PANGKEP, RAKYATSULBAR.COM –– Hujan deras disertai angin kencang menjadi salah satu faktor penghambat pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Cuaca ekstrem ini membuat pergerakan personel tim SAR gabungan sangat terbatas. Selain hujan dan angin kencang, kabut tebal yang menyelimuti kawasan tersebut menyebabkan jarak pandang relatif dekat.
Medan yang terjal dan curam di kawasan pegunungan dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi. Lereng yang curam mengharuskan tim penyelamat memiliki keahlian khusus untuk dapat melintasinya dengan aman. Gunung Bulusaraung berada dalam kawasan taman nasional dengan topografi relief tinggi, lereng terjal, serta tekstur permukaan tanah yang kasar.
Jenis tanah di kawasan tersebut didominasi humitropepts, yang umumnya ditemukan di daerah berlereng terjal dan puncak bukit kapur. Gunung dengan ketinggian 1.353 meter di atas permukaan laut (MDPL) ini cukup populer bagi kalangan pendaki dan pecinta alam, utama di Sulawesi Selatan.
Setiap akhir pekan, banyak pendaki naik untuk menikmati panorama puncak, meski diapit jurang terjal di sisi kiri dan kanan. Untuk wilayah lerengnya, tutupan vegetasi masih sangat terjaga dengan pepohonan lebat, sementara di sekitar puncak hanya ditumbuhi ilalang dan pohon pendek setinggi satu hingga dua meter.
Budiman (37), salah satu relawan yang terlibat dalam operasi SAR pencarian korban pesawat ini mengungkapkan kondisi cuaca buruk sudah terjadi sejak malam hari. Dia bersama beberapa tim SAR lainnya sehari sebelumnya memutuskan untuk menginap di pos 9 Gunung Bulusaraung dengan pertimbangan kondisi fisik serta medan.
“Jam setengah dua subuh sampai pagi badai, malah sampai sekarang kayaknya. Hujan sama angin kencang, kabut,” kata Budiman saat tiba di Posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Selasa sore (20/1/26).
Dengan pakaian yang masih penuh lumpur, Budiman menceritakan beratnya perjalanan yang dia lalui bersama personel tim SAR gabungan. Budiman merupakan salah satu anggota SAR yang turun langsung dalam proses pencarian hingga berhasil menemukan satu jenazah perempuan yang tersangkut di batang pohon pada tebing curam.
Menurut dia, kondisi jalur sangat ekstrem membuat para relawan atau tim SAR harus mengandalkan tali sebagai alat utama untuk menjangkau titik-titik yang diduga terdapat korban.
“Susah sekali jalurnya, ditambah licin karena hujan terus,” tutur Budiman.
Lokasi ditemukannya korban sangat jarang terjamah manusia. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki bahkan awalnya ditemukan warga pencari madu hutan yang kerap beraktivitas di kawasan tersebut. Medan yang sulit membuat proses evakuasi berjalan lamban dan memakan waktu hingga tiga hari sejak korban pertama kali ditemukan, Minggu (18/1/26) siang.
Sementara itu, jenazah perempuan yang ditemukan pada Senin (19/1/26) siang hingga kini masih berada di lereng gunung karena kendala cuaca dan kedalaman jurang.
“Ini karena sudah kita sampaikan, posisi korban itu di lereng sedalam 400 meter. Penarikan saja sampai dengan tadi lagi, tinggal seratus meter (sampai puncak Gunung Bulusaraung),” ujar Danrem 141 Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan.
“Masih tinggi cukup tinggi, tapi kita masih berupaya semua tim evakuasi yang ada berusaha sekuat mungkin bisa sampai ke puncak,” sambung Andre.
Meski cuaca ekstrem terus terjadi, Andre memastikan seluruh personel tetap memaksimalkan upaya evakuasi terhadap korban yang telah ditemukan.
Evakuasi Korban Berhasil
Dua korban yang ditemukan berhasil dievakuasi oleh tim SAR. Satu korban berjenis kelamin laki-laki yang belum diketahui identitasnya berhasil dibawa ke desa terdekat setelah tiga hari dilakukan proses evakuasi oleh tim SAR gabungan dari lereng curam Gunung Bulusaraung, Selasa sore. Jenazah pertama kali ditemukan oleh Arman, warga Desa Tompobulu , Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, pada Minggu (18/1/2026) siang. Sulitnya medan ditambah cuaca buruk membuat jalur ke titik evakuasi berisiko tinggi untuk dilakukan hingga memakan waktu.
Sedangkan mayat perempuan yang ditemukan tim SAR gabungan tersangkut di batang pohon dengan posisi tengkurap berhasil dievakuasi ke Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, pada Selasa (20/1/26) malam.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan bahwa evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 dilakukan melalui operasi teknis berisiko tinggi di medan ekstrem dengan kedalaman mencapai ratusan meter. Tim SAR gabungan, kata dia, melakukan teknik rappeling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat menabrak punggungan.
“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” kata Arif.
Dia menjelaskan, sebanyak 10 personel dari unsur Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah. Salah satu rescuer Basarnas Makassar yang turun langsung ke jurang, Rusmadi, mengungkapkan kondisi yang dihadapi tim di lapangan.
Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan dengan posisi tersangkut di dahan pohon pada pukul 13.43 wita. Setelah itu, tim melakukan proses packing jenazah selama kurang lebih satu jam karena posisi korban berada di kemiringan kurang lebih 30 derajat dan tepat di bibir tebing.
Upaya pengangkatan jenazah sempat dilakukan ke arah atas sejauh sekitar 60 meter. Namun karena keterbatasan tenaga, peralatan, serta kondisi hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi lapangan.
“Setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” jelas Rusmadi.
Namun selama proses evakuasi ke bawah yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras disertai kabut tebal dan suhu dingin menyelimuti area operasi, membuat pergerakan tim semakin terbatas. Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.
“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.
Dia menambahkan, pada siang hari berikutnya (19/1/2026), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.
“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujar dia.
Tim kedua yang melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan kampung Lampeso dengan waktu tempuh 20 jam perjalanan dan melanjutkan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju ke kampung baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan yang bervariasi, punggungan dan sungai.
Kemudian dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana dan kemudian akan dievakuasi ke RS Bayangkhara Makassar untuk diserahkan ke pihak DVI.
Danrem 141 Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan juga menyampaikan bahwa proses evakuasi akan dilakukan lewat wilayah Kabupaten Maros dengan memakan waktu berjalan kaki 4 sampai 5 jam.
“Itu berada di Kabupaten Maros, ini sedang dalam proses evakuasi karena sampai dengan desa terdekat kemudian masih sampai dengan jalan utama masih kurang lebih 4 sampai 5 jam dengan berjalan kaki,” ujar dia.
Anjing Pelacak Dikerahkan
Seluruh potensi dikerahkan dalam operasi pencarian korban Pesawat ATR 42-500 di kawasan lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Selain warga pencari madu, K-9 atau anjing pelacak milik Direktorat Samapta Polda Sulsel juga didatangi ke Posko AJU, di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci. Anjing pelacak ini tiba di Posko AJU sekitar pukul 14.40 Wita, Selasa (20/1/2026), untuk memperkuat tim SAR gabungan yang masih melakukan pencarian di sekitar lereng Gunung Bulusaraung.
Kanit K-9 Polsatwa Ditsamapta Polda Sulsel, Iptu Samuel Ary menjelaskan anjing pelacak itu memiliki kemampuan khusus dalam mendeteksi keberadaan korban di medan berat, khususnya area hutan dan pegunungan yang sulit dijangkau.
“Kami datang ke sini untuk ikut membantu pencarian korban pesawat pesawat ATR 42-500,” kata Samuel.
Dia mengatakan, satwa K-9 ini rencananya akan langsung diterjunkan ke kawasan hutan di sekitar lereng Gunung Bulusaraung untuk membantu menemukan beberapa korban yang hingga sekarang masih dalam proses pencarian.
Selain itu, Samuel menjelaskan bahwa anjing pelacak yang dibawa ini memiliki kemampuan khusus dalam operasi pencarian dan penyelamatan atau SAR.
“Kemampuan satwa kami adalah kemampuan SAR, bisa deteksi korban di alam,” imbuh dia.
Samuel menyebut, anjing pelacak tersebut merupakan jenis pengembala asal Belanda yang dikenal memiliki insting penciuman kuat serta ketahanan fisik di medan ekstrem. Dia mengungkapkan bahwa Direktorat Samapta Polda Sulsel memiliki total tujuh ekor satwa K-9 yang siap digunakan dalam berbagai operasi kepolisian dan kemanusiaan.
“Saat ini satu ekor mengingat kondisi cuaca juga tidak kondusif, nanti kami kerahkan lagi. Polda Sulsel di Direktorat Samapta itu memiliki tujuh ekor satwa K-9,” jelasnya.
Keluarga Saksikan Proses Pencarian
Keluarga Deden Maulana (sebelumnya ditulis Deden Mulyana) datang langsung ke Posko AJU, di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, untuk melihat proses pencarian korban Pesawat ATR 42-500. Desa yang terletak di kaki Gunung Bulusaraung ini dijadikan sebagai posko utama SAR.
Deden tercatat dalam manifest penumpang Pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di sekitar Gunung Bulusaraung pada Sabtu (17/1/2026), saat dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Asep Hilman Rosadi sendiri adalah adik ipar Deden Maulana. Ia engaku kedatangannya ke Kota Makassar difasilitasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Sebagaimana diketahui, Deden adalah pegawai Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP sebagai pengelola barang milik negara. Kata dia, kedatangannya di posko utama ini untuk memastikan langsung perkembangan pencarian korban sekaligus menghindari informasi simpang siur yang beredar di media sosial.
“Saya keluarga dari bapak Deden Maulana, PNS dari Kementerian Kelautan yang ikut di pesawat,” kata Asep.
Asep mengatakan, berangkat dari Bandung dengan tujuan mencari informasi yang valid dan jelas terkait kondisi keluarganya itu. Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial maupun justru menambah kegelisahan keluarganya.
“Sebagai keluarga tentunya mencoba mencari informasi di posko ini. Alhamdulillah saya ucapkan terimakasih banyak, Basarnas, TNI, relawan, dan semua, alhamdulilah saya diterima dengan baik,” ujar dia.
Asep mengaku penjelasan langsung dari petugas di Posko AJU bisa membuat keluarganya lebih tenang. Sebab informasi yang disampaikan petugas jauh lebih akurat dibanding kabar yang beredar di media sosial.
“Saya diberikan informasi-informasi yang tentunya lebih jelas. Karena jujur saja kami dari pihak keluarga mendapatkan berita-berita di TikTok, Instagram, simpan siur sekali. Tapi dengan di sini ada penjelasan, itu setidaknya kami mendapatkan informasi yang lebih tepat gitu yah,” kata Asep.
Asep menegaskan bahwa keluarga telah berusaha menguatkan diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, apapun kondisi korban ditemukan. “Tetapi kami sejujurnya dari keluarga pak Deden Maulana, tentu insyaallah sudah rida, ikhlas, apapun kondisinya,” ucap dia.
Dana Operasional Rp 2,5 Miliar
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan Sudirman Sulaiman menyatakan Pemprov Sulsel menyiapkan anggaran Rp 2,5 miliar untuk menunjang seluruh rangkaian pencarian di lapangan.
“Kami alokasikan sekitar Rp 2,5 miliar bantuan kebencanaan dalam pengerahan personel pencarian ATR 42-500,” ujar Sudirman.
Sudirman menjelaskan, dana tersebut mencakup pembiayaan logistik harian bagi personel, pemenuhan kebutuhan operasional, serta dukungan teknis lainnya. Menurutnya, kelancaran logistik menjadi faktor penting agar pencarian dapat dilakukan secara berkelanjutan dan optimal.
Selain dukungan anggaran, Sudirman juga memastikan telah menurunkan tim kebencanaan dan tim kesehatan ke lokasi. Pemprov juga mengerahkan ambulans dan sarana pendukung lainnya untuk menunjang kebutuhan di lapangan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan seluruh personel yang bertugas mendapatkan dukungan maksimal. Utamanya dari sisi keselamatan, kesehatan, maupun ketersediaan logistik. (isak pasa’buan-nabilah ansar/C)







