RANTEPAO, RAKYATSULBAR.COM –– Angan-angan ingin menapaki puncak tertinggi Toraja Utara sepertinya terwujud saat penulis berkesempatan mengunjungi tempat itu sebelum kembali pulang. Kali ini kami memilih puncak Dipomelopindan, Rantepao. Untuk menaikinya ada dua jalan alternatif dapat kita tempuh.
Pertama, melewati jembatan Alang- Alang di jalan poros Rantepao- Makale. Kedua, dari arah Tikala. Kami memilih opsi kedua ini dengan rute sedikit panjang dari jalan lain. Namun bisa dikata tergolong mudah dan masih dapat dilalui meski melewati pegunungan.
Kebetulan hari itu Rantepao diguyur hujan sejak pukul 14.30. Jalan terlihat basah saat berada di daerah Tikala. Tikungan dan tanjakan mewarnai perjalanan ini, sesekali pemandangan di sisi jalan tiap saat mencuri perhatian. Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam, kami sampai di puncak.
Tak disangka ratusan pengunjung memarkirkan kendaraannya di tempat itu, mereka satu persatu menaiki tangga dengan tas dibagian belakang khas para petualang sejati. “luar biasa”, kataku sambil udara dingin semakin betah merasuk kedalam tubuh. Saat itu kami memutuskan semalam agar dapat menikmati awan di tempat ini.
Usai sholat subuh kami bergegas kearah pinggir puncak, begitupun juga pengunjung lain. Semua tak ingin melewati pemandangan negeri diatas awan Toraja yang hanya dapat dilihat di stori media sosial saja.
Suasana masih gelap, awan putih mulai memasuki celah pengunungan hingga terlihat bergerembul. Cahaya merah dari arah kejauhan dibalik gunung mulai muncul berlahan-lahan. Inilah Toraja, negeri diatas awan yang termasyhur. Hampir setiap sisi wilayah Toraja memiliki spot wisata alam begitu melimpah.
Gunung, bukit, sawah terasering, hutan bambu, pinus, dibalut cuaca dingin menambah perhatian bagi siapa saja yang datang langsung menyaksikan. “Sering ke Toraja. Tapi ke tempat ini (Dipomelopindan) baru kali ini,” ujar warga yang biasa di sapa Papa Tato itu. Ia dan keluarga besarnya tinggal di Poso, Sulteng. Namun ia juga memiliki keluarga di Toraja.
Menatap kumpulan awan putih memang sangat memanjakan mata. Satu persatu para pengunjung mulai mengabadikan momen indah itu. Jebretan kamera ponsel diarahkan kesetiap sudut awan yang datang bagai lautan.
Rahmat pria asal Mamuju, Sulbar juga tak menyianyiakan kesempatan itu. Ia tak bosan mengarahkan pandangannya kesetiap bukit yang dipenuhi awan.
Ia terkagum akan ke indahan Toraja dari puncak Dipomelopindan. Hamparan sawah hijau, dan dikelilingi bukit yang menjulang. Yah inilah Toraja, kota dengan sebutan 1000 destinasi. Yang memberikan rasa rindu tak akan ada habisnya ketika meninggalkannya. (*)
Penulis: Ayub Kalapadang








