Menyigi Ramadhan

  • Bagikan

Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro
(Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)

Dari hati yang bening akan melahirkan pikiran dan tindakan positif.

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Selamat datang bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini akan mendidik kita menjadi pribadi yang bertaqwa. Karakter yang akan meneguhkan kita sebagai sosok pribadi yang tangguh dan visioner. Satu di antara indikator orang-orang yang bertaqwa senantiasa menjaga kesucian jiwanya.

Know Your Enemy, adalah pepatah yang dikutip dari buku The Art of War karya Sun Tzu, seorang ahli strategi perang dari Tiongkok. Buku ini ditulis pada

abad ke-5 SM. Alhasil, seorang muslim yang kelak menyabet predikat Muttaqin harus mengenal siapa musuhnya dan apa saja penyebab yang bisa membuat gelarnya terdegradasi. Musuh bebuyutan manusia tak lain adalah hawa nafsu.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٍ

Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Surah Yusuf: 53).

Dalam diri manusia terdapat tiga potensi yang dapat menjerembabkan manusia ke dalam kubangan lumpur kehidupan.

Pertama, nafsu Bahimaton; sifat kehewanan memperturutkan syahwat halal-haram sama saja. Segala cara menjadi halal demi tercapainya tujuan. Seperti manifesto Niccolo Machiavelli, The Ends Justify The Means.

Kedua, nafsu Sabuiyyaton; sifat kebuasan ditandai dengan kesukaan mengumbar amarah, senang menyerang. Yang kuat selalu mengalahkan yang kecil walaupun yang kecil itu benar.

Ketiga, nafsu Syaitoniyyah atau sifat kerakusan. Tidak pernah merasa cukup dan selalu merasa kurang. Ibarat minum air laut, semakin diminum semakin haus. Ketika Allah memerintahkan nabi Adam, masuklah dalam surga dan nikmati apa saja yang ada di dalamnya, kecuali jangan engkau mendekati pohon khuldi. Namun apa lacur, akibat pengaruh nafsu sehingga nabiyullah

Adam mencicipi buah khuldi sehingga ia disingkirkan dari surga.

Perjalanan sejarah membuktikan bahwa seluruh petaka yang menimpa umat manusia berkutat dalam lingkaran tiga nafsu di atas. Coba tengok penjara-penjara yang mengerikan di dunia: Alcatras di California, Devil’s Island di Perancis dan Urga di Mongolia. Selanjutnya Bang Kwang di Thailand, atau Nusa Kambangan di Cilacap; kesemuanya disesaki napi kelas kakap yang kesalahannya diseputaran perampokan, pembunuhan, penipuan, korupsi, penyalahgunaan narkoba dan seterusnya.

Hanya satu nafsu yang baik, yaitu nafsu Rububiyyah atau akhlak muttaqin sebagai bentukan Ramadhan. Bukankah kelak puasa akan dijalani selama Ramadhan, kita mendaraskan zikir, tadarus, tarawih, bersedekah dan berkontemplasi. Sebenarnya kita sedang melakukan proses internalisasi sifat-sifat Allah ke dalam diri kita. Takhallaqu bi akhlaqillah, sabda baginda Rasul. Sehingga kelak pantaslah akhlak Rububiyyah ini menjadi karakter alumnus puasa.

Bila akhlak ini dioptimalkan dengan baik, maka Allah Swt akan menganugerahkan pelita hidup dan selalu berada dalam pengawasan-Nya.

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَعَامِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُم كِفَلَينِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُم نُورًا تَمَشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُم وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٍ

[Surat Al-Hadid 28]

Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya,

niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, yaitu pertama; memberikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan. Kedua; Allah akan mengampuni kesalahan kamu karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Para psikolog menyebut akhlak Rububiyyah dengan Inner Capasity. Kecerdasan intuitif ini akan melahirkan 3 H: Head, Hearth dan Hand. Bila Head diasah akan melahirkan sains dan teknologi. Dengan teknologi akan menghasilkan temuan ilmiah. Bidang sosial, sains dan humaniora sebagai pendukung terciptanya peradaban yang tangguh. Sedangkan Hearth yaitu hati yang bersih, jiwa yang damai dan tuma’ninah.

ما وسعني أرضي ولا سمائي ووسعني قلب عبدي المؤمن اللين الوادع

Jika Aku mewujudkan diriku yang sesungguhnya, maka langit dan bumi tidak mampu menampung keberadaanku. Tapi, Aku dapat bersemayam dalam hati seorang mukmin yang senantiasa menjaga kehalusan budinya. Dari hati yang bersih ini akan melahirkan positif thinking.

Sebuah studi di Amerika merilis bahwa ketika kita beraktivitas akan memancarkan frekuensi gelombang positif. Semakin kita kerja, kuantum gelombang semakin memperkuat alam bawah sadar akan positivisme hidup. Orang Barat menyebutnya positive vibes. Sederhananya: Do good, good will come to You.

Allah Swt menkonstantir dalam firman-Nya:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (Al Isra: 7).

Adapun H yang ketiga, yaitu Hand. Hasil karya manunggaling yang terbaik sebagai output kombinasi dari Head dan Hearth. Ketika mindset kita cerdas lalu disaring dalam hati yang bersih akan melahirkan produk terbaik, value added produck.

Tokoh pemikir barat, William Franklin Graham berkata, If wealth is lost, nothing is lost. If health is lost, something is lost. But, if character is lost, everything is lost.”

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita kesehatan lahir batin dalam menunaikan ibadah puasa. (*)

  • Bagikan