MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, Dr. H. Muhammad, menegaskan bahwa negara hadir untuk memastikan legalitas dan mutu pondok pesantren melalui proses verifikasi faktual izin operasional. Penegasan tersebut disampaikan saat melakukan verifikasi faktual tanda daftar izin operasional Pondok Pesantren Daarul Hafidzoh di Bukit Baruga, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Senin (2/3/2026).
Kegiatan ini turut didampingi Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Hasan Pinang, serta dihadiri pimpinan yayasan, kiyai, ustaz/ah, para santri, dan orang tua santri.
Dalam arahannya, Kakankemenag menekankan bahwa verifikasi faktual merupakan bagian penting dari proses penerbitan izin operasional sebagai bentuk pembinaan dan penguatan kelembagaan pesantren.
“Pesantren memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa dan pembentukan karakter umat. Karena itu, negara harus memastikan seluruh persyaratan administratif dan substantif terpenuhi serta tetap berada dalam bingkai NKRI,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan Verifikasi Faktual ini lebih menekankan pengajian kitab kuning, yang dibawakan oleh Dr.KH. Syahrir Nuhun, Lc.MA, sebagai salah satu tenaga pengajar di pesantren ini, yakni kitab Tafsir Jalalain.
Sementara itu, Hasan Pinang, Kasi Pontren Kemenag Makassar mengingatkan bahwa pondok pesantren harus memenuhi unsur utama, yang disebut dengan khamsatu arkanul Ma’ahid, 5 rukun pokok yang harus dipenuhi sebuah yakni adanya Kiyai, Kajian Kitab, santri, asrama, masjid, serta kurikulum. Menurutnya, legalitas bukan sekadar administrasi, tetapi bentuk perlindungan negara terhadap lembaga pendidikan keagamaan dan masyarakat.
“Hari ini kami melakukan pengecekan langsung dokumen, kurikulum, data santri, kejelasan lokasi, serta memastikan aktivitas kajian kitab berjalan sesuai laporan. Secara administrasi, seluruh persyaratan telah terpenuhi,” ujarnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Hafidzoh, KH. Bimas Maryono, menyampaikan apresiasi atas pendampingan Kemenag dalam proses perizinan tersebut. Ia menegaskan komitmen pesantren untuk mengutamakan kualitas pendidikan.
“Kami lebih menekankan kualitas dibanding kuantitas. Alhamdulillah, sejumlah santri kami diterima di perguruan tinggi, termasuk fakultas kedokteran. Kami juga terus mendorong santri memiliki wawasan kebangsaan dan menjadi kontributor manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Dr.KH.Dimas Maryono, proses awal pesantren ini adalah dari sebuah pengajian/Majlis Taklim, berkah keuletan ibu-ibu berinisiatif melaksanakan Tahfizh, menjadi rumah tahfizh dan berkembang terus. Beliau menegaskan pesaantren ini ibaratnya disponsori oleh rass terkuat dunia, yakni kaum ibu. (*)








