JAKARTA, RAKYATSULBAR.COM — Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kekuatan utama Nahdlatul Ulama (NU) terletak pada watak moderatnya yang mampu menjembatani peradaban Timur dan Barat. Hal tersebut disampaikan dalam momentum Halal Bihalal PB IKA PMII yang menjadi ajang konsolidasi strategis alumni dalam membaca arah kepemimpinan NU ke depan.
“Wajar jika Alumni PMII membahas dan mempersiapkan kepemimpinan NU ke depan, karena keduanya memiliki hubungan historis yang sangat dekat. NU dikenal sebagai paham yang tidak kekiri atau kekanan, tapi di tengah-tengah. Pemahaman wasathiyah inilah yang membuat NU diterima di Timur dan di Barat,” ujar Menag. 19/04/3026.
Pernyataan ini menegaskan posisi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai salah satu rahim kaderisasi strategis NU. Secara historis dan ideologis, PMII tidak hanya menjadi basis reproduksi kepemimpinan, tetapi juga ruang dialektika intelektual yang menjaga kesinambungan nilai-nilai keislaman moderat ala Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam perspektif yang lebih luas, kepemimpinan Nasaruddin Umar mencerminkan model kepemimpinan intelektual yang mengakar sekaligus progresif. Kepemimpinan intelektual NU hari ini menuntut integrasi antara kapasitas keilmuan, pengalaman birokrasi, dan kedalaman spiritual. Nasaruddin Umar hadir sebagai figur yang mampu menjembatani ketiganya—berangkat dari tradisi keulamaan, menguat dalam akademik, dan matang dalam tata kelola pemerintahan.
Salah satu capaian konkret yang menegaskan orientasi global tersebut adalah pengembangan program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI). Program ini tidak hanya mencetak ulama dengan basis keilmuan yang kokoh, tetapi juga berwawasan internasional melalui kemitraan strategis dengan institusi global seperti Universitas Al-Azhar di Mesir, University of California Riverside (UCR), dan Hartford International University (HIU) di Amerika Serikat.
Langkah ini menjadi bukti konkret bahwa narasi Islam moderat Indonesia tidak hanya relevan secara domestik, tetapi juga memiliki daya tawar global. NU, melalui kepemimpinan yang adaptif dan inklusif, mampu tampil sebagai model Islam rahmatan lil ‘alamin yang dapat diterima lintas peradaban.
Sementara itu, Halal Bihalal PB IKA PMII yang dihadiri sejumlah tokoh nasional dan menteri menjadi ruang konsolidasi penting dalam memperkuat sinergi alumni. Forum ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum strategis dalam membaca arah kepemimpinan NU ke depan di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Dengan fondasi wasathiyah yang kokoh, jejaring kader yang kuat, serta kepemimpinan intelektual yang progresif, NU memiliki modal sosial dan kultural yang besar untuk terus memainkan peran strategis—baik di tingkat nasional maupun global.








