Rektor UIM: Rempah adalah Warisan Ekologi dan Budaya yang Harus Dirawat

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, menegaskan bahwa rempah perlu dipandang lebih dari sekadar komoditas ekonomi. Rempah juga menyimpan pengetahuan lokal, identitas budaya, dan hubungan masyarakat dengan alam.

Hal itu disampaikannya saat membuka International Forum on Spice Route (IFSR) 2026 secara hybrid di Gedung Rektorat UIM Al-Gazali dan melalui Zoom, Selasa (22/9/2026).

Forum hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Negeri Rempah Foundation, dan UIM Al-Gazali tersebut mengangkat tema “Ekologi Rempah-Rempah dalam Krisis Iklim: Keanekaragaman Hayati, Agroforestri, dan Ketahanan Biokultural”.

“Dalam menghadapi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi lingkungan, kita perlu melihat rempah lebih dari sekadar produksi dan perdagangan,” ujar Muammar.

Menurutnya, lanskap rempah berkaitan erat dengan hutan, lahan pertanian, kebun tradisional, serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan antargenerasi. Rempah juga hadir dalam tradisi makanan, ritual, pengobatan, dan cerita masyarakat.

Muammar menilai krisis iklim menjadi alasan untuk meninjau kembali cara manusia mengelola alam. Karena itu, riset lintas disiplin perlu berjalan bersama penghargaan terhadap pengetahuan komunitas lokal.

“Kita membutuhkan percakapan interdisipliner dan yang terpenting, kita perlu mendengarkan serta menghargai pengetahuan lokal. Pengetahuan menjadi lebih kuat ketika dibagikan lintas disiplin ilmu, budaya, dan generasi,” katanya.

Ia juga mengapresiasi kepercayaan kepada UIM Al-Gazali sebagai salah satu tuan rumah IFSR 2026. Muammar berharap forum tersebut membuka peluang kerja sama yang lebih luas, termasuk pembentukan Pusat Studi Jalur Rempah.

“Melihat perkembangan forum internasional ini, kami berharap dapat menjalin kolaborasi yang lebih erat melalui pembentukan Pusat Studi Jalur Rempah,” ujarnya.

  • Bagikan