MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM— Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, isu kemandirian obat nasional kembali mengemuka dalam sebuah forum akademik: wisuda Universitas Almarisa Madani (UNIVERSAL). Momentum pelepasan 316 lulusan itu tidak sekadar seremoni, tetapi juga menjadi ruang refleksi sekaligus penegasan arah masa depan bangsa.
Melalui orasi ilmiahnya Prof.Apt.Muh.Aswad,Ph.D. bertajuk “Meracik Masa Depan Indonesia Menuju Kemandirian Obat Nasional,” publik diingatkan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar yang belum sepenuhnya diolah.
Kekayaan hayati negeri ini disebut sebagai yang terbesar kedua di dunia setelah Brasil, dengan potensi kelautan yang bahkan melampaui negara tersebut.
Beragam tanaman herbal seperti kunyit, sambiloto, dan buah merah, beserta senyawa aktif seperti kurkumin, menjadi bukti nyata bahwa alam Indonesia menyimpan bahan baku obat yang melimpah. Namun, potensi itu belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan industri farmasi yang mandiri.
Contoh konkret datang dari penelitian senyawa piperin yang berhasil disintesis oleh peneliti farmasi Universitas Hasanuddin bersama dosen UNIVERSAL. Temuan ini menunjukkan peluang besar pengembangan bahan alam sebagai kandidat obat kanker. Akan tetapi, keterbatasan fasilitas produksi dan teknologi sintesis masih menjadi hambatan utama dalam hilirisasi riset.
Di titik inilah negara dituntut hadir lebih kuat. Investasi pada teknologi sintesis modern dan infrastruktur riset menjadi kunci agar kekayaan alam tidak berhenti sebagai potensi, melainkan menjadi produk obat yang berdaya saing global. Kemandirian obat bukan sekadar cita-cita, tetapi kebutuhan strategis bangsa.
Dalam konteks itu, peran perguruan tinggi menjadi semakin penting. Rektor UNIVERSAL Prof.Dr.Nursamsiar,S.Si.,M.Si. dalam sambutannya menegaskan bahwa universitas tidak hanya bertugas meluluskan mahasiswa, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Sebanyak 316 wisudawan yang dilepas tahun ini menjadi bagian dari upaya tersebut.
Dalam lima tahun terakhir, UNIVERSAL konsisten mencatatkan tingkat kelulusan uji kompetensi mencapai 100 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikator kualitas proses pendidikan yang dijalankan.
Lebih jauh, universitas ini juga tengah menapaki jalan menuju World Class University. Upaya itu diwujudkan melalui pengiriman dosen untuk studi doktoral di luar negeri, program summer camp bagi mahasiswa, serta penguatan jejaring kerja sama internasional.
Capaian lain juga terlihat pada penguatan sumber daya manusia dan riset. Dengan dua guru besar dan sebelas lektor kepala, serta prestasi riset yang menempati posisi teratas di tingkat regional dan nasional, UNIVERSAL berupaya menegaskan dirinya sebagai kampus yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan pengetahuan.
Yayasan Almarisa Madani yang diwakili oleh Dr.Asti Almarisa,SE. menegaskan, sebagai pengelola universitas menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas pembelajaran yang berdaya saing global. Berbagai capaian yang diraih universitas disebut sebagai hasil nyata, bukan sekadar narasi.
Namun, pada akhirnya, keberhasilan sebuah perguruan tinggi diukur dari kontribusi alumninya di tengah masyarakat. Karena itu, pesan yang disampaikan kepada para lulusan terasa sederhana, tetapi mendalam: menjadi agen perubahan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berintegritas.
Dalam lanskap Indonesia hari ini, ketika tantangan kemandirian di berbagai sektor masih mengemuka, kehadiran lulusan yang memiliki kompetensi sekaligus nilai menjadi kebutuhan mendesak. Kemandirian obat, sebagaimana disuarakan dalam orasi ilmiah, pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi dan industri, tetapi juga kualitas manusia yang menggerakkannya.
Wisuda UNIVERSAL tahun ini, dengan demikian, tidak hanya menandai akhir sebuah proses pendidikan, tetapi juga awal dari tanggung jawab baru—menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai solusi nyata bagi bangsa. (*)








