”HORMUZ & PERANG: Jalur Sempit yang Bisa Menjatuhkan Kekuatan Besar Dunia,….Lalu Bagaimana dengan Indonesia?”

  • Bagikan

Oleh: Munawir Kamaluddin

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Coba bayangkan sebuah tempat yang sempit, jauh dari kita, namun diam-diam menentukan hidup banyak orang di seluruh dunia. Ia bukan kota besar, bukan pusat teknologi, dan bukan pula ibu kota negara adidaya. Ia hanyalah sebuah jalur laut. Namun dari sanalah, arah ekonomi global bisa berubah seketika. Itulah Selat Hormuz
hari ini, kecil secara bentuk, tetapi besar dalam dampak.

Untuk memahami betapa pentingnya Hormuz, kita perlu menoleh ke belakang, tepatnya ke tahun 1956. Saat itu, Inggris masih berdiri sebagai raksasa dunia. Selama ratusan tahun, ia menguasai lautan, perdagangan, bahkan wilayah-wilayah luas di berbagai benua.

Dunia mengenalnya sebagai penguasa global, dan mata uangnya menjadi pegangan banyak negara. Namun kekuatan sebesar itu ternyata bertumpu pada satu titik penting: Terusan Suez. Kanal ini ibarat jalan utama perdagangan dunia, menghubungkan Asia dan Eropa, mengalirkan barang, energi, dan kepentingan ekonomi lintas benua. Siapa yang menguasainya, seolah mengendalikan denyut ekonomi global.

Hingga suatu hari, Mesir mengambil keputusan besar, menasionalisasi kanal tersebut. Ucapannya sederhana, tetapi mengguncang dunia: “Ini milik kami.” Inggris tidak menerima begitu saja. Bersama Prancis dan Israel, mereka mencoba merebut kembali kendali itu melalui kekuatan militer.

Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Amerika Serikat menekan agar konflik dihentikan, Uni Soviet juga melakukan hal yang sama, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa ikut bersuara. Pada akhirnya, Inggris mundur. Dan sejak saat itu, dunia melihat sesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan, yakni Inggris tidak lagi sekuat dulu. Perlahan tapi pasti, pengaruhnya menurun. Mata uangnya melemah, sekutu menjauh, dan wilayah-wilayah yang dulu dikuasai mulai melepaskan diri.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Inggris berubah dari penguasa dunia menjadi sekadar salah satu negara di antara banyak. Pelajarannya jelas, kekuatan bukan hanya soal senjata, tetapi tentang kepercayaan. Ketika dunia mulai ragu, bahkan kekuatan terbesar pun bisa runtuh.

Kini, panggung itu seakan berpindah. Dunia tidak lagi fokus pada Suez, melainkan pada Hormuz. Selat ini memang sempit, tetapi sangat vital. Sekitar 20% minyak dunia melewati jalur ini. Negara-negara besar penghasil minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sangat bergantung padanya. Bayangkan sebuah jalan tol kecil yang dilalui semua kendaraan penting, yang membawa energi bagi pabrik, listrik bagi kota, dan kehidupan bagi miliaran manusia. Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu negara, tetapi bisa mengguncang seluruh dunia.

Dan di sinilah posisi Iran menjadi sangat strategis. Iran berada di sekitar jalur ini dan memiliki kemampuan untuk memengaruhinya. Seolah-olah ada seseorang yang berdiri di pintu masuk dan berkata, “Yang ingin lewat, harus mengikuti aturan saya.”

Seorang analis dan investor terkenal, Ray Dalio, melihat situasi ini bukan sebagai kejadian biasa. Ia mempelajari sejarah panjang peradaban dan menemukan pola yang berulang selama ratusan tahun. Banyak negara besar pernah berjaya, seperti Portugal, Belanda, Inggris, namun ketika mereka kehilangan kendali atas jalur penting perdagangan, kekuatan mereka mulai melemah.

Prosesnya tidak selalu terlihat cepat. Awalnya perlahan, lalu semakin jelas. Jika jalur itu tetap aman, dominasi mereka bertahan. Namun jika tidak, kepercayaan dunia mulai runtuh. Dan ketika kepercayaan itu hilang, segalanya ikut goyah, ekonomi melemah, sekutu menjauh, dan krisis datang silih berganti.

Hari ini, perhatian dunia tertuju pada Amerika Serikat. Amerika masih merupakan kekuatan besar, tetapi tidak tanpa tekanan. Utangnya besar, biaya yang harus ditanggung juga tinggi, dan pengalaman perang panjang di Vietnam, Irak, serta Afghanistan meninggalkan kesan bahwa Amerika tidak selalu kuat dalam konflik berkepanjangan.

Kini ia berhadapan dengan Iran, bukan hanya dalam konteks militer, tetapi dalam pertarungan daya tahan. Bagi Iran, ini adalah soal harga diri, kedaulatan, dan sejarah panjang perlawanan. Sementara bagi Amerika, ini juga menyangkut ekonomi domestik, harga energi, dan stabilitas politik. Keduanya berada dalam posisi yang berbeda, dengan cara pandang yang tidak selalu sejalan.

Strategi Iran pun terbilang sederhana namun efektif, yakni tidak terburu-buru, membiarkan konflik berjalan lebih lama, dan meningkatkan tekanan secara bertahap. Dengan cara ini, lawan bisa terkuras oleh waktu dan beban yang terus meningkat. Sejarah menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini bukan hal baru, dan dalam beberapa kasus, berhasil membuat Amerika kesulitan. Pertanyaannya, apakah pola itu akan kembali terulang?

Lalu, apakah semua ini bisa berakhir damai? Menurut Dalio, peluangnya tidak besar. Dunia justru sedang bergerak menuju ketegangan yang lebih luas, terutama karena energi adalah kebutuhan utama yang tidak bisa ditunda. Di titik inilah, segalanya menjadi sangat menentukan. Jika Amerika mampu menjaga Selat Hormuz tetap aman dan terbuka, maka kepercayaan dunia akan tetap terjaga. Dolar tetap kuat, dan sekutu tetap berada di pihaknya.

Namun jika sebaliknya terjadi, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor. Nilai dolar bisa melemah, investor beralih ke emas sebagai aset aman, sekutu mulai mencari alternatif, kelompok seperti BRICS menguat, dan China bisa melangkah lebih cepat menjadi kekuatan utama dunia.

Pada akhirnya, semua ini bukan sekadar tentang satu selat di peta dunia. Ini adalah tentang kepercayaan global. Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa kekuatan besar tidak runtuh semata karena kalah perang, tetapi karena dunia berhenti percaya pada kekuatannya.

Dan hari ini, mata dunia tertuju pada Hormuz, sebuah tempat yang tampak kecil, sunyi, namun memiliki potensi besar untuk menentukan arah masa depan dunia. Kini pertanyaan yang menggantung: apakah ini hanya ketegangan yang akan berlalu, atau justru awal dari perubahan besar dalam peta kekuatan global?

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Mungkin kita merasa jauh dari Hormuz. Secara geografis, memang iya. Namun dalam dunia yang saling terhubung seperti sekarang, jarak tidak lagi menjadi batas dampak.

Indonesia adalah negara yang masih sangat bergantung pada energi impor, terutama minyak. Sebagian dari pasokan energi global itu melewati Selat Hormuz. Artinya, jika terjadi gangguan di sana, efeknya bisa langsung terasa di dalam negeri.

Yang paling cepat terasa adalah harga. Harga minyak dunia bisa melonjak. Dan ketika harga minyak naik, efeknya menjalar ke mana-mana: harga BBM naik, ongkos transportasi meningkat, biaya produksi naik, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik. Masyarakat kecil menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan ini.

Namun dampaknya tidak selalu negatif. Dalam situasi tertentu, Indonesia juga bisa mendapatkan sisi positif. Ketika harga energi global naik, sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan gas bisa ikut terdorong. Ekspor meningkat, pendapatan negara bisa bertambah, dan neraca perdagangan bisa menguat. Ini adalah sisi lain dari krisis global, bagi sebagian pihak menjadi tekanan, bagi yang lain bisa menjadi peluang.

Lalu bagaimana jika dolar melemah?

Bagi Indonesia, ini bisa menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi, pelemahan dolar dapat meringankan beban utang luar negeri dan impor yang menggunakan mata uang tersebut. Rupiah bisa relatif menguat, dan tekanan terhadap ekonomi domestik bisa berkurang.

Namun di sisi lain, perubahan besar dalam sistem keuangan global juga membawa ketidakpastian. Investor bisa berpindah arah, pasar bisa bergejolak, dan stabilitas ekonomi global bisa terganggu. Dalam kondisi seperti ini, negara-negara seperti Indonesia harus lebih berhati-hati, menjaga keseimbangan, dan memperkuat ketahanan ekonomi dalam negeri.

Pada akhirnya, pelajaran penting bagi Indonesia adalah satu hal, kemandirian. Dunia boleh berubah, konflik boleh terjadi, tetapi negara yang kuat adalah negara yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri, terutama dalam hal energi, pangan, dan stabilitas ekonomi.

Karena itu, peristiwa di Hormuz bukan sekadar cerita jauh di luar sana. Ia adalah pengingat bahwa dunia ini saling terhubung, dan apa yang terjadi di satu titik kecil bisa berdampak hingga ke dapur-dapur rumah tangga kita. Wallahu A’lam Bishawab 🙏 MK

Semoga bermanfaat
Al-Fakir, Munawir Kamaluddin

  • Bagikan