MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) menyelenggarakan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) sekaligus penyambutan dan orientasi akademik bagi mahasiswa baru Program Studi Magister Sains Psikologi. Kegiatan ini menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik, sistem pembelajaran, budaya ilmiah, serta berbagai peluang pengembangan diri selama menempuh pendidikan pada jenjang magister.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Senat Fakultas Psikologi UNM, seluruh unsur pimpinan, serta tenaga kependidikan Fakultas Psikologi UNM. Kehadiran jajaran pimpinan fakultas sekaligus menjadi bentuk penyambutan dan komitmen institusi dalam mendampingi mahasiswa baru memasuki lingkungan akademik pascasarjana.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Psikologi UNM, Prof. Dr. H. Ahmad, S.Ag., S.Psi., M.Si., menyampaikan ucapan selamat kepada mahasiswa baru yang telah memasuki jenjang pendidikan pascasarjana. Ia menggambarkan perpindahan dari jenjang S1 menuju S2 bukan sekadar kenaikan tingkat pendidikan, tetapi merupakan sebuah perjalanan intelektual dan perjalanan akademik untuk mempersiapkan diri menjadi ilmuwan psikologi.
“Hari ini (Jumat, 14 agustus 2026) adalah hari pertama menjadi mahasiswa pascasarjana. Selamat. Dari S1 ke S2 merupakan sebuah perjalanan intelektual, perjalanan akademik untuk menjadi ilmuwan psikologi yang mampu membaca manusia dan berbagai fenomena secara lebih mendalam serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Prof. Ahmad, memasuki jenjang magister berarti memasuki ruang belajar yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pendidikan sarjana. Oleh karena itu, mahasiswa perlu melakukan perubahan paradigma dalam belajar. Jika pada jenjang sebelumnya mahasiswa lebih banyak menerima dan memahami pengetahuan yang telah tersedia, maka pada jenjang pascasarjana mahasiswa mulai diarahkan untuk menghasilkan dan mengembangkan pengetahuan.
“Mahasiswa S2 bukan lagi sekadar konsumen ilmu pengetahuan, tetapi mulai mempersiapkan diri menjadi produsen pengetahuan,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, kemandirian belajar menjadi salah satu kemampuan penting yang harus dibangun mahasiswa. Mahasiswa pascasarjana dituntut tidak hanya menunggu materi yang diberikan dosen, tetapi memiliki inisiatif untuk mencari, membaca, mengkaji, mendiskusikan, dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri. Pengalaman akademik dan kemampuan belajar secara mandiri menjadi bagian penting dalam membentuk kematangan intelektual mahasiswa.
Dekan juga mendorong mahasiswa baru untuk membangun budaya membaca sebagai bagian dari kehidupan akademik sehari-hari. Membaca tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas untuk memenuhi tuntutan perkuliahan, tetapi menjadi kebiasaan intelektual yang terus dikembangkan. Mahasiswa diharapkan aktif membaca buku, jurnal ilmiah, hasil-hasil penelitian, serta mengikuti berbagai forum ilmiah agar memiliki wawasan yang luas dan mampu mengikuti perkembangan ilmu psikologi, baik pada tingkat nasional maupun internasional.
Selain budaya membaca, mahasiswa juga diarahkan untuk membangun budaya berpikir kritis. Pada jenjang magister, mahasiswa tidak cukup hanya memahami dan menghafal teori. Mereka perlu mampu mempertanyakan asumsi, menguji teori, membandingkan berbagai perspektif, menemukan kelemahan dan kekuatan suatu teori, serta mengembangkan gagasan baru berdasarkan hasil kajian dan penelitian.
“Mahasiswa harus memiliki budaya berpikir kritis. Bukan hanya memahami teori, tetapi mampu menguji teori, mengembangkan teori, bahkan menemukan teori,” ujarnya.
Prof. Ahmad selanjutnya menekankan pentingnya budaya berkarya. Menurutnya, perjalanan akademik mahasiswa S2 tidak seharusnya berhenti pada penyelesaian tugas-tugas perkuliahan. Pengetahuan yang diperoleh perlu diwujudkan dalam karya yang memiliki nilai akademik dan manfaat sosial. Mahasiswa didorong untuk menghasilkan publikasi ilmiah, melakukan penelitian, mengembangkan inovasi, serta menghadirkan gagasan-gagasan yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
Di tengah dorongan untuk menjadi pribadi yang produktif dan unggul secara akademik, Dekan juga mengingatkan mahasiswa agar tetap membangun karakter intelektual yang rendah hati. Menurutnya, pencapaian akademik dan keluasan ilmu tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, semakin luas ilmu yang dimiliki, semakin besar pula kesadaran akan luasnya pengetahuan yang belum diketahui.
“Makin berisi makin merunduk,” pesannya.
Ia juga mengutip nasihat yang dinisbahkan kepada Imam Syafi’i bahwa semakin seseorang bertambah ilmu, semakin ia merasa memiliki keterbatasan karena menyadari betapa luasnya ilmu pengetahuan. Pesan tersebut menjadi pengingat agar mahasiswa tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kerendahan hati, integritas, etika, dan kematangan kepribadian sebagai seorang akademisi.
Sementara itu, Ketua Panitia PKKMB Bapak Dr. M. Ahkam Alwi, S.Psi., M. Si yang juga Ketua Program Studi Magister Sains Psikologi Fakultas Psikologi UNM dalam laporannya menyampaikan bahwa pada tahun akademik ini sebanyak 72 mahasiswa baru diterima untuk mengikuti pendidikan pada Program Magister Sains Psikologi UNM. Jumlah tersebut menjadi bagian dari keberlanjutan pengembangan pendidikan psikologi pada jenjang pascasarjana di Fakultas Psikologi UNM.
Dalam kegiatan orientasi akademik tersebut, mahasiswa baru mendapatkan sejumlah materi yang berkaitan langsung dengan kehidupan akademik di tingkat magister. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan kurikulum Program Magister Sains Psikologi, keterampilan belajar atau learning skill pada jenjang pascasarjana, penguatan etika akademik dan anti kekerasan, pengenalan literatur ilmiah, pemanfaatan jurnal-jurnal internasional, serta informasi mengenai peluang beasiswa.
Pengenalan kurikulum menjadi bagian penting agar mahasiswa memahami struktur dan arah pendidikan yang akan ditempuh selama mengikuti program magister. Sementara materi learning skill memberikan bekal kepada mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pembelajaran pascasarjana yang lebih mandiri, mendalam, dan berbasis penelitian.
Penguatan etika akademik dan anti kekerasan juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa diperkenalkan dengan pentingnya membangun budaya akademik yang sehat, saling menghargai, menjunjung integritas, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat bagi seluruh sivitas akademika.
Selain itu, pengenalan literatur dan jurnal internasional diarahkan untuk memperkuat kemampuan mahasiswa dalam mengakses sumber-sumber ilmiah yang kredibel dan mengikuti perkembangan mutakhir ilmu psikologi. Kemampuan membaca dan memahami publikasi ilmiah internasional menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa S2 dalam mengembangkan penelitian dan menghasilkan karya akademik yang berkualitas.
Mahasiswa juga memperoleh informasi mengenai berbagai peluang beasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung keberlanjutan studi dan pengembangan kapasitas akademik. Informasi tersebut diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai berbagai kesempatan pengembangan diri selama menjalani pendidikan di Program Magister Sains Psikologi.
Melalui kegiatan penyambutan dan orientasi akademik ini, Fakultas Psikologi UNM berharap mahasiswa baru tidak hanya mengenal lingkungan kampus dan sistem akademik, tetapi juga memahami identitas dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa pascasarjana. Mereka diharapkan mampu membangun budaya akademik yang kuat, menjadi pembelajar mandiri, berpikir kritis, produktif menghasilkan karya ilmiah, serta memiliki kepedulian untuk memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu psikologi dan kehidupan masyarakat.
Memasuki jenjang Magister Sains Psikologi pada akhirnya bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, tetapi tentang menjalani sebuah perjalanan intelektual untuk tumbuh menjadi ilmuwan psikologi yang mampu memahami manusia secara lebih mendalam, menghasilkan pengetahuan yang bermakna, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.








