Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)
The weak can never forgive. Forgiveness is an attribute of the strong.
( Mahatma Gandhi )
Manusia fitri keluar dari ego sentris menuju sosio sentris melahirkan sikap pemaaf dan memaafkan.
Purgatory merupakan istilah dalam teologi Kristen yang berarti kekudusan dan pemurnian.
Akan halnya ibadah puasa menjadi purgatorio umat Islam menuju kegembiraan surga, paradiso.
Treatmant awal puasa dengan istilah jasadi, menahan diri dalam jenjang fisik. Treatmant kedua nafsani, menahan diri dari bujuk rayu hawa nafsu. Dan treatmant ketiga puasa ruhani, puasa dengan simbol metafora puncak pembalasan tertinggi berupa fitrah, paradiso. Manusia kembali pada awal kefitrahannya menjadi tabularasa.
John Locke dalam karyanya “Some Thoughts Concerning Education” (1692) mengemukakan manusia adalah Tabularasa — bahasa Latin berarti kertas kosong. Di sini, manusia Ramadhan melahirkan kembali fitrahnya yang rindu pada eksistensi primordialnya, alhanifiyah As Samhah bersikap lurus, welas asih, dan futuristik.
Ada tiga karakter manusia fitri. Pertama; karena telah menghiasi diri dengan ketaatan fisik akan melahirkn jasad yang sehat, pikiran cerah dan jiwa yang tulus. Kedua; manusia fitri melahirkan jiwa qurbah,
dirinya merasa diawasi cctv Allah sehingga menjadi stimulan etos kesabaran, kesungguhan, kejujuran dan detector bathin yang tangguh. Ketiga; manusia fitri keluar dari ego pribadi menuju empati sosial melahirkan sikap forgiveness, pemaaf dan memaafkan.
Annal Behavioral Medicine menyebutkan mereka yang sulit memaafkan itu susah berkawan, diliputi depresi, sulit percaya org lain dan tidak bisa terlelap tidur.
Sebaliknya, memaafkan itu menjadikan hati damai, jiwa tentram, rasa percaya diri yang tinggi, dan sistem imunnya menjadi kuat.
Ternyata dalam Kingdom plantae dan animalia ada juga istilah Resiliensi pada tumbuhan, yaitu memaafkan kerusakan daun ketika dimakan ulat atau dipangkas manusia dengan cara memulihkan diri melalui pertumbuhan baru, bukan menyimpan dendam.
Pada animalia ada rekonsiliasi setelah terjadi konflik. Ini adalah bentuk “memaafkan” dalam dunia hewan untuk memulihkan hubungan sosial.
Apatah lagi sesama muslim, di hari fitri mari kita saling memberi dan menerima maaf, sebagaimana sabda Rasulullah:
مَا مِنْ مُسْلِمَينِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَفْتَرِقَا.
Ketika ada dua orang yang berjumpa, lalu mereka berjabatan – tangan maka keduanya akan dimaafkan sebelum mereka berpisah.( Riwayat, Abu Daud – Tirmisi). Mohon maaf lahir dan batin. (*)







