Oleh: Prof. Dr. H. Nurhidayat M. Said, M.A (Ketua Lembaga Dakwah IMMIM (LADIM)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM -Ada saat-saat tertentu dalam perjalanan waktu ketika jarak antara langit dan bumi terasa begitu tipis. Bukan karena langit turun secara fisik, dan bukan pula bumi yang naik mendekatinya, tetapi karena hati manusia sedang berada pada titik paling peka untuk merasakan kehadiran Tuhan. Pada saat itulah manusia merasakan bahwa doa tidak perlu berteriak terlalu keras untuk sampai ke langit.
Ramadhan, terutama pada malam-malam terakhirnya, sering digambarkan para ulama sebagai waktu ketika langit terasa lebih dekat kepada bumi. Ini bukan sekadar ungkapan puitis, tetapi sebuah kesadaran spiritual bahwa rahmat Ilahi sedang terbuka lebih luas daripada biasanya. Pintu-pintu langit tidak sekadar terbuka, tetapi seolah memanggil manusia untuk mendekat.
Dalam pandangan para sufi, langit bukan hanya ruang kosmik di atas sana, tetapi simbol dari kedalaman rahasia Tuhan. Ketika dikatakan langit mendekat, yang dimaksud sebenarnya adalah terbukanya tirai-tirai yang selama ini menutupi hubungan manusia dengan Tuhannya. Pada saat itu, hati menjadi lebih jernih, dan jiwa lebih mudah menangkap cahaya petunjuk.
Manusia pada hakikatnya hidup di antara dua tarikan: tarikan bumi dan tarikan langit. Bumi menarik manusia pada kebutuhan jasmani, kesibukan dunia, dan kelekatan terhadap materi. Sementara langit memanggil manusia menuju kesucian, keheningan, dan kerinduan kepada Yang Maha Abadi. Ketika langit terasa lebih dekat, panggilan itu menjadi lebih kuat daripada biasanya.
Itulah sebabnya banyak orang merasakan perubahan batin yang sulit dijelaskan pada malam-malam Ramadhan. Ada ketenangan yang tidak biasa, ada air mata yang tiba-tiba jatuh dalam doa, dan ada perasaan kecil di hadapan kebesaran Tuhan. Seakan-akan hati manusia sedang disentuh oleh sesuatu yang tidak terlihat, tetapi sangat nyata dirasakan.
Para arif pernah mengatakan bahwa sebenarnya langit tidak pernah jauh dari bumi. Yang jauh adalah hati manusia dari kesadarannya tentang Tuhan. Ketika hati tertutup oleh kesibukan dunia, langit terasa sangat jauh. Tetapi ketika hati dibersihkan dengan dzikir, doa, dan ibadah, jarak itu seolah lenyap begitu saja.
Pada malam-malam ketika langit terasa lebih dekat, manusia sebenarnya sedang diundang untuk kembali mengenal dirinya sendiri. Sebab dalam tasawuf, mengenal diri adalah pintu untuk mengenal Tuhan. Ketika seseorang menyadari betapa lemahnya dirinya, di situlah ia mulai merasakan betapa dekatnya pertolongan Allah.
Malam yang penuh rahmat itu juga mengajarkan bahwa keheningan memiliki bahasa yang lebih dalam daripada kata-kata. Ketika seorang hamba berdiri dalam shalat di tengah malam, dunia seakan berhenti sejenak. Tidak ada hiruk-pikuk kehidupan, tidak ada sorak sorai ambisi manusia. Yang ada hanya seorang hamba dan Tuhannya.
Pada saat itulah langit tidak hanya terasa dekat, tetapi juga terasa mendengarkan. Setiap doa yang keluar dari hati yang tulus seperti menemukan jalannya sendiri menuju hadirat Ilahi. Bahkan bisikan yang paling lirih pun tidak pernah hilang dalam perjalanan menuju langit.
Namun kedekatan langit dengan bumi tidak selalu bertahan lama. Ia datang sebagai anugerah, tetapi juga sebagai ujian. Apakah manusia akan memanfaatkan kedekatan itu untuk memperbaiki dirinya, atau justru membiarkannya berlalu seperti malam-malam yang lain.
Orang-orang yang bijak tidak menunggu langit benar-benar terasa dekat untuk mengingat Tuhan. Mereka menjadikan setiap waktu sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri. Bagi mereka, langit selalu dekat, karena Tuhan tidak pernah jauh dari hamba-Nya.
Akhirnya, ketika manusia merasakan bahwa langit lebih dekat ke bumi, yang sebenarnya sedang terjadi adalah kedekatan hati dengan Tuhan. Dan mungkin di situlah rahasia terbesar kehidupan: bahwa perjalanan manusia bukanlah perjalanan menuju langit yang jauh, melainkan perjalanan pulang menuju Tuhan yang sejak awal selalu dekat. (*)





