“Kurang dari 24 jam sejak kejadian, tim SAR gabungan sudah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Saat ini kami memaksimalkan “golden time” pencarian, dengan harapan besar seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi, khususnya dalam kondisi selamat,” ujar dia.
Menurut Syafii, lokasi kejadian berada di medan yang sangat ekstrem, berupa tebing curam dengan perkiraan posisi korban berada di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak, sehingga menuntut kehati-hatian dan teknik evakuasi khusus.
“Tantangan terbesar yang dihadapi tim SAR gabungan saat ini adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi,” jelas dia.
Basarnas sendiri memprioritaskan evakuasi melalui jalur udara. Namun, upaya tersebut belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut tebal di sekitar lokasi kejadian.
“Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” ungkap Syafii.
Dia menambahkan, proses evakuasi masih terus berlangsung. Pencarian terhadap korban akan terus dilakukan, dengan memaksimalkan tim rescue darat yang telah mengenal dan menguasai jalur sementara terus berupaya menembus medan untuk menjangkau seluruh titik yang diduga menjadi lokasi korban.
“Ini adalah misi kemanusiaan. Seluruh personel SAR gabungan bekerja dengan penuh dedikasi, kehati-hatian, dan semangat kebersamaan. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar operasi ini diberikan kelancaran dan keselamatan,” tutur Syafii.
Operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan personel hingga seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi.
DNA Keluarga Korban
Kepolisiain Daerah Sulawesi Selatan telah mengambil sampel DNA delapan orang keluarga penumpang pesawat ATR 42-500. Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Komisaris Besar Didik Supranoto menyatakan setelah pengumpulan data antemortem ini, pihaknya akan megambil sampel postmortem korban. Seperti diketahui, antemortem adalah sampel pada manusia yang belum meninggal, sementara postmortem setelah meninggal.
“Antemortem dan postmortem, kami lakukan setelah ada penemuan atau barang-barang lainnya,” ungkap Didik.
Nantinya, kata dia, data awal antemortem dan posmortem ini akan dicocokkan apakah sesuai dengan pihak penerbangan perusahaan pesawat yang mengalami kecelakaan atau tidak. Didik bilang, hingga sore kemarin, belum ada jenazah atau korban yang diterima pihaknya untuk diidentifikasi.
“Kami menunggu penyerahan korban atau temuan-temuan lainnya,” tutur dia.
Tim Disaster Victim Identification (DVI), kata Didik, turut menjemput bola dengan bekerjasama Polda lainnya, tempat para keluarga korban berdomisili. Menurut dia, ada empat orang keluarga korban yang datang langsung ke Makassar untuk diambil DNA-nya di Biddokkes Polda Sulsel. Sementara empat orang lainnya dilakukan di kediamannya masing-masing. Sementara dua keluarga kru pesawat lainnya hingga sekarang ini belum diambil DNA-nya sama sekali.
“Empat orang yang datang dan empat dikediaman masing-masing. Data korban nanti setelah identifikasi, dua yang belum ada data adalah kru, tapi kita tidak boleh menyampaikan siapa saja yang sudah dan belum agar tidak terjadi kesalahan,” ujar Didik.
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri AKBP Wahyu Hidayati, mengungkapkan bahwa tim DVI terus berkoordinasi dengan Polda setempat untuk mendatangi keluarga yang tidak dapat hadir langsung ke Posko DVI di RS Bhayangkara Polda Sulsel. Menurut dia, pihaknya tidak bisa melakukan pengambilan sampel jenazah di lapangan. Sebab selama ini itu dilakukan di tempat pemeriksaan jenazah.







