Oleh: KH.Masrur Latanro (Ketua Umum MUI Provinsi Bali/Presidium PP IAPIM)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Bulan Ramadhan adalah tamu agung yang selalu dinanti oleh umat Islam dengan hati penuh rindu dan kegembiraan. Ia hadir membawa cahaya, menenangkan jiwa yang lelah, serta membuka pintu-pintu kebaikan yang terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada Allah SWT. Karena itu, menyambut Ramadhan bukan dengan biasa-biasa saja, melainkan dengan rasa syukur, kegembiraan, dan persiapan lahir batin.
Kegembiraan menyambut Ramadhan bukanlah kegembiraan yang hampa, tetapi kegembiraan yang dilandasi oleh kesadaran iman. Ramadhan adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup, bulan dilipatgandakannya pahala, dan bulan diampuninya dosa-dosa hamba yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Setiap detik Ramadhan bernilai ibadah, setiap amal kebaikan memiliki makna yang lebih dalam.
Rasa gembira menyambut Ramadhan juga tercermin dari kesiapan diri untuk berubah menjadi lebih baik. Kita menyambutnya dengan niat memperbaiki ibadah, memperhalus akhlak, menjaga lisan dan perbuatan, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih kesabaran, kejujuran, disiplin, dan empati terhadap sesama.
Dalam kehidupan sosial dan kelembagaan, Ramadhan menjadi momentum memperkuat kebersamaan dan solidaritas. Di bulan ini, semangat berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah semakin hidup. Perbedaan diredam oleh ukhuwah, dan kepedulian sosial tumbuh menjadi budaya. Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang bisa kita bagikan.
Bagi dunia pendidikan dan generasi muda, Ramadhan adalah sarana pembentukan karakter. Ia mendidik jiwa agar kuat menghadapi tantangan, jujur dalam belajar, disiplin dalam waktu, serta bertanggung jawab dalam amanah. Ramadhan melahirkan pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Menyambut Ramadhan dengan gembira berarti menyambut kesempatan emas untuk muhasabah dan pembaruan diri. Ia mengajak kita menata niat, meluruskan tujuan hidup, dan memperbaiki hubungan—baik dengan Allah SWT, dengan sesama manusia, maupun dengan diri sendiri. Ramadhan datang bukan untuk memberatkan, tetapi untuk membebaskan jiwa dari belenggu hawa nafsu.
Gembira menyambut Ramadhan adalah tanda hati yang hidup. Sebab orang yang beriman menyambut Ramadhan dengan harapan: harapan akan ampunan, rahmat, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna. Semoga Ramadhan yang akan kita jalani menjadi Ramadhan terbaik dalam hidup kita—Ramadhan yang meninggalkan jejak kebaikan jauh setelah ia berlalu.
Marhaban ya Ramadhan.
Selamat datang bulan suci, bulan penuh berkah, bulan pembentuk insan bertakwa.
Wallahu Waliyyul Muttaqien. (*)








