Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada masa ini adalah I’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai bentuk ibadah.
Secara bahasa, i’tikaf berarti menetap atau berdiam diri pada suatu tempat. Dalam istilah syariat, i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT dalam waktu tertentu.
I’tikaf bukan sekadar tinggal di masjid, tetapi merupakan momentum untuk memutus sejenak hubungan dengan kesibukan dunia dan memusatkan hati hanya kepada Allah. Dalam suasana ini, seorang Muslim memperbanyak ibadah seperti:Shalat sunnah, Membaca Al-Qur’an; Berdzikir dan berdoa; Muhasabah (introspeksi diri); Memperbanyak istighfar
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat kuat dalam menghidupkan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi selalu melakukan i’tikaf pada hari-hari tersebut.
Diriwayatkan dari Aisyah RA, beliau berkata: “Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa i’tikaf merupakan amalan yang memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
Salah satu tujuan utama i’tikaf adalah mencari malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini diyakini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Pada malam tersebut, Allah menurunkan keberkahan, rahmat, dan pengampunan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kesungguhan ibadah pada masa ini.
I’tikaf memiliki banyak hikmah dalam kehidupan spiritual seorang Muslim, di antaranya: Mendekatkan diri kepada Allah
Dengan menjauh dari hiruk pikuk dunia, hati menjadi lebih tenang dan fokus kepada ibadah; Melatih kesederhanaan dan pengendalian diri
I’tikaf mengajarkan kita untuk hidup sederhana dan tidak terikat pada kenyamanan dunia; Membersihkan hati dan jiwa. Dzikir, doa, dan tilawah Al-Qur’an selama i’tikaf membantu membersihkan hati dari kesombongan, iri, dan sifat buruk lainnya; Momentum muhasabah, I’tikaf memberi kesempatan untuk merenungi perjalanan hidup, memperbaiki kesalahan, dan merencanakan perubahan ke arah yang lebih baik.
Di tengah kesibukan kehidupan modern, i’tikaf menjadi kesempatan langka untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia. Masjid menjadi ruang spiritual yang menenangkan, tempat hati kembali terhubung dengan Sang Pencipta.
Bagi sebagian orang yang tidak dapat i’tikaf penuh sepuluh hari, mereka tetap dapat mengambil bagian dengan i’tikaf beberapa malam atau beberapa jam, terutama pada malam-malam ganjil.
Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim dalam bulan suci. I’tikaf menjadi sarana untuk memperdalam hubungan dengan Allah, memperbanyak ibadah, dan memohon ampunan atas segala dosa.
Semoga melalui i’tikaf, hati kita menjadi lebih bersih, iman semakin kuat, dan kita termasuk hamba yang mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga perjalanan kembali kepada Allah dengan hati yang lebih suci.
Wallahu Waliyyul Muttaqien. (*)





