Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Generasi muda Islami yang tumbuh di tengah boomingnya teknologi industri 4.0 dengan berbekal kematangan pemahaman agama, menjadi modal sosial untuk terus mengembangkan diri.
Santri bersumber dari Sun dan Three, artinya tiga matahari. Matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas pada Bumi di siang hari. Matahari identik dengan sumber energi tanpa batas. Santri yaitu insert-nya iman, prosessing-nya Islam dan output-nya ikhsan. Oleh sebab itu, santri beriman kepada Allah, berpegang teguh kepada aturan Islam, dan berbuat ikhsan kepada sesama.
Secara intrinsik, pesantren telah memperkuat basis karakter santri sehingga melahirkan santri beretika luhur (strong ethic), berakhlak mulia (positive attitude), dan berintegritas (integrity).
Secara ekstrinsik, nilai-nilai profetik berimplikasi pada civil society, clean goverment dan strong entrepreneur. Nilai-nilai ini menjadi paku bumi kemajuan sebuah peradaban.
Santri zaman now tidak boleh berlaku seperti Robin Hood cerita legenda pada abad pertengahan XIII-XIV di Inggris, yang dianggap sebagai pahlawan yang merampok harta orang-orang kaya lalu membagikan kepada orang-orang miskin.
Mengapa? Secara theocentris, santri memahami bahwa seluruh aktivitas di dunia ini menjadi bagian integral dengan totalitas kehidupan keagamaan. Karena itu, dipastikan bahwa tidak ada seorang santri yang tertarik bermain judi online. Dengan strong ethik, mustahil santri menjadi Machiavellian, ends justify the means atau lain di bibir lain di hati ketika terjun dalam kancah politik. Meski pun dalam adagium, politisi dimungkinkan untuk berbohong.
Ketika santri menjadi pejabat, sejatinya dia membawa fresh breeze kesejahteraan dan keadilan kepada publik.
Tepat sekali qaulul Qadim berbunyi:
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
“Memelihara nilai yang baik, dan mengadopsi metode baru yang lebih baik.
Berarti santripreneur, selain menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi, santri sepatutnya juga memiliki skill entrepreneur yang mumpuni, berintegritas dan berakhlak mulia. Tiga profetik di atas menjadi paku bumi keajegan suatu peradaban. (*)







