Relawan Asal Makassar Ikut Ditangkap Israel dalam Misi Bantuan ke Gaza

  • Bagikan

RAKYATSULBAR.COM — Pasukan Israel menangkap 9 warga negara Indonesia atau WNI di sekitar perairan dekat Siprus, Mediterania Timur, Senin (18/5/2026).

Mereka merupakan bagian dari rombongan misi kemanusiaan yang berlayar menuju Jalur Gaza melalui armada Global Sumud Flotilla atau GSF 2.0.

Salah satu WNI yang ditangkap adalah Andi Angga Prasadewa, relawan asal Makassar, Sulawesi Selatan. Andi Angga diketahui merupakan delegasi Global Peace Convoy Indonesia atau GPCI bersama Rumah Zakat.

Dalam misi tersebut, Andi Angga berada di kapal Josef. Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Koordinator Relawan Makassar atau Relawan Nusantara pada 2022-2023.

Relawan Asal Makassar Kirim Pesan Darurat
Sebelum ditangkap, Andi Angga sempat merekam pesan video yang kemudian diunggah melalui akun media sosial Rumah Zakat.

Dalam video itu, Andi Angga menyampaikan bahwa dirinya merupakan bagian dari misi Global Peace Convoy Indonesia yang berlayar menuju Gaza untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina.

“Jika anda menonton video ini berarti saya telah diculik zionis Israel di perairan internasional. Saya adalah bagian dari misi Global Peace Convoy Indonesia yang berlayar menuju ke Gaza untuk menunjukkan solidaritas dengan rakyat Gaza,” kata Andi Angga dalam video tersebut.

Ia juga meminta Pemerintah Indonesia menempuh jalur hukum untuk membebaskan dirinya dan peserta misi lainnya.

“Dunia harus bangkit, Pemerintah Indonesia harus menempuh jalur hukum untuk membebaskan kami dari penculikan yang semena-mena ini,” ujarnya.

Tiga Jurnalis Indonesia Ikut Terdampak
Selain relawan, tiga jurnalis Indonesia juga termasuk dalam rombongan yang terdampak intersepsi Israel. Mereka adalah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV.

Mereka ikut dalam misi kemanusiaan yang membawa bantuan untuk warga Gaza. Bantuan tersebut disebut berupa obat-obatan, logistik, makanan, susu formula bayi, dan kebutuhan medis.

Media Republika mengonfirmasi keberadaan dua jurnalisnya dalam misi tersebut. Pimpinan Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menegaskan keselamatan para jurnalis dan relawan Indonesia menjadi perhatian serius.

“Dalam rombongan, terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan. Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami,” ujar Andi Muhyiddin.

Republika juga mengecam tindakan intersepsi tersebut karena dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan.

Jurnalis Kirim Video SOS
Bambang Noroyono atau Abeng sempat mengirimkan pesan video sebelum komunikasi terputus. Dalam rekaman tersebut, ia menyampaikan bahwa dirinya merupakan warga Indonesia dan peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026.

“Saya Bambang Noroyono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026,” katanya.

Ia juga meminta Pemerintah Indonesia membantu pembebasannya.

“Saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah Zionis Israel dan meminta Pemerintah Indonesia agar selalu mendukung kemerdekaan Palestina,” ujarnya.

Jurnalis Tempo TV, Andre Prasetyo Nugroho, juga sempat mengirim video pesan darurat atau SOS setelah sebelumnya tidak dapat dihubungi.

Dalam video berdurasi 53 detik itu, Andre menyampaikan bahwa pesan tersebut merupakan tanda dirinya telah ditangkap oleh Israel.

“Apabila kawan-kawan sudah menonton video ini, tandanya saya telah ditangkap oleh rezim Zionis Israel,” ujar Andre.

Kemenlu RI Kecam Keras Israel
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam keras tindakan Israel terhadap para relawan dan awak kapal misi kemanusiaan tersebut.

Pemerintah Indonesia juga mendesak agar seluruh kapal dan awak yang ditahan segera dibebaskan.

“Kami mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan,” kata Juru Bicara Kemenlu, Yvonne Mewengkang.

Kemenlu menyebut situasi di lapangan masih dinamis dan terus berkembang. Pemerintah Indonesia kini berkoordinasi dengan KBRI di Ankara, Cairo, dan Amman untuk menyiapkan langkah perlindungan serta percepatan pemulangan para relawan.

Sejumlah Kapal Bantuan Dicegat
Dalam misi tersebut, sedikitnya 10 kapal dikonfirmasi ditangkap, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.

Pihak penyelenggara Global Sumud Flotilla menyebut armada kapal sipil itu tengah berlayar untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza ketika dikepung kapal perang Israel di perairan internasional.

GSF menyebut seluruh peserta dalam armada tersebut adalah warga sipil tak bersenjata, termasuk tenaga medis, jurnalis, dan relawan.

Mereka menilai tindakan intersepsi di perairan internasional melanggar hukum maritim dan prinsip kebebasan navigasi.

GSF Sebut Kapal Dicegat di Laut Lepas
Dalam pernyataannya, Global Sumud Flotilla menyebut tindakan militer Israel sebagai agresi ilegal di laut lepas.

“Pengepungan militer ini menandai dimulainya kembali agresi ilegal di laut lepas,” tulis GSF dalam pernyataannya pada 18 Mei 2026.

GSF juga menyebut kapal-kapal militer Israel mulai mencegat armada mereka dan menaiki kapal pertama pada siang hari.

“Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan Israel menaiki kapal pertama kami di siang bolong,” kata penyelenggara GSF.

Mereka menuntut jalur aman untuk misi kemanusiaan yang disebut sah dan non-kekerasan.

“Kami menuntut jalur aman untuk misi kemanusiaan kami yang sah dan non-kekerasan,” tambahnya.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Israel sebelumnya menyatakan tidak akan mengizinkan pelanggaran terhadap blokade Gaza. Israel mengklaim blokade tersebut sah secara hukum dan meminta flotila berbalik arah.

Israel juga menyebut Gaza telah menerima banyak bantuan selama beberapa bulan terakhir.

Namun, pihak Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa para aktivis membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza. Bantuan itu disebut mencakup makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis.

Sementara itu, PBB menyebut banyak keluarga di Gaza masih hidup dalam kondisi memprihatinkan. Banyak warga yang mengungsi masih berlindung di tenda padat atau bangunan rusak karena tidak adanya alternatif yang lebih aman.

Akses layanan dasar juga disebut masih terbatas, termasuk air bersih, bahan bakar, pasokan medis, serta peralatan penting untuk operasi kemanusiaan.

Pemerintah Diminta Kawal Keselamatan WNI
Penangkapan 9 WNI dalam misi bantuan menuju Gaza ini memicu desakan agar Pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomatik dan hukum secara cepat.

Selain menyangkut keselamatan relawan, kasus ini juga menjadi perhatian karena melibatkan jurnalis Indonesia yang sedang menjalankan tugas peliputan dan misi kemanusiaan.

Pemerintah Indonesia melalui Kemenlu menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan sejumlah perwakilan RI di luar negeri.

Keselamatan seluruh WNI yang ditahan menjadi prioritas, termasuk upaya percepatan pembebasan dan pemulangan mereka ke Indonesia. (*)

  • Bagikan