Oleh: Abdul Malik
(Pengamat Sosial Politik)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Ramadhan selalu menghadirkan pelajaran tentang kekuatan yang lahir dari pengendalian diri. Orang yang berpuasa tidak menjadi lemah karena menahan lapar dan dahaga. Justru dalam penahanan itu, ia menemukan kejernihan berpikir, keteguhan sikap, dan empati yang lebih dalam terhadap sesama. Puasa adalah proses pembersihan, bukan pengurangan makna hidup. Ia adalah latihan moral untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Dalam kehidupan berbangsa, hikmah itu menemukan relevansinya. Negara, seperti tubuh, bisa mengalami kelebihan konsumsi. Anggaran membengkak, belanja melebar, proyek bertambah, tetapi belum tentu semuanya berdampak pada kesejahteraan rakyat. Pada titik tertentu, yang dibutuhkan bukan percepatan tanpa arah, melainkan penataan ulang prioritas. Dalam konteks inilah kebijakan efisiensi anggaran yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto dapat dimaknai sebagai ikhtiar agar negara belajar berpuasa.
Puasa anggaran bukan berarti menghentikan pembangunan. Sebagaimana puasa tidak melarang makan selamanya, disiplin fiskal tidak berarti menutup keran belanja secara total. Yang dilakukan adalah mengatur, memilah, dan mengendalikan. Prabowo menegaskan bahwa anggaran negara harus diprioritaskan untuk sektor-sektor produktif seperti ketahanan pangan, energi, pendidikan, dan program yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat. Uang negara adalah amanah, bukan ruang untuk pemborosan birokrasi atau proyek simbolik.
Dalam hikmah puasa, seseorang menahan diri dari yang halal agar lebih mampu menjauhi yang tidak perlu. Dalam kebijakan negara, menahan belanja yang tidak esensial berarti menguatkan belanja yang benar-benar penting. Ketika pemerintah berani memangkas pengeluaran yang kurang produktif dan mengarahkannya pada kebutuhan mendasar, di situlah disiplin berubah menjadi strategi kesehatan nasional.
Peran teknokrat fiskal seperti Purbaya Yudhi Sadewa memperkuat arah tersebut. Pendekatan kehati-hatian dalam menjaga stabilitas fiskal dan pengendalian defisit menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya dikejar dalam jangka pendek. Negara yang sehat bukan hanya negara yang tumbuh cepat, tetapi negara yang memiliki daya tahan. Seperti tubuh yang rutin berpuasa memiliki metabolisme lebih stabil, negara yang disiplin anggaran memiliki ruang lebih luas menghadapi krisis global.
Hikmah Ramadhan tidak berhenti pada pengendalian diri. Ia melahirkan empati sosial. Orang yang merasakan lapar lebih mudah memahami yang kekurangan. Demikian pula negara yang menata ulang anggarannya semestinya semakin peka terhadap rakyat. Ketika efisiensi diarahkan untuk memperkuat perlindungan sosial, menjaga stabilitas harga pangan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperluas akses kesehatan, maka disiplin fiskal menjadi jembatan menuju keadilan sosial.
Puasa juga mengajarkan solidaritas kolektif. Ia dilakukan bersama-sama, dalam kesadaran bahwa setiap orang menahan diri demi tujuan yang lebih besar. Puasa anggaran pun memerlukan partisipasi seluruh elemen bangsa. Birokrasi harus efisien, dunia usaha harus produktif dan patuh pajak, elite politik harus menahan diri dari kepentingan jangka pendek. Tanpa kesadaran bersama, disiplin fiskal hanya menjadi kebijakan administratif yang tidak menyentuh budaya.
Mendukung kebijakan puasa anggaran bukan berarti menolak pembangunan. Justru sebaliknya, itu adalah dukungan terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan berakar kuat. Negara yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih dipercaya oleh rakyat dan lebih dihormati di mata dunia. Dalam pengendalian itulah terletak martabat.
Ramadhan mengajarkan bahwa menunda kesenangan hari ini dapat menghasilkan kekuatan esok hari. Negara yang berani menahan diri dari pemborosan sedang menyiapkan fondasi bagi generasi mendatang. Disiplin bukan tanda kekurangan sumber daya, melainkan tanda kematangan dalam mengelola amanah.
Ketika negara berpuasa, ia sedang membersihkan dirinya dari kebiasaan yang melemahkan. Ia sedang menata ulang prioritasnya dengan empati dan tanggung jawab. Dan dari proses itulah kesehatan negara serta kekuatan rakyat tumbuh, bukan karena kemegahan sesaat, tetapi karena fondasi yang kokoh dan kesadaran moral yang terjaga. (*)





