memilih memaknainya sebagai bentuk kecintaan sivitas akademika terhadap kampus.

“Yang terpenting bagi saya adalah menjalankan amanah dengan integritas. Bersama seluruh jajaran pimpinan universitas, kami berkomitmen membangun UNM agar terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, para jurnalis yang hadir juga memberikan catatan kritis. Mereka menilai UNM sebenarnya memiliki banyak inovasi yang layak diketahui publik, mulai dari hasil penelitian hingga program kreatif mahasiswa, termasuk inovasi yang lahir dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Namun berbagai capaian tersebut belum banyak terekspos di media. Sebaliknya, pemberitaan tentang kampus sering kali lebih didominasi oleh isu demonstrasi atau konflik.

“Padahal inovasi mahasiswa UNM sangat banyak dan menarik. Sayangnya belum tersampaikan secara optimal kepada publik,” ujar salah seorang jurnalis.

Para jurnalis juga mengingatkan bahwa banyak alumni IKIP maupun UNM yang kini bekerja di berbagai media, bahkan berada pada posisi strategis di tingkat lokal maupun nasional. Jaringan alumni ini dinilai sebagai potensi besar untuk memperkuat komunikasi antara kampus dan media.

Dari dialog tersebut muncul gagasan agar UNM menyelenggarakan forum pertemuan rutin dengan media, setidaknya sebulan sekali. Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang berbagi informasi mengenai inovasi, penelitian, serta kontribusi sivitas akademika bagi masyarakat.

Pertemuan senja itu akhirnya menunjukkan satu hal penting: di era keterbukaan informasi, perguruan tinggi tidak cukup hanya bekerja dan berprestasi. Prestasi itu juga perlu dikomunikasikan dengan baik kepada publik.

Dan dalam kerja komunikasi itu, media tetap menjadi mitra yang tak tergantikan. (*)

  • Bagikan