Mengenang Sang Guru Teladan, Haul ke-3 Prof. Iskandar Idy Penuh Haru dan Inspirasi

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM –
Peringatan tiga tahun wafatnya almarhum Prof. Dr. H. Iskandar Idy, Ph.D., berlangsung dengan penuh khidmat di Lantai 2 Phinisi Ballroom, Claro Hotel Makassar, Jumat (17/4/2026). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus refleksi bagi para tokoh nasional dan akademisi atas jasa serta kontribusi almarhum selama mengabdi di Kementerian Agama maupun di dunia pendidikan.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah figur penting, di antaranya Kakanwil Agama Gorontalo Prof. Dr. Kaswad Sartono, Kabid Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Sulsel H. Ikbal, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Hamdan Juhannis, serta Rektor UIM Al-Gazali Makassar, Prof. Dr. Muammar Bakri.

Hadir pula pimpinan media, Komisaris Portal Online Rakyat Sulsel Hj. Yasnidar Yasir dan Direktur Harian Rakyat Sulsel Daswar M. Rewo, mengenang kedekatan almarhum dengan berbagai elemen masyarakat.

Peringatan haul ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan menjadi panggung bagi para sahabat, kolega, dan santri untuk memutar kembali memori kolektif tentang sosok birokrat yang humanis sekaligus akademisi yang tekun.

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dalam pesan testimoninya secara virtual memberikan penghormatan tertinggi bagi almarhum. Bagi Menag, Prof. Iskandar Idy bukan sekadar rekan sejawat, melainkan sahabat dekat yang mengajarkan arti sebuah pengabdian tulus.

“Kiprahnya di Kementerian Agama mengajarkan kita bahwa almarhum bukan sekadar pejabat, tetapi pemimpin yang visioner. Dari almarhum kita belajar bahwa birokrasi bukan sekadar administrasi, melainkan ibadah yang membutuhkan ketegasan sekaligus ketulusan hati,” tutur Menag.

Menag juga menyoroti semangat intelektual almarhum yang tak pernah padam meski telah memasuki usia senja. Keberhasilan meraih gelar Guru Besar di sela-sela kesibukan birokrasi menjadi bukti nyata dedikasinya.

“Almarhum adalah teladan bahwa menjadi aliman (orang yang berilmu) dan muta’aliman (pembelajar) adalah suatu tarikan napas di dalam hidupnya. Mengenang Profesor Iskandar Idy adalah mengenang dedikasi tanpa henti,” tambahnya.

Senada dengan hal itu, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI, Dr. H. Basnang Said, mengenang almarhum sebagai figur yang menyejukkan bagi para bawahannya, terutama saat menjabat sebagai Kakanwil Kemenag Sulsel dan Ketua PWNU Sulsel.

“Saya benar-benar mengenal beliau sebagai sosok yang adem. Di masa kami awal-awal menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), beliaulah yang menandatangani SK kami. Teramat bersedihnya kami saat tiga tahun lalu mendapatkan kabar beliau meninggalkan kita,” kenang Basnang Said.

Ia menegaskan bahwa warisan almarhum tersebar luas di berbagai sektor, mulai dari pemberdayaan umat hingga penguatan kualitas pondok pesantren.

“Jasa-jasa Profesor Dr. K.H. Iskandar Idy luar biasa. Bukan hanya berkontribusi untuk Nahdlatul Ulama, tetapi juga berkontribusi membangun dan mengembangkan pendidikan Islam serta umat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Biro SDM Kemenag RI, Dr. Muhammad Zain, memotret sisi lain almarhum yang jarang dimiliki oleh seorang birokrat: ketelatenan administrasi dan jiwa kewirausahaan. Menurutnya, almarhum adalah bukti bahwa seorang PNS bisa menjadi inovator di setiap lini jabatan yang ia duduki.

“Beliau juga saya kenal sebagai orang yang sangat tertib administrasi. Bisa dibayangkan dengan cara manual, beliau telaten mengurus sebundel-bundel karyanya, semua jabatan dan SK kepanitiaan tertata sangat rapi,” puji Muhammad Zain.

Bagi Zain, jejak karier almarhum dari bawah hingga mencapai posisi eselon dua di kantor pusat adalah potret sukses yang patut ditiru.

“Semoga teladan beliau sebagai PNS sekaligus seorang entrepreneur itu bisa menjadi contoh bagi kita semua. Beliau adalah dermawan yang sangat mudah membantu orang keluar dari kesulitan,” ungkapnya.

Acara haul yang berlangsung selama beberapa jam tersebut ditutup dengan momen yang paling dinantikan oleh para hadirin. Sebagai bentuk rasa syukur keluarga besar atas segala amal jariah yang ditinggalkan almarhum, panitia menyelenggarakan pengundian apresiasi bagi para tamu undangan.

Puncak kebahagiaan terjadi saat pengundian hadiah utama. Tak tanggung-tanggung, sebanyak empat paket Umrah dibagikan kepada hadirin yang beruntung, sebagai simbol semangat religiusitas yang selalu dijunjung tinggi oleh almarhum Prof. Iskandar Idy semasa hidupnya.

Doa-doa yang dipanjatkan di akhir acara seolah menjadi saksi bahwa meski raga telah tiada, harum nama dan ilmu yang ditinggalkan sang Profesor akan terus menjadi cahaya yang tak kunjung padam. (*)

  • Bagikan