Moderasi Beragama

  • Bagikan

Sejauh mana kita memupuk dan menyerap kecerdasan Nabi.

Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)

MAKASSAR,RAKYATSULBAR.COM – Rasulullah Muhammad Saw adalah figur sentral dan idola umat manusia. Apabila Julius Caesar dikenal dunia dengan semboyan vini, vidi, vici, Abraham Lincoln dengan manifesto Freedom of Amerika, Revolusi Perancis mengusung moto liberte, egalite, dan fraternite, maka Baginda Rasulullah Saw mengusung stongking humanisme, insaniyyah.

Tak tersangkal, Nabi merupakan teladan utama dalam mengajarkan nilai-nilai humanisme universal seperti kasih sayang dan cinta, keadilan sosial, persaudaraan dan kesatuan hingga penghormatan kepada hak-hak orang lain.

Betapa tidak, Al-Quran menjuluki Nabi Muhammad wa innaka ala khuluqen adzim, tidak ada lagi kata yang mampu mendeskripsikan kesempurnaan kemakhlukannya. Beliau berdakwah tidak hanya di masjid, melainkan juga disertai dakwah budaya, yaitu: mewujudkan dakwah Ilahiah dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Memaafkan orang Badui yang buang air kecil dalam masjid, menyuapi orang Yahudi tuna netra, memaafkan Du’tsur Al Harits yang akan membunuhnya, membiarkan dirinya dicambuk oleh Ukhasyah dan berbagai kemuliaan budi pekerti sebagai pertanda keagungan akhlak beliau.

Selama masa Kenabian, Rasulullah tak sungkan mengajak dialog dengan pemimpin agama lain, seperti Yahudi dan Kristen, menyambut dan menghormati utusan dari Najran (Yaman) yang beragama Kristen serta menghargai ilmu pengetahuan dan kebudayaan non-Muslim. Teladan lainnya, Muhammad menghormati hak-hak minoritas non-Muslim di Madinah.

Beralasan pemuka dunia Thomas Carlile mendapuk Rasulullah sebagai tokoh dunia. Adapun Will Duran angkat topi kepada Muhammad karena jumlah pengikutnya dari berbagai negara. Sementara Robert Kyosaki mengagumi dari aspek ekonomi: Rich Dad, Poor Dad. Bahkan Michael Hurt menempatkan Muhammad peringkat pertama dalam 100 tokoh dunia paling berpengaruh dalam sejarah.

Baginda Rasul selaku patron paripurna dalam kesalehan individu sekaligus dibarengkan dengan kesalehan sosial. Nabi berdakwah tidak sebatas di atas podium, akan tetapi disertai dakwah budaya, yaitu mewujudkan dakwah Ilahiah dalam kehidupan sosial sehari-hari, seperti adagium tersohor pernah diungkapkan oleh ulama besar Persi, Jalaluddin Rumi: Your daily life is your mosque, kehidupan sosial kamu sehari-hari adalah pengejawantahan dari ibadah ritualmu. Idealitas Islam yang komperhensif, terjadinya equilibrium antara kedamaian diri (kesalehan pribadi) dan keharmonisan masyarakat (kesalehan sosial).

Benar titah Tolstoy, filsuf dan penulis Rusia: Jangan ceritakan tentang agamamu kepadaku. Izinkan aku melihat agamamu dalam tindakanmu. Jika kamu merasakan sakit, kamu masih hidup. Tapi, jika kamu merasakan sakit orang lain, kamu manusia. (*)

  • Bagikan