Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali)
Sejatinya kita memampukan kebaikan agar terhindar dari ujub, takabbur, dan zum’ah.
Pesan-pesan sholat taubat-tasbih. Dalam kitab Nashaihul Ibad karya Ibnu Hajar al-Asqalani:
كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلاً مِنَ النَّاسِ
“Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah, jadilah manusia yang paling jelek dalam pandangan dirimu, serta jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”
Menjadi manusia paling baik di sisi Allah karena amaliyah kita. Menjadikan dunia sebagai ladang kebaikan. Spirit bertastaniqul khaerat di semua lini kehidupan.
Baginda yang mulia pernah bersabda:
ألا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang terbaik di antara kalian, dan orang yang terburuk di antara kalian?”
Terdiamlah mereka, lalu Nabi bertanya dengan kalimat itu diulang tiga kali, lalu mereka menjawab, “Ya, kami mau wahai rasulullah. Beritahukanlah kepada kami tentang orang yang terbaik di antara kami, yang terbedakan dengan orang yang terburuk di antara kami”.
Selanjutnya beliau allallahu’alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وشركم من لا يرجى خيره ولا يؤمن شره
“Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya ketika berada di tengah kita dan kita merasa aman dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak membawa kebaikan dan kita tidak merasa aman dari keburukannya.” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam mempersepsikan diri sendiri, kita menilai paling minim dan buruk. Kita memandang diri kita rendah dan hina lantaran masih kurang beramal, juga bisa jadi karena minusnya pengetahuan, dan berbagai perbuatan tak patut lainnya, atau sering lalai dan mengabaikan perintah Allah dan Rasulnya.
Pandangan ini bertujuan sebagai pemicu untuk memampukan kebaikan sekaligus agar terhindar dari ujub, takabbur, dan sum’ah.
Dan di depan orang lain kita menundukkan diri, seperti seorang anak yang membungkuk takzim kepada orangtuanya, dan tidak merasa lebih baik, alih-alih merasa jumawa. Kita memandang orang lain serba lebih; punya kelebihan ketimbang diri sendiri, mungkin dia lebih bertakwa, lebih banyak amal kebajikannya, lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Demikian pula selagi melihat anak kecil atau taruhlah lebih muda; maka jangan pernah berfikir kita merasa lebih baik darinya. Katakanlah, “Mungkin dia dosanya lebih sedikit daripada diriku, karena umurnya lebih sedikit dariku.”
Sebaliknya jika melihat orang yang lebih tua, hendaknya kita meyakini bahwa dia telah berbuat kebaikan lebih banyak dari diri kita. Mari kita tanamkan dalam diri setiap momen dalam kehidupan ini untuk berpacu dalam kebaikan. (*)





