MATENG, RAKYATSULBAR.COM — Kepala Desa Pangalloang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Herman, akhirnya angkat bicara terkait insiden dugaan pemukulan yang dilakukan seorang Ketua RT terhadap warganya. Ia menegaskan, tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dan akan berujung pada sanksi.
Herman mengaku tidak berada di lokasi saat insiden terjadi. Menurutnya, peristiwa itu berlangsung malam hari ketika ia tengah menghadiri acara aqiqah.
“Saat kejadian saya tidak tahu karena siangnya ada acara aqiqah. Ternyata malamnya ada lomba main kartu, dan di situlah terjadi insiden,” ujar Herman melalui sambungan telepon, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, sebelum kejadian, korban disebut-sebut telah lama menjadi perhatian warga.
Informasi yang diterima pemerintah desa menyebutkan korban diduga kerap mengambil hasil kebun milik warga, mulai dari kelapa hingga sawit.
“Korban ini sebelumnya dikejar warga desa tetangga karena diduga mengambil sawit sampai ke timbangan. Laporan itu juga sampai ke pak RT,” ungkapnya.
Herman menyebut, laporan warga terhadap dugaan pencurian itulah yang memicu emosi hingga berujung pada dugaan pemukulan oleh Ketua RT.
“Dari laporan itulah terjadi insiden. Tapi seharusnya tidak boleh langsung memukul, apalagi main hakim sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa korban sempat mengakui perbuatannya di hadapan dirinya.
“Korban sempat mengaku di depan saya bahwa ia mengambil sawit enam janjang,” tambah Herman.
Pasca-kejadian, pemerintah desa berupaya menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dengan melakukan mediasi. Namun upaya tersebut ditolak oleh pihak keluarga korban yang memilih menempuh jalur hukum.
“Kami sempat melakukan mediasi malam itu, bahkan ingin menjadwalkan mediasi lanjutan bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa, tetapi keluarga korban menolak,” jelasnya.
Meski demikian, Herman menegaskan bahwa pemerintah desa tidak akan melindungi aparat yang melakukan pelanggaran.
“Kami akan memberikan sanksi kepada pak RT atas dugaan pemukulan ini,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya evaluasi bersama agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ini jadi pelajaran bagi kita semua. Setiap persoalan harus disikapi secara objektif dan diserahkan ke pihak berwajib, bukan main hakim sendiri,” pungkas Herman. (Muh.Fajrin)








