Menakar Sukses Sejati: Bukan Sekadar Gelar, Tapi Tentang Karakter dan Investasi Langit

  • Bagikan

Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro. Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Bagi banyak orang, puncak kesuksesan sering kali disimbolkan dengan selembar ijazah atau gelar akademik mentereng. Namun, jika kita merenung lebih dalam sebagaimana yang saya tuangkan dalam Balancing of Life, wisuda atau kelulusan hanyalah sebuah titik awal dari perjalanan panjang yang sesungguhnya. Pertanyaan besarnya bukan lagi “apa gelar Anda?”, melainkan “kualitas personal apa yang Anda bawa?”

Sukses Bukan Produk Instan

Sukses sejati tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari benih yang ditanam jauh sebelumnya. Saya teringat pesan orang tua saya yang selalu menekankan bahwa disiplin, kerja keras, dan kejujuran adalah modal utama untuk bertahan dan berkarya. Dalam dunia profesional, kualifikasi akademik memang penting sebagai pembuka jalan, namun kualifikasi personal seperti kejujuran dan kemampuan bergaul get along with people adalah kunci yang menjaga pintu kesuksesan tetap terbuka.

Rumus 5C untuk Masa Muda

Untuk generasi muda yang sedang mencari arah, saya menawarkan formula 5C sebagai kompas navigasi hidup:

  1. Communication (Komunikasi): Kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik.
  2. Competence (Kompetensi): Keahlian di bidang yang ditekuni.
  3. Community (Komunitas): Membangun jejaring yang positif.
  4. Creativity (Kreativitas): Kemampuan melahirkan solusi baru.
  5. Character (Karakter): Inilah fondasi dari segalanya.

Tanpa karakter, empat poin sebelumnya akan kehilangan maknanya. Karakter adalah apa yang kita lakukan saat tidak ada orang yang melihat.

Ramadhan dan Konsistensi Menanam Kebaikan

Dalam konteks spiritual, terutama di bulan Ramadhan, kita diajarkan tentang konsistensi. Ada sebuah pesan kuat: jika besok kiamat akan tiba dan di tanganmu masih ada bibit pohon, maka tetaplah menanamnya. Ini adalah motivasi tertinggi untuk tidak pernah berhenti berbuat baik, apa pun situasinya.

Pemenang kehidupan bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tetap merasakan ketenteraman di tempat yang pahit, rendah hati di tengah keangkuhan, dan damai di tengah konflik. Hati manusia memiliki dimensi ketuhanan yang selalu meniupkan roh kebenaran, menuntun kita menuju budi pekerti mulia.

Mengemas Amalan

Pada akhirnya, kita hadir di dunia ini tidak membawa apa-apa, dan pasti kembali tanpa membawa apa-apa pula. Hanya pahala kebaikan atau dosa kejahatan yang akan menyertai kepulangan kita. Sudahkah kita mengemas amalan dan menyejukkan “makam” kita kelak dengan ketaatan yang nyata hari ini?

Tetaplah bersyukur dalam semua cuaca, karena hidup yang sesungguhnya adalah hidup pada saat ini, bukan bayang-bayang masa lalu, bukan pula ketakutan akan masa depan yang tak pasti. (*)

  • Bagikan