Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Di tengah hiruk pikuk resolusi dan ekspektasi kerap kali kita ingin sukses dengan menciplak potret orang lain. Ada istilah social mirroring, yaitu menciptakan pesona kamuflase menaiki tangga karir. Tujuannya agar kita mendapat status sosial, validasi manusia alias pencitraan sehingga terjadi krisis identitas atau disorientasi.
Dalam aspek mental kita mengalami prilaku toxic: tidak percaya diri, depressi, ambivalen. Bahkan ada istilah bornout, hidup dalam kepura-puraan sehingga melelahkan secara emosional.
Kalau kita flash back, Orientasi hidup manusia ada 2 : menghindari rasa sakit (avoiding the pain) dan mengejar kesenangan ( looking for pleasure). Coba kita perhatikan, kita menuntut pendidikan 25 tahun. Sesdh itu kita traveling keliling dunia. Dan tidak lupa menyisihkan dana pada asuransi kalau suatu saat kesehatan terganggu.
Sesungguhnya jika ukuran keberhasilan hidup sebatas menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan hidup, itu juga menjadi basic insting dunia khewan.
Ada hukum Gossen berbunyi: *The Law of Diminishing Marginal Utility* menyebutkan betapa pun kurva kesenangan terindah yang diraih berulang – ulang akan menjadi datar, menurun, jenuh dan tak lagi menarik.
So, apa yang akan membuat kita bahagia lahir-bathin. Dalam buku *Discover Your Authentic Self at Any Age* mengajarkan agar berdamai dengan diri kita sendiri. Jangan jadikan espektasi orang lain sebagai panduan untuk menjalani hidup. Kemenangan orang lain tidak ada relasinya dengan nilai diri sendiri.
Semoga dalam suasana muhasabah akhir Ramadhan kita Self-Awareness untuk merekonstruksi pemahaman diri
yang kokoh, resiliense dan membuang kamuflase atribut hidup yg profan. Kita Kembali kepada jati diri kita asli yang suci.
Selamat Berkontemplasi Diri. (*)






