Sorga Digital

  • Bagikan

Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Puasa dirancang oleh Allah Swt untuk membentuk pribadi yang bertaqwa. Paska  Puasa tereksternalisasi  nilai-nilai yang  visioner, telaten,  dan empati sehingga sukses berselancar pada dunia praktis. Dan In Sya Allah kelak di akhirat mendapat keridhaan Allah Swt berupa ganjaran Sorga. 

Memang betul ada levelisasi Sorga, tergatung kualitas puasa. Ada Jannatul Firdaus, Darussalam, Darul Qarar, dan ada juga Sorga Digital, yaitu: sorga produk tehnologi. 

Umat manusia telah memasuki era transformasi digital yang revolusioner, di mana teknologi informasi dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang semakin taktis, efisien dan aplikatif ini telah membuat kita tak bisa lepas dari genggaman teknologi. Dari bangun pagi hingga tidur malam, kita terus terhubung dengan dunia digital. 

Meskipun kesenjangan digital masih menjadi tantangan, namun produk-produk digital telah menjadi bagian dari keseharian kita. Lanskap karier semakin luas. Tren bisnis mengglobal. Era digital ini juga melahirkan peristilahan baru yang unik, seperti Pengobatan Digital, kampanye  digital, Quran Digital, Kesalehan Digital, Istri Digital, Ustadz Digital, dan masih banyak lagi. Ini menandai perubahan besar dalam cara kita hidup, berinteraksi, dan memahami dunia sekitar. 

Tak terelakkan, digital sistem

secara empirik telah menggerus dan menggantikan peran manusia. Teller bank, reception hotel, penerjemah, editor bahasa, hingga layanan resto.

Robot dengan presisi melakukan

operasi penyakit seorang pasien, taksi tanpa pengemudi leluasa membawa penumpang, drone mampu mengantar segelas kopi buat pelanggannya.

Hotel Henna di Urayasi -Tokyo dilayani Tuly, robot dengan teknologi artificial intelligence (AI) atau biasa disebut Akal Imitasi yang mampu melayani

kebutuhan para pengunjung, seperti menyalakan dan

mematikan lampu secara otomatis, mengatur suhu pendingin udara, hingga membacakan prakiraan cuaca.

Bahkan sudah ada biksu bernama

Xianner di Tiongkok, layaknya

pengkhotbah memberikan ceramah dan mengajarkan mantra kepada jamaah Budha. Manusia dibuat terkesima akan kemajuan teknologi informasi. Sampai-

sampai sistem berfikir kita ditentukan oleh algoritma. Kesukaan, kesalehan

dan kebencian seseorang dipasok

secara algoritmis oleh internet.

Hanya saja, ada segelintir umat Islam yang gemar berdebat  dengan modal cekak. Mereka belajar berislam secara instan di internet. Mengambil potongan informasi atau korban click bait di internet. Mereka mudah menghakimi lalu mengkavling sorga hanya untuk kelompok mereka saja. Sisanya, kelompok lain waiting list. Argumentasi mereka tanpa dasar ontologi, aksiologi dan epistemologi ilmu. Mungkin, mati mereka  kelak ditempatkan di Sorga Digital, Sorga metaforis, atau Surga Paradoksal, nama lain dari Naru Jahannam. Wallahu A’lam. (*)

  • Bagikan