TAKALAR, RAKYATSULBAR.COM – Karantina Sulawesi Selatan bersama Direktur Manajemen Risiko Bidang Karantina Ikan melakukan kunjungan ke salah satu eksportir telur ikan terbang, PT. BLP di Kabupaten Takalar. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kelayakan fasilitas serta memastikan seluruh kegiatan operasional perusahaan telah sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) karantina, keamanan dan mutu pangan.
PT BLP merupakan salah satu eksportir aktif yang berfokus pada pengolahan telur ikan terbang. Produk yang dihasilkan telah melalui proses pembersihan intensif hingga terpisah dari seratnya. Selama empat tahun terakhir, perusahaan ini konsisten menyuplai pasar Korea dan China. Dengan penerapan biosecurity, ketertelusuran serta keamanan dan mutu pangan, perusahaan telah memperkuat legalitas persaingan produk di pasar global.
Dalam tinjauan tersebut, dijelaskan bahwa alur produksi dimulai dari penerimaan bahan baku yang telah diproses awal di gudang supplier hingga produk akhir yang diklasifikasikan ke dalam tiga grade (A, B, dan C) sesuai standar SNI 2720 Point 1 Tahun 2023. Untuk menjaga stabilitas mutu, perusahaan menerapkan sistem penyimpanan dengan suhu stabil antara 18 hingga 25°C untuk menghindari kelembapan tinggi yang berisiko memicu pertumbuhan jamur atau perubahan warna pada telur ikan.
Terkait pasokan, ketersediaan bahan baku sangat bergantung pada musim bertelur yang berlangsung mulai bulan Juni hingga Oktober, dengan wilayah tangkapan utama dari Galesong kab. Takalar Sulawesi Selatan hingga Dobo, Maluku. Meski pasokan lokal relatif aman, tantangan logistik dari wilayah jauh seperti Dobo yang memerlukan transportasi kapal besar masih menjadi perhatian utama perusahaan dalam menjaga konsistensi produksi.
Sugeng Sudiarto, Direktur Manajemen Risiko Karantina Ikan, menyatakan bahwa kepatuhan terhadap standar operasional bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan dasar untuk melindungi reputasi ekspor perikanan nasional. Beliau menilai sistem kontrol mutu di PT Bumi Laut Pertiwi sudah berada pada jalur yang tepat, terutama dengan adanya pengujian kualitas berbasis SNI dan penggunaan deteksi logam.
“Kami sangat mengapresiasi komitmen perusahaan dalam menjaga standar mutu, mulai dari proses sortir hingga penggunaan teknologi metal detector. Langkah ini sangat krusial untuk memitigasi risiko klaim dari negara tujuan. Karantina akan terus melakukan pendampingan agar rencana ekspansi ke pasar Eropa dan Amerika Serikat dapat segera terealisasi dengan memenuhi seluruh persyaratan teknis yang diminta oleh negara mitra.” Sementara itu, Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah menegaskan bahwa pengawasan dan pendampingan seperti ini merupakan bagian dari tugas karantina dalam menjaga reputasi ekspor nasional.
“Telur ikan terbang adalah salah satu komoditas unggulan Sulawesi Selatan yang telah dikenal di pasar internasional. Tugas kami memastikan setiap produk yang diekspor memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan negara tujuan. Dengan pengawasan yang konsisten dan pembinaan berkelanjutan, kita tidak hanya menjaga kelancaran ekspor, tetapi juga memperkuat kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia,” jelasnya.
la juga menambahkan bahwa sinergi antara pelaku usaha dan karantina menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan ekspor, terutama di tengah dinamika regulasi internasional yang semakin ketat. Kunjungan ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi produk perikanan Sulawesi Selatan di pasar internasional, sekaligus memastikan bahwa setiap komoditas yang keluar dari Indonesia memiliki jaminan kesehatan dan keamanan pangan yang tinggi. (Emi)








