Pemenang Kehidupan

  • Bagikan

Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali, Presidium IAPIM, dan Ketua ISMI Bali)

Senantiasa bersyukur dalam segala cuaca, hidup pada saat benar-benar nyata.

Seseorang yang bijak pernah ditanya, apakah yang paling membuatnya bingung dalam hidup ini? Jawabannya adalah manusia. Karena manusia mengorbankan kesehatannya demi uang lalu mengorbankan uangnya demi kesehatannya. Manusia diliputi kekhawatiran dengan masa depannya sampai mereka tidak sempat lagi menikmati hari-harinya.

Manusia makhluk multidimensi. Makin modern kehidupan, kian tinggi tingkat depresi dan alienasinya. Betapa tidak, prevalensi bunuh diri di dunia semakin tinggi dari tahun ke tahun.

Belum lagi tekanan sosial, perubahan iklim yang ekstrem, bencana, konflik dan perang hingga aneka rupa penyakit membikin manusia nelangsa dan nestapa. Ini seperti buah simalakama. Dia pesimis menatap hidup di masa depan dan tidak punya sweet memory di masa lampau. Banyak yang hidup seakan-akan berada di persimpangan jalan, penuh ambiguitas. Jika suatu saat dipanggil malaikat maut, bakal mati tanpa benar-benar dapat menikmati apa itu hidup yang sesungguhnya.

Ketika lahir kedua tangan kita kosong. Saat meninggal kedua tangan kita juga hampa. Waktu datang dan waktu pergi begitu saja, tanpa peduli sebagaimana siklusnya. Kita pergi tidak membawa pesan dan kesan apapun.

Sebab itu renungan Tahun Baru Hijriyah dapat menjadi cerminan untuk selalu waskita. Jangan lupa diri karena sudah merasa kaya dan mendapat kedudukan yang bonafid dan mentereng. Di sisi lain, bagi yang miskin dan hina, jangan sekali-sekali merasa minder.

Bukankah kita semua hanya tamu? Dan semua milik kita hanyalah pinjaman sementara, yang sewaktu-waktu bisa menguap dan melayang seperti udara. Tetaplah rendah hati seberapapun tinggi kedudukan yang diemban. Tetaplah percaya diri seberapapun kekurangan kita.

Perkaranya, kita hadir tidak membawa apapun. Dan juga kita pasti kembali dan tidak membawa apa-apa. Hanya pahala kebaikan atau dosa kejahatan yang akan menyertai. Datang ditemani tangis keharuan, pergipun ditemani isak tangis.

Karenanya, tetaplah bersyukur. Dalam segala cuaca, hiduplah pada saat benar-benar ada dan nyata untuk kita yaitu; saat ini sekarang. Bukan dari hantu bayang-bayang masa lalu. Apalagi dijangkiti pesimisme meneropong masa depan yang yang tak pasti dan sulit dijangkau.

Pemenang kehidupan adalah manusia yang tetap merasa adem, sejuk di tempat gerah. Mereka tetap manis di tempat pahit. Mereka tetap merasa kecil walau ia seorang pembesar. Merasa tenang walau di tengah badai yang paling hebat sekalipun.

Semoga kita semua menjadi pemenang kehidupan yang sesungguhnya di awal Tahun Baru Hijriyah 1442.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu menyatakan dalam syair hikma:

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَابْنَ آدَمَ بَاكِياً وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُوْرًا فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ إِذَا يَكُوا فِي يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكاً مَسْرُوراً

Saat bunda melahirkanmu, engkau menangis, sementara orang-orang sekeliling menyambutmu dengan tawa gembira. Berjuanglah, hingga saat mautmu tiba, mereka manangis, sementara engkau tertawa ria. (*)

  • Bagikan