Tim SAR Temukan Dua Dompet Berisi KTP Atas Nama Dwi Murdiono dan Farhan Gunawan

  • Bagikan
Tim SAR memperlihatkan sejumlah barang yang diduga milik kru dan penumpang pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Pangkep, Senin (19/1/2026). isak/B

PANGKEP, RAKYATSULBAR.COM — Selain penemuan mayat perempuan di tepi jurang, sejumlah barang-barang milik korban pesawat ATR 42-500 juga ditemukan tim SAR gabungan dalam operasi pencarian hari ketiga ini, Senin (19/1/2026). Barang-barang tersebut telah diamankan di Posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.

Berdasarkan pengamatan Rakyat Sulsel di lokasi, barang-barang yang ditemukan tim SAR gabungan itu berupa dua buah dompet berisikan identitas diri atau KTP atas nama Dwi Murdiono dan Farhan Gunawan. Serta Id card Indonesia Air dan Airfast Indonesia milik Dwi Murdiono.

Selain itu, ada juga tablet, pisau lipat, kartu ATM, STNK, botol parfum, tas kecil, flare gun dan satu buah pelurunya, serta airbag yang salah satu sisinya terdapat bekas bakaran.

Hingga saat ini Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan, belum memberikan keterangan terkait barang-barang tersebut ditemukan di mana. Begitupun dengan update proses evakuasi dua jenazah yang berhasil ditemukan tim SAR gabungan.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 34 orang tim SAR gabungan yang terdiri dari satu kelompok diberangkatkan sejak Senin pagi. Puluhan personel ini difokuskan untuk melakukan evakuasi jenazah laki-laki yang ditemukan oleh warga pada Minggu (18/1/26).

Proses evakuasi ini dipandu langsung seorang warga bernama Arman (38). Warga Desa Tompobulu , Kecamatan Balocci, yang pertama kali menemukan mayat jenis kelamin laki-laki yang belum diketahui identitasnya.

Mayat tersebut diketahui tertahan di lereng Gunung Bulusaraung dengan kedalaman sekitar 200 meter. Terjalnya jalur disertai kondisi cuaca seperti hujan dan kabut tebal mengakibatkan proses evakuasi rumit.

“Fokusnya menjemput jenazah yang ada di lereng bulu saraung yang jaraknya 200 meter di bawa,” kata Asrem Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Abi Kusnianto, saat memimpin apel pagi persiapan operasi di Posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci.

Kusnianto mengarahkan pimpinan personel SAR gabungan yang berangkat ke lokasi untuk mengevakuasi mayat agar mengatur anggotanya dengan baik, tidak semua turun ke lereng mengingat mendan yang sangat terjal.

“34 orang ini diatur betul, tidak semua menuju titik jenazah karena pertimbangan medan sulit, kita butuh estafet. Target kita hari ini penjemputan jenazah dengan sistem estafet hingga ke posko ini (AJU),” pesannya.

Dalam kegiatan ini, Kusnianto juga menekankan bahwa ini adalah operasi kemanusiaan sehingga harus mengedepankan kebersamaan dan kekompakan. Semua pihak yang terlibat di dalamnya misi dan tugasnya disebut sama.

“Butuh kolaborasi, kita semua di sini berperan, kita semua sama, apapun tugasnya kita semua berperan dalam tim ini,” tegasnya.

Untuk diketahui, di atas pesawat tersebut ada tujuh orang kru dan tiga orang penumpang. Nama kru pesawat yakni Andy Dahananto (CAPT), Farhan Gunawan (SIC FO), Hariadi (FOO), Restuadu (EOB), Dwi Murdiono (EOB), Florencia Lolita S (FA) dan Esther Aprilita S (FA).

Sementara tiga orang penumpangnya yakni Deden Mulyana, Feri Irawan dan Yoga Naufal. Mereka tercatat sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Feri sebagai Analis Kapal Pengawas, Deden selaku Pengelola Barang Milik Negara, dan Yoga sebagai Operator Foto Udara.

Pesawat ATR 42-500 ini diketahui terbang dari Yogyakarta menuju Makassar, namun tiba-tiba hilang kontak di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Maros-Pangkep, Sabtu (17/1/2026) siang. Pesawat tersebut disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk keperluan pengawasan udara. (isak pasa’buan/Rakyatsulsel)

  • Bagikan