Oleh: Ahmad Razak
Dosen Fak. Psikologi UNM
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Ada jiwa yang berbuat baik karena kewajiban. Ada jiwa yang berbuat baik karena kebiasaan. Namun ada pula jiwa yang berbuat baik karena hatinya telah bersih, dan dari kebersihan itulah terpancar kebaikan bagaikan sinar mentari pagi memancarkan cahayanya ke alam sekitar. Pada tingkat inilah ihsan hidup bukan karena tindakan benar, tetapi pancaran keindahan jiwa yang telah disucikan.
Ihsan sering dimaknai sebagai beribadah seakan-akan melihat Allah, dan jika tidak mampu, kita meyakini bahwa Allah melihat kita. Rasulullah SAW bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa ihsan adalah kesadaran ilahi yang hidup di dalam hati, kesadaran yang membuat setiap amal dilakukan dengan kehadiran batin yang utuh.
Al-Qur’an pun menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini menunjukkan bahwa ihsan merupakam kualitas jiwa yang dicintai Allah.
Kesucian jiwa menjadi akar ihsan. Jiwa yang telah didetoks dari racun emosi dan dosa sosial sebagaimana diuraikan pada opini sebelumnya akan berubah memancarkan aura kebaikan bagi diri dan sekitarnya. Dengki tidak lagi menyempitkan dada saat melihat kebahagiaan orang lain; hati yang telah melepaskan dendam tidak lagi terdorong membalas, melainkan memilih memaafkan; jiwa yang terbebas dari kesombongan tidak merasa lebih tinggi, tetapi merendah dengan tulus. Ketika racun emosi telah tersucikan, kebaikan tidak lagi terasa sebagai beban. Ia mengalir jernih, seperti mata air yang menemukan jalannya sendiri. Pada titik itulah ihsan hadir sebagai pancaran kebaikan yang lahir bukan karena tekanan kewajiban, melainkan dari kejernihan jiwa.
Keadaan batin seperti ini selaras dengan Self-Determination Theory (Deci dan Ryan) yang menjelaskan bahwa perilaku mencapai kualitas tertinggi ketika nilai kebaikan telah terinternalisasi dan menjadi dorongan intrinsik dari dalam diri. Teori Moral Identity (Blasi; Aquino & Reed) juga menunjukkan bahwa seseorang akan konsisten berbuat baik ketika nilai moral telah menyatu dengan identitas dirinya. Dengan kata lain, ketika kebaikan telah menjadi sifat jiwa, tindakan etis tidak lagi dipaksakan, tetapi berjalan secara otomatis. Inilah yang dalam spiritualitas Islam disebut ihsan yakni kebaikan yang lahir dari hati yang telah suci.
Pada titik inilah, ihsan bertemu dengan akhlakul karimah sebagai bentuk lahir dari ihsan yang hidup di dalam batin. Jika ihsan adalah kesadaran ilahi di hati, maka akhlakul karimah adalah perilaku indah yang tampak dalam kehidupan. Karena itu, akhlak tidak hanya semata sopan santun sosial, tetapi pancaran spiritualitas. Kejujuran, kelembutan, amanah, kasih sayang, dan keadilan bukan hanya norma moral, melainkan buah dari hati yang bersih. Nabi Muhammad SAW bahkan diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia yang pada hakikatnya adalah manifestasi ihsan dalam kehidupan manusia.
Ihsan juga tampak dalam relasi sosial. Ia bukan hanya memberi, tetapi memberi dengan hati. Ia bukan hanya membantu, tetapi membantu tanpa melukai harga diri penerima. Ia bukan hanya berkata lembut, tetapi menghadirkan keteduhan dalam kata. Jiwa yang suci tidak hanya sebatas menahan diri dari dosa sosial, ia melampauinya dengan menghadirkan rahmah. Ia tidak hanya berhenti dari fitnah dan ghibah, tetapi menjaga kehormatan orang lain. Ia tidak hanya menghindari kezaliman, tetapi aktif menegakkan keadilan dan kepedulian.
Ihsan dalam dunia kerja menjadikan profesionalisme sebagai ibadah. Seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh bukan hanya karena diawasi manusia, tetapi karena kesadaran bahwa Allah melihat. Integritas, amanah, kejujuran dan kualitas kerja menjadi pancaran iman. Dalam dunia kampus, dosen yang berihsan mengajar dengan keikhlasan, adil dalam penilaian, dan tulus membimbing; sedangkan pegawai berihsan melayani dengan ramah, jujur, dan penuh tanggung jawab. Lingkungan kerja pun menjadi hangat karena ihsan melahirkan etika sosial yang luhur.
Ihsan adalah fase ketika kesucian jiwa tidak lagi tersembunyi di dalam, tetapi memancar keluar sebagai keindahan hidup. Ia meneduhkan relasi, menghangatkan pergaulan, dan memperindah dunia kecil di sekitar kita: di rumah, di kantor, dan di kampus. Manusia yang mencapai ihsan tidak hanya baik dalam dirinya, tetapi menghadirkan kebaikan bagi lingkungannya, seperti cahaya yang tidak memilih tempat untuk bersinar.
Jika Cermin memantulkan wajah tanpa mengubahnya, maka kehidupan memantulkan diri tanpa disangkal. Cermin tidak pernah berdusta, ia memantulkan wajah sebagaimana adanya. Sebagaimana jiwa yang suci akan merefleksikan siapa kita sesungguhnya.
Wallahu a’lam bissawab






