Oleh: Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Manusia senantiasa memerlukan atribusi dan identitas diri demi merawat eksistensi di tengah dunia yang kian riuh. Namun, dalam perjalanannya, sering kali terjadi pergeseran makna: manusia mulai mengidentikkan nilai dirinya dengan apa yang ia miliki (having), bukan dengan siapa ia sebenarnya (being).
Dalam modus having, keberadaan seseorang seolah ditentukan oleh tumpukan materi. Semakin melimpah harta, semakin dianggap eksis. Paradigma ini tak jarang membelenggu manusia dalam jerat hedonisme dan materialisme. Fenomena ini berakar dari paham kapitalisme yang cenderung mereduksi tujuan hidup manusia hingga teralienasi dari realitas yang hakiki. Erich Fromm dalam karyanya, *To Have or To Be*, telah lama melempar diskursus fundamental: apakah sebaiknya manusia bersikap “memiliki” atau bersikap “menjadi”?
Tak pelak, orientasi manusia modern kian condong pada kepemilikan. Modus having yang bersifat hedonistik terus mengejar kelimpahan materi, kebebasan tanpa batas, hingga eksploitasi alam secara serampangan demi kekuasaan. Di era disrupsi, metamesta, dan dominasi kecerdasan buatan seperti saat ini, nilai-nilai humanisme kian goyah tertutup oleh gemerlap pencapaian lahiriah.
Ironisnya, predikat “aristokrat” atau “borjuis” sering kali disematkan hanya berdasarkan kepemilikan yang meluap. Secara empiris, banyak yang mengoleksi istana, vila eksklusif, hingga kendaraan mewah dengan jenama mentereng seperti Rolls-Royce atau Lamborghini. Namun, sering kali itu semua hanyalah simbol pengakuan dan identitas kepemilikan belaka. Sebuah paradoks kehidupan muncul ketika kemewahan tersebut justru lebih banyak dinikmati oleh penjaga vila atau sopir pribadinya. Inilah realitas di mana kemasan lebih mengemuka ketimbang substansi.
Erich Fromm menawarkan jalan lain: memahami eksistensi melalui modus being. Ini adalah potret pribadi yang menitikberatkan pada aktivitas batin dan akal budi mereka yang menemukan makna dalam berbagi, berempati, dan memberi. Bukankah dalam hakikat kehidupan, memberi sesungguhnya adalah menerima?
Menjalani kehidupan dengan prinsip being jauh lebih mulia dan menenangkan ketimbang terus terjebak dalam perlombaan having. Sebuah pepatah Latin mengingatkan: Qui totum vult totum perdit seseorang yang menginginkan segalanya justru akan kehilangan segalanya.
Sebagai simpulan, kebijaksanaan hidup terletak pada kemampuan untuk senantiasa mensyukuri apa yang telah dipunyai dan ikhlas menerima ketetapan takdir. Sebab pada akhirnya, nilai seorang manusia tidak diukur dari apa yang ia genggam, melainkan dari apa yang ia pancarkan bagi sesama. (*)








