MAMUJU, RAKYATSULBAR.COM— Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Mamuju melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Kader dalam Upaya Pencapaian Target Nasional Eliminasi Tuberkulosis pada Wilayah Kerja Puskesmas dengan Kasus TB Tertinggi di Kabupaten Mamuju”, pada 1 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 kader kesehatan serta penanggung jawab program tuberkulosis dari Puskesmas Binanga dan Puskesmas Rangas, Kabupaten Mamuju. Pelibatan kader dan pengelola program TBC puskesmas diharapkan dapat memperkuat upaya penemuan terduga TBC, rujukan pemeriksaan, pendampingan pasien, serta penyampaian informasi yang benar kepada masyarakat.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menerapkan pengetahuan dan kompetensi dosen untuk membantu mengatasi permasalahan kesehatan di masyarakat. Kader dipilih sebagai sasaran kegiatan karena mempunyai kedekatan langsung dengan masyarakat dan berperan penting sebagai penghubung antara warga dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Materi pertama disampaikan oleh Fahrul Islam, S.K.M., M.K.M., dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Mamuju sekaligus ketua tim pengabdi. Materi yang diberikan membahas penyegaran pengetahuan tentang TBC dan faktor risiko lingkungan melalui metode ceramah interaktif dan tanya jawab.
Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh penguatan mengenai pengertian TBC, gejala yang perlu diwaspadai, cara penularan, kelompok berisiko, pemeriksaan, pengobatan, serta kondisi lingkungan yang dapat meningkatkan risiko pajanan. Kader juga diarahkan untuk memahami bahwa kondisi rumah bukan penyebab langsung TBC, tetapi ruangan yang tertutup, pengap, padat, dan memiliki pertukaran udara yang kurang dapat meningkatkan peluang pajanan apabila terdapat sumber penularan.
Materi kedua disampaikan oleh Humairah Tahir, S.K.M. dari Komunitas Penabulu–STPI Provinsi Sulawesi Barat. Materi ini berfokus pada pemberdayaan kader dalam penemuan terduga TBC dan pendampingan pasien. Penyampaian dilakukan melalui ceramah interaktif dan diskusi kasus agar peserta mampu memahami situasi yang dapat ditemui dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Pada sesi tersebut, kader dibekali pemahaman mengenai cara mengenali warga yang memerlukan pemeriksaan, memberikan edukasi tanpa menetapkan diagnosis, membantu proses rujukan, menjaga kerahasiaan pasien, serta memberikan dukungan selama pasien menjalani pengobatan. Kader juga diingatkan agar menggunakan bahasa yang tidak menghakimi dan tidak menimbulkan stigma terhadap orang dengan TBC.
Melalui kegiatan ini, kader diharapkan semakin siap menjalankan perannya dalam mengenali gejala, memberikan edukasi, menghubungkan masyarakat dengan puskesmas, mendampingi pasien, serta berkoordinasi dengan penanggung jawab program TBC. Sinergi antara perguruan tinggi, puskesmas, komunitas, dan kader menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten Mamuju.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pencapaian target eliminasi TBC membutuhkan keterlibatan aktif berbagai pihak. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, kader dapat menjadi penggerak di tingkat masyarakat untuk mendorong penemuan kasus lebih dini, mendukung keberlanjutan pengobatan, dan mengurangi stigma terhadap pasien TBC. (*)








