MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI, Munawir Sadzali Razak, S.IP., M.A., menorehkan pencapaian akademik dengan menyelesaikan pendidikan Doktor Ilmu Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar (UNM).
Dalam disertasinya, Munawir mengangkat tema “Strategic Agility dalam Konteks Organisasi Publik: Studi Kasus pada LLDIKTI Wilayah XVI.”
Penelitian tersebut menjadi menarik karena mengkaji bagaimana organisasi pemerintahan yang identik dengan struktur hierarkis, aturan, akuntabilitas dan prosedur formal tetap dapat bergerak cepat, responsif serta adaptif menghadapi perubahan.
Munawir dalam penelitiannya menempatkan LLDIKTI Wilayah XVI sebagai objek kajian. Lembaga ini memiliki wilayah kerja meliputi Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, dengan 84 perguruan tinggi swasta binaan.
LLDIKTI Wilayah XVI juga tergolong sebagai satuan kerja muda yang berdiri pada 2020. Kondisi keterbatasan sumber daya manusia, perkembangan infrastruktur teknologi serta cakupan geografis yang luas menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi.
Temukan Model “Agile Bureaucracy”
Penelitian Munawir menghasilkan temuan penting mengenai penerapan Strategic Agility atau ketangkasan strategis dalam organisasi publik.
Strategic Agility tersebut termanifestasi melalui tiga dimensi yang saling berkaitan, yakni Strategic Sensitivity, Resource Fluidity, dan Leadership Unity.
Strategic Sensitivity menggambarkan kemampuan organisasi membaca dan merespons perubahan kebijakan serta kebutuhan perguruan tinggi. Resource Fluidity berkaitan dengan fleksibilitas dalam menggerakkan sumber daya, digitalisasi pelayanan dan kerja lintas unit.
Sementara Leadership Unity memiliki posisi sangat penting karena berfungsi sebagai “Hub Integrator”, yang menghubungkan kemampuan organisasi membaca perubahan dengan kemampuan menggerakkan sumber daya untuk merespons perubahan tersebut.
Dari konfigurasi itu, Munawir menawarkan konsep “Agile Bureaucracy” atau Birokrasi Adaptif, yakni birokrasi yang tetap menjaga kepatuhan terhadap regulasi dan prinsip akuntabilitas, namun pada saat bersamaan mampu bergerak fleksibel, responsif dan inovatif.
Model tersebut memperlihatkan bahwa kelincahan organisasi tidak harus bertentangan dengan karakter birokrasi.
Sebaliknya, keduanya dapat berjalan secara sinergis melalui formalisasi selektif, kepatuhan kreatif, serta kepemimpinan yang berfungsi sebagai penghubung dalam organisasi.
“The Big Three” Jadi Pilar Ketangkasan Organisasi
Temuan penting lainnya dari disertasi tersebut adalah kerangka “The Big Three”, yang menjadi tiga pilar utama pembentukan Strategic Agility dalam organisasi publik.
Ketiga pilar tersebut adalah Kepemimpinan Adaptif sebagai Dinamo, Transformasi Digital sebagai Akselerator, dan Budaya Kolaboratif sebagai Pelumas.
Kepemimpinan adaptif berperan menggerakkan perubahan. Transformasi digital mempercepat proses dan integrasi sumber daya, sedangkan budaya kolaboratif mengurangi hambatan koordinasi sekaligus mendorong kerja sama lintas unit.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa budaya organisasi memiliki peranan sangat penting. Transformasi digital dalam birokrasi tidak serta-merta melahirkan organisasi yang lincah apabila tidak dibarengi budaya kolaboratif yang memberikan ruang bagi fleksibilitas dalam bekerja.
Strategic Agility Berpengaruh Signifikan
Penelitian Munawir menggunakan desain mixed methods Sequential Exploratory, dengan tahapan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam dan dilanjutkan pengujian secara kuantitatif.
Wawancara dilakukan terhadap pimpinan LLDIKTI, staf, rektor dan dosen di wilayah kerja LLDIKTI XVI. Data kemudian dianalisis menggunakan NVivo, sedangkan pengujian kuantitatif menggunakan Regresi Linier Berganda dan Partial Least Square Structural Equation Modeling.
Hasilnya menunjukkan Strategic Agility berpengaruh signifikan terhadap kemampuan adaptasi organisasi, dengan model mampu menjelaskan 70 persen variasi kemampuan adaptasi.
Dari tiga dimensi Strategic Agility, Leadership Unity menjadi prediktor paling dominan, disusul Resource Fluidity dan Strategic Sensitivity.
Temuan tersebut semakin menegaskan pentingnya kepemimpinan dalam organisasi publik. Pemimpin tidak hanya berfungsi sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai pengintegrasi yang menyelaraskan kemampuan organisasi membaca perubahan dengan mobilisasi sumber daya untuk merespons perubahan tersebut.
Beri Rekomendasi untuk Transformasi LLDIKTI
Disertasi ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi bagi pengembangan LLDIKTI dan transformasi birokrasi secara lebih luas.
LLDIKTI Wilayah XVI direkomendasikan untuk terus memperkuat kepemimpinan adaptif, melembagakan budaya kolaboratif, memperkuat transformasi digital serta membangun mekanisme pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan.
Pada tingkat kementerian, penelitian tersebut merekomendasikan adanya ruang otonomi yang lebih besar bagi LLDIKTI dalam pengelolaan sumber daya dan inovasi pelayanan dengan tetap mempertahankan prinsip akuntabilitas.
Indikator seperti kecepatan respons, inovasi pelayanan, kepuasan pemangku kepentingan serta pengembangan kapasitas organisasi juga dinilai penting dimasukkan dalam evaluasi kinerja LLDIKTI.
Secara lebih luas, hasil penelitian Munawir memberikan perspektif bahwa reformasi birokrasi tidak semata-mata berarti mengurangi aturan. Transformasi justru dapat dilakukan dengan membangun birokrasi yang tetap taat regulasi, tetapi mempunyai kapasitas merespons perubahan secara cepat, kolaboratif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Berpengalaman di Pengelolaan Pendidikan Tinggi
Munawir Sadzali Razak lahir di Sinjai, 10 Juni 1983. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Hubungan Internasional di Universitas Hasanuddin pada 2005 dengan predikat cum laude dan IPK 3,82, serta tercatat sebagai lulusan terbaik.
Pendidikan magister ditempuh pada bidang Administrasi Publik di Universitas Indonesia dan diselesaikan pada 2014.
Karier birokrasi Munawir antara lain pernah dijalani di Kementerian Riset dan Teknologi serta Kemenristekdikti, sebelum kemudian menduduki sejumlah jabatan di lingkungan LLDIKTI.
Sejak 7 Juni 2022, Munawir dipercaya menjabat sebagai Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XVI.
Promosi doktor ini sekaligus memperkuat perjalanan akademik dan profesional Munawir dalam bidang administrasi publik dan tata kelola pendidikan tinggi.
Melalui konsep Agile Bureaucracy, Leadership Unity sebagai Hub Integrator, serta kerangka The Big Three, hasil penelitiannya diharapkan dapat memberikan kontribusi tidak hanya bagi pengembangan LLDIKTI Wilayah XVI, tetapi juga menjadi referensi dalam membangun organisasi publik Indonesia yang semakin adaptif, responsif, inovatif dan tetap akuntabel.Substansi utama berita di atas saya ambil dari ringkasan disertasi yang dikirim, termasuk Agile Bureaucracy, The Big Three, Leadership Unity sebagai Hub Integrator, serta hasil pengujian bahwa Strategic Agility menjelaskan 70% variasi kemampuan adaptasi organisasi.








