Polresta Mamuju Ungkap Penyalahgunaan 30 Ton Pupuk Subsidi, 5 Orang Ditetapkan Tersangka

  • Bagikan

MAMUJU, RAKYATSULBAR.COM — Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Mamuju mengungkap kasus dugaan penyalahgunaan pupuk bersubsidi yang melibatkan lima tersangka.

Pengungkapan kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan sekitar 30 ton 
pupuk subsidi dari lima tempat kejadian 
perkara (TKP), serta menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Kapolresta Mamuju Kombes Pol. Ferdyan Indra Fahmi mengatakan, pupuk subsidi merupakan bantuan pemerintah yang diperuntukkan bagi petani untuk meringankan biaya produksi sekaligus mendukung peningkatan hasil pertanian dan perkebunan.

“Dari hasil pengungkapan, terdapat lima tempat kejadian perkara (TKP) dengan sejumlah barang bukti pupuk subsidi yang berhasil diamankan,” ujar Ferdyan dalam konferensi pers, Kamis malam (10/9/26).

Pengungkapan pertama dilakukan di Desa Tadui, Kecamatan Mamuju. Polisi menghentikan sebuah kendaraan yang mengangkut 200 sak pupuk subsidi jenis Urea dan Phonska tanpa dilengkapi dokumen yang sah.

Polisi juga mengamankan satu unit truk warna hijau berkapasitas sekitar 10 ton. Dalam perkara ini, tersangka berinisial CR, warga Polewali Mandar, diduga mengalihkan pupuk subsidi untuk didistribusikan kepada pemesan yang merupakan pemilik kebun sawit di Mamuju Tengah.

Dari transaksi tersebut, CR diperkirakan memperoleh keuntungan hingga Rp20 juta dalam satu kali pengiriman.

Pengungkapan kedua berlangsung di Jalan Yos Sudarso, Mamuju. Polisi mengamankan tiga unit mobil pikap yang masing-masing mengangkut sekitar 2,5 ton pupuk subsidi, dengan total sekitar 7 ton.

Pupuk tersebut diduga milik tersangka LA, warga Pasangkayu, yang diduga membawa pupuk dari Polewali Mandar menuju perkebunan sawit di Pasangkayu. Pengiriman tersebut diduga dilakukan dua hingga tiga kali dalam sebulan. 

Selanjutnya, pengungkapan ketiga dilakukan di Jalan Tuna, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju. Polisi mengamankan satu unit mobil pikap yang mengangkut 55 karung pupuk subsidi.

Pupuk tersebut diamankan dari tersangka SS, warga Polewali Mandar. Berdasarkan pemeriksaan sementara, pupuk diduga akan digunakan untuk kebutuhan perkebunan sawit.

Pada TKP keempat, polisi mengamankan satu unit truk warna hijau berkapasitas sekitar 10 ton yang mengangkut pupuk subsidi jenis Phonska dan NPK.

Pupuk tersebut rencananya dibawa menuju wilayah Pasangkayu. Polisi menetapkan JF, warga Mamuju, sebagai tersangka. 

Sementara pada TKP kelima, polisi mengamankan satu unit mobil pikap yang mengangkut sekitar 3,5 ton pupuk subsidi jenis Urea dan Phonska.

Pupuk tersebut rencananya dibawa menuju wilayah Mamuju Tengah untuk kemudian dijual. Dalam perkara ini, polisi menetapkan AM, warga Mamuju, sebagai tersangka.

Dengan pengungkapan di lima TKP tersebut, total pupuk subsidi yang berhasil diamankan Polresta Mamuju mencapai sekitar 30 ton.

Kapolresta Mamuju menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan terhadap distribusi pupuk subsidi dan mengusut tuntas praktik penyalahgunaannya.

“Ini menjadi perhatian dan konsentrasi kami untuk terus mengawasi pendistribusian pupuk subsidi agar tepat sasaran dan sampai ke tangan petani yang berhak,” tegasnya.

Atas perbuatannya, kelima tersangka dijerat dengan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf b juncto Pasal 1 sub 3e Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1955, juncto Pasal 4 huruf a juncto Pasal 8 ayat (1) Perpu Nomor 8 Tahun 1962 tentang Perdagangan Barang-Barang Dalam Pengawasan.

Para tersangka juga dijerat Pasal 17 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, juncto Pasal 49 ayat (4) juncto Pasal 59 Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 15 Tahun 2025.

Selain itu, dikenakan ketentuan Bab I Pasal II angka 5 huruf c Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, juncto Pasal 20 huruf c Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Para tersangka terancam pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (*)

  • Bagikan